
"Mama Ziva mau di bawa kemana?" tanya Vano.
"Mau di bawa ke rumah Mama" jawab Sinta.
"Ma terus kalau Mamah bawa Ziva gimana dengan Vano"
Kata Vano yang saat ini sudah berada di dekat mobil Sinta. Vano bersandar di daun pintu mobil untuk menghalangi Sinta yang akan membuka pintu mobil untuk Ziva.
"Minggir" kata Sinta sambil tangan nya menarik tubuh Vano yang bersandar di daun pintu mobil.
"Mama apa sih? Ziva itu istri Vano. Jadi dia tidak boleh pergi tanpa seizin Vano" kata Vano yang tetap berdiri di depan pintu mobil itu.
"Minggir" kata Sinta setelah Vano bergeser Sinta mulai membuka pintu dan menyuruh Ziva duduk di kursi mobil. Dan Sinta kembali menutup nya.
"Ma jangan bawa Ziva" kata Vano pada Sinta yang kedua nya masih berada di samping mobil itu.
"Kamu kasar sekali sama istri sendiri biar Ziva Mama bawa. Dan kamu bisa tau rasa nya hidup tanpa Ziva!" kata Sinta.
"Mama apa sih" kata Vano.
"Ziva berani kau ikut Mama tanpa seizin ku awas!" ancam Vano.
Buk buk buk!.
Dengan membabibuta Sinta memukul kepala Vano menggunakan sendal yang ia pakai. Sungguh Sinta merasa jengkel mendengar ucapan Vano yang belum bisa merubah sipat egois nya.
"Ma sakit!" teriak Vano.
"Mama yang memaksa nya pergi kau mau apa. Dan kau tidak perlu datang kerumah Mama selama kau belum bisa menghilangkan sipat egois mu itu jangan pernah temui Ziva." kata Sinta yang kembali di kuasai emosi.
"Apa hak Mama melarang Vano bertemu istri Vano sendiri" kata Vano yang masih berusaha membela diri nya.
"Kamu berani ya sama Mama. Bocah ingusan yang baru berusia 28 tahun yang menikahi gadis 19 tahun. Kamu tau? Papa kamu saja tidak berani menentang ucapan Mama dan kamu??? Hebat sekali kamu ya ?" kata Sinta.
Setelah itu Sinta mulai mumutari mobil. Dan membuka pintu mobil ia duduk di samping Ziva.
"Adi jalan" kata Sinta memerintahkan sopir nya.
__ADS_1
"Mama" teriak Vano.
Kini Sinta sudah membawa Ziva pergi dan meninggalkan Vano yang terus berteriak di halaman rumah nya. Tidak berkisar lama Arman datang bersama dengan Seli. Seli turun dari mobil dengan wajah pucat karena ia melihat Vano yang menatap nya tajam.
"Kenapa kau berani sekali menbawa Ziva menemui Firman?" tanya Vano dengan wajah datar nya dan terlihat begitu dingin.
"Saya minta maaf tuan" kata Seli masih dengan tubuh gemetar nya.
"Kau!!" kata Vano yang mulai mendekat Seli.
Arman mulai turun dari mobil. Dan ia berjalan mendekati Vano. Kemudian ia berdiri di antara Vano yang menatap tajam Seli. Dan Seli yang menunduk ketakutan melihat wajah sangar Vano.
"Bos apa kau masih memandang aku?" kata Arman yang masih berdiri di hadapan Vano sambil berusaha melindungi Seli.
"Apa maksud mu?" tanya Vano.
"Mama Sinta sudah membawa Ziva tadi pergi aku melihat nya sendiri. Apa kau mau adik angkat mu ini juga pergi meninggalkan mu?" tanya Arman yang tidak mau kalah menatap Vano dengan tajam.
"Kenapa kau membela dia" kata Vano yang menguatkan rahang nya.
"Karena ...... " ucapan Arman terheti karena ia pun bingung bagai mana cara mengatakannya. Kalau hanya Vano yang berada di sana tidak masalah bagi Arman. Tapi yang membuat nya menjadi masalah di sana juga ada Seli dan ia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya menyukai Seli.
"Bos sudah lah dia kan hanya wanita. Tidak usah di buat rumit. Lagi pula itu terakhir kali nya nyonya muda menemui Firman" kata Arman yang berusaha mencari jawaban yang tidak membuat dirinya merasa malu.
"Kau yakin hanya itu?" tanya Vano.
Vano mulai mengerti dengan pembicaraan Arman dan Ziva tadi pagi. Ia yakin Arman sudah jatuh hati pada sahabat Ziva. Dan ia tidak mau membuat Seli merasa takut dengan nya karena ia sudah menggap Arman adik kandungnya sendiri.
"Iya" jawab Arman singkat.
"Baik kali ini kau aku maaf kan. Tapi jangan pernah mengulangi lagi" kata Vano.
"Ya tuan. Sekali lagi saya minta maaf" kata Seli yang terus menundukan kepalanya.
"Arman antar dia pulang" kata Vano.
"Ya bos" jawab Arman dengan hati yang bahagia.
__ADS_1
Vano yang masih tertinggal sendiri lebih memilih mengambil kunci mobil nya dan ia akan kerumah Sinta untuk menjemput Ziva. Bagaimana pun caranya ia akan merayu Sinta agar mengizin kan Ziva untuk pulang bersama dengan nya.
"Ziva" gumam Vano yang kini sedang mengemudi dengan kecepatan sedang.
Vano terus mengemudi hingga tiba-tiba seorang wanita melitas di jalanan dan tanpa bisa di elak lagi.
Bukk!.
Vano menabrak wanita tersebut. Ia berhenti dan turun dari mobil. Vano shock ternyata wanita yang ia tabrak adalah Keyla.
"Keyla" Vano langsung mengangkat Keyla kedalam mobilnya dan membawa Keyla menuju rumah sakit. Vano sebenarnya malas untuk membawa Keyla ke rumah sakit hanya karena ia merasa bertanggung jawab karena sudah menabrak Keyla.
Kini Keyla sudah berada di rumah sakit. Dan ia sedang di periksa oleh Dokter. Vano segera menghubungi Arman ia ingin memita Arman untuk menyelidiki Keyla. Ia yakin ini bukan suatu kebetulan dan ia tidak ingin bila Ziva salah paham padanya.
"Kalian jaga Keyla" kata Vano.
"Ya bos" jawab pengawal yang di perintahkan Vano menjaga Keyla.
Setelah mengatakan itu Vano bergegas pergi dari rumah sakit itu bahkan tanpa menunggu Dokter yang memeriksa Keyla selesai memeriksa Keyla. Ia benar-benar tidak ingin masuk dalam permainan Keyla.
Kini Vano kembali mengemudi menuju rumah orang tua nya. Sambil ia memikirkan rencana apa yang Keyla susun untuk menarik perhatiannya. Vano tersenyum miring mengingat insiden saat ia menabrak Keya.
"Tidak mempan Keyla" gumam Vano.
Kini Vano sudah memasuki halaman rumah orang tua nya. Ia menghentikan laju mobil nya dan turun.
"Mama" teriak Vano.
"Kenapa kau berteriak" tanya Hardy yang sedang duduk membaca surat kabar sambil duduk di sofa ruang tamu.
"Mama di mana Pa?" tanya Vano.
"Mama di mall" jawab Hardy.
"Di mall?" tanya Vano tidak percaya.
"Ya baru saja Mama kamu menghubungi Papa. Kata nya Mama dan Ziva akan pulang terlambat karena keduanya ingin shoping dan ke salon" jawab Hardy.
__ADS_1
Huufp.
Vano menarik napasnya dengan kasar dan menghenpaskan tubuh nya di sofa. Ia sedang berpikir kesar untuk meluluhkan hati Sinta agar bisa membawa Ziva pulang namun ternyata Sinta malah bersenang-senang dengan Ziva di mall tanpa memikirkan dirinya yang sedang merindukan pelukan Ziva.