
Hari ini Zie dan Alma pergi bersekolah seperti biasanya, ia sudah rapi dengan seragam nya dan duduk manis di dalam mobil. Tidak lama kemudian mereka sampai di sekolah, Zie dan Alma bergegas turun dan langsung lari menuju kelas mereka.
"Aduh cantiknya anak Bu Ziva dan Pak Vano," guru Zie bernama Marni itu mengelus pipi Zie, ia tidak mau mengatakan Zie anak nya karena urusan ya bisa panjang. Setelah kejadian kemarin.
"Ibu guru gimana sih, katanya semuanya kalau di sekolah anak Bu guru....." Zie protes dan terlihat tidak suka dengan apa yang di katakan sang guru karena gurunya plin-plan menurut Zie.
"Iya maksud Bu guru begitu," sang guru menggaruk kepala karena tidak tahu cara berhadapan dengan murid nya yang satu itu.
"Terus tadi kenapa Bu guru bilang lain?"
Sang guru merasa tersudutkan, dan tidak mungkin ia memberi penjelasan yang panjang dan lebar karena pasti hanya akan membuatnya semakin bertambah pusing.
"Zie, udah waktunya belajar.....sekarang Zie duduk ya," kata Sang guru menunjukan kursi untuk di duduki Zie.
"Iya Bu guru," Zie berjalan dan duduk di kursinya.
"Alma kamu juga duduk ya," kata sang guru pada Alma yang hanya berdiri tanpa berniat duduk.
"Bu guru aneh......" jawab Alma kesal.
"Kok aneh?" sang guru bingung.
"Zie di bilang cantik, Alma enggak. Buk guru nggak adil," Alma langsung melenggang dan duduk di kursinya, ia menunjukan wajah masamnya.
Sang guru tersenyum melihat tingkah Alma yang sama lucunya dengan Zie, hanya saja Zie lebih cerewet.
Semua murid sudah duduk di bangkunya, dan pelajaran pun akan segera di mulai.
"Anak-anak semuanya, kita belajar angka ya," terang si guru dan mulai mencontohkan beberapa huruf di papan tulis, kemudian ia berbalik dan bertanya, "Ini angka apa anak-anak?"
"Satu Bu guru," jawab murid dengan serentak
"Pinter semuanya," sang guru tersenyum bahagia karena muridnya sudah mulai pintar.
"Zie kalau satu di tambah satu berapa Nak?" tanya sang guru sambil menatap Zie.
"Satu di gendong Bu guru," jawab Zie dengan bangganya.
"Hah......" sang guru bingung dan ingin tertawa, akan tetapi ia takut Zie menangis.
"Kenapa satu di gendong Zie?" tanya sang guru penasaran.
"Karena satu nya sedang sakit kaki Bu guru," Zie menunjuk angka yang di tulis sang guru memang sedikit miring.
"Ha......" sang guru cepat-cepat keluar dari ruangan tersebut, sampai di luar ia tertawa dengan terbahak-bahak, mengingat jawaban Zie yang mampu mengocok perutnya. Setelah ia rasa tawanya hilang sang guru kembali masuk ke ruangan untuk kembali melanjutkan pelajaran.
__ADS_1
"Jadi satu tambah satu adalah dua," sang guru lebih memilih menjawab sendiri pertanyaannya, "Kalau satu di tambah dua berapa?"
"Tiga Bu guru," jawab Alma, Zie dan murid lainya.
"Betul sekali," sang guru langsung menuliskan angka tiga sebagai jawabannya, setelah itu sang guru kembali bertanya, "Satu di tambah tiga berapa anak-anak?"
Semua diam dan tidak ada yang masih menjawab nya, sang guru mengangkat tangannya dan menunjukan tangan kanannya tiga dan sebelah lagi satu jari-jari, "Ini berapa?"
"Satu, dua, tiga," seorang teman Zie menghitung ia bernama Emma, "Tiga Bu guru...."
"Ya betul Emma," kemudian sang guru bertanya jari yang satunya lagi, "Kalau yang ini berapa?"
"Sendirian Bu guru," jawab Alma.
"Kok sendirian?" tanya si guru.
"Kan dia nggak ada kawan Bu guru," tambah Zie.
"Ini satu bukan sendirian," kata si guru.
"Kalau Bu guru di rumah nggak ada disapa pun yang temani apa ibu berteman sama tivi," tanya Zie dengan gigi ompong nya.
"Nggak," jawab si guru.
"Tuh....kan ibu nggak ada temen kalau nggak ada temen namanya apa Bu?"
"Betul Bu guru....." teriak semua murid.
"Bukan satu tapi sendirian," kata Raja seorang murid laki-laki yang duduknya paling belakang.
"Ini jawabannya adalah empat, ya....." sang guru langsung menulis di papan tulis, dari pada bertanya terlebih dahulu karena ia ingin sekali menangis menghadapi muridnya, "Sekarang waktunya Ibu kasih PR, apa itu PR?" tanya sang guru.
Semuanya diam karena tidak ada yang tahu, akhirnya sang guru menjawab.
"PR adalah pekerjaan rumah, jadi Ibu kasih tugas tapi kerjakan di rumah, apa kalian mendengar Ibu?"
"DENGAR BU......."teriak semuanya.
"Iya, kalau gitu tulis semua yang di papan tulis untuk pekerjaan di rumah, semua harus selesai tidak ada yang boleh tidak mengerjakan Pr, karena yang mengerjakan Pr besok Ibu kasih pensil," jelas si guru agar semua murid nya bersemangat untuk belajar dan semua mengerjakan pekerjaannya.
Setelah murid-murid itu selesai menulis PR nya mereka langsung membereskan buku-buku nya dan memasukannya ke dalam tas.
"Ibu mau duduknya yang paling rapi yang pulang duluan ya," kata sang guru ia ingin muridnya di siplin.
Semua murid duduk dengan rapi, karena semuanya ingin pulang duluan.
__ADS_1
"Alma kamu boleh pulang."
"Iya Bu," Alma mendekati sang guru dan mencium tangan gurunya.
"Raja pulang."
"Emran."
"Emili."
"Susanti."
Semua murid habis keluar meninggalkan Zie sendiri di ruangannya, "Zie sini dekat ibu," sang guru bergegas mendekatinya.
"Iya Bu guru," Zie berdiri mendongkak menatap sang guru menantikan apa yang akan di katakan oleh sang guru.
"Zie mau Ibu guru kasih permen nggak?" tanya sang guru.
"Nggak Bu," Zie menggeleng.
"Kenapa?" ini membuat sang guru bingung, karena biasanya anak-anak suka permen tapi kenapa Zie tidak.
"Nanti Bunda marah, soalnya gigi Zie abis ompong karena banyak makan permen," terang Zie dengan wajah polosnya.
"Zie mau apa dong?" tanya si guru.
"Mau PR Zie cepat ciap," jawab Zie setelah cukup lama memikirkan keinginannya.
"O....nanti kamu siapkan saja di rumah."
"Iya Bu."
"Zie, sopir kamu itu namanya siapa?" tanya sang guru yang sepertinya tertarik pada sopir Zie yang cukup tampan itu.
"Cie Bu guru nanyain Om Bayu....." Zie tertawa lebar sambil mengejek sang guru.
"Hus.....jangan kencang-kencang," sang guru meletakan jari telunjuknya di atas bibir meminta Zie untuk diam.
"Cie Bu guru....." Zie malah mengejek sang guru.
"Kalau Zie mau diam Bu guru bakalan bantu Zie buat nyiapain Pr," tawar sang guru.
"Okehhhhh....." Zie mengangguk setuju.
"Toss dulu dong."
__ADS_1
"Toss."
"Kamu sekarang pulang ya," kata sang guru sambil mengantarkan Zie naik ke mobil karena sang guru ingin melihat lebih dekat wajah sopir Zie yang cukup tampan itu, "Da Zie sampai jumpa besok."