
Saat ini Vano dan Ziva sedang bersantai sambil menonton televisi, menunggu Zie pulang bersama dengan Sinta, namun anehnya sampai hari mulai gelap pun Sinta juga belum pulang.
"Yang Mas kenapa punya pirasat nggak enak ya?" Vano kasak kusuk perasaannya tidak tenang.
"Kenapa Mas?" tanya Ziva yang duduk di samping Vano.
"Nggak tau yang, Zie sama Mama lama banget ya pulangnya."
"Yang coba telpon Mama." Pinta Vano.
"Iya Mas," Ziva mengambil ponsel yang tergeletak di hadapannya dan mencari kontak sang mertua, tapi sayang ponsel Sinta tidak aktif.
"Kenapa yang?" tanya Vano.
"Mas ponsel Mama nggak bisa di hubungi," Ziva ikut panik apalagi Zie ikut bersama Sinta.
Tiba-tiba ponsel Vano berdering, ia melihat tidak ada nama sipenelpon.
"Halo," jawab Vano dengan suara berat dan tertahan dengan tangannya mematikan ****** rokok pada asbak.
.............
"Jangan main-main dengan saya!" jawab Vano.
BIIP.
Panggilannya terputus sepihak oleh si penelpon.
"Mas kenapa?" tanya Ziva, melihat raut wajah Vano yang mendadak berubah.
Vano menatap Ziva ia tidak mungkin mengatakan pada istrinya itu kalau putri mereka dan Mamanya di sandra oleh seseorang, Vano tidak mau Ziva jadi shock apa lagi Ziva tengah mengandung hal itu bisa berdapak pada kandungan Ziva.
"Mas ada kerjaan, Mas keruang kerja sebentar ya."
"Iya Mas."
Ziva merasa aneh dengan suaminya, tapi ia percaya saja. Sementara Vano yang sudah masuk keruangannya segera menghubungi Arman.
"Man lu dimana?" tanya Vano tho the point saat panggilannya sudah terhubung.
"Di jalan boss, mau pulang," jawab Arman yang masih berada di rumah Seli.
__ADS_1
"Lu sama Seli?"
"Iya, tapi gue udah mau pulang," jawab Arman.
"Lu bawa lagi Seli kemari, buat teman Ziva, Mama sama Zie di sekap si Hartono brengsek itu." kata Vano menjelaskan dengan cepat agar tidak memperlambat waktu.
"Ok," Arman mematikan panggilannya, dengan segera ia kembali masuk kerumah Seli.
"Kok lu belum balik betah banget di rumah gue" kesal Seli.
"Sel, saya nggak punya banyak waktu. Kamu ganti baju sekarang dan ikut saya," kata Arman yang juga sangat khawatir pada Sinta dan si kecil Zie.
"Ogah," Seli menolak.
"Seli, kamu temani Ziva di rumah Zie sama Mama Sinta di sekap." Tampaknya Arman tidak bisa menyembunyikan hal itu dari Seli, sebab tidak ada waktu untuk berdebat. Mengingat wajah Zie yang menangis membuat Arman merasa emosinya memuncak.
"Di culik?" Seli masih mecerna ucapan Arman dengan sangat terkejut.
"Sel, cepat kita tidak punya banyak waktu," tutur Arman.
"Iya," Seli berlari kekamar dan memakai baju apa saja yang dekat dengannya, "Bunda, Seli sama Arman pergi ya," teriak Seli.
"Loh mau pergi lagi," tiba-tiba Lastri keluar dari kamar sambil membetulkan kerudungnya saat mendengar suara sang anak malam-malam baru pulang tapi sudah pamit pergi lagi.
"Ya sudah hati-hati," kata Lastri.
Kini Arman dan Seli sudah dalam perjalanan menuju kediaman Vano.
"Seli kamu jangan bilang Ziva tentang penculikan ini ya," kata Arman mengingatkan Seli sebelum keduanya turun dari mobil.
"O, jadi Ziva nggak tau?"
"Nggak, Ziva lagi hamil terus sekarang dia lagi sakit. Jadi Vano minta di rahasiakan sampai Zie dan Mama di bawa pulang, kamu ngertikan?"
"Iya, aku ngerti," Seli mengangguk sambil membuka pintu mobil.
"Ingat tetap tenang saat bersama Ziva dan ponsel kamu jangan jauh-jauh."
"Iya, aku turun dulu." kesal Seli karena Arman memegang tangannya.
Seli melangkah masuk sambil berusaha tetap tenang di hadapan Ziva.
__ADS_1
"Seli?" Ziva sedikit bingung tidak biasanya Seli datang tanpa menghubunginya.
"Apa?" Seli duduk di samping Ziva.
"Tumbel nggak ngabarin dulu?"
Seli langsung mengajak Ziva bercerita seperti biasanya. Agar Ziva tidak bingung dan curiga.
****
"Arman kenapa kita bisa kecolongan begini?" Vano sangat kesal sekali, selama ini ia menjaga Ziva dan juga rumahnya dengan sangat ketat. Tapi ternyata orang tersebut malah menjadikan Sinta tawanannya.
"Mereka mencoba menculik Ziva dan si kembar boss, tapi pengawal selalu melindungi mereka, kita tidak pernah berpikir Mama akan menjadi korban." kata Arman.
"Arman kamu telpon Papa," perintah Vano, Vano tidak mungkin tidak melibatkan Hardy sebab Mamanya yang kini menjadi tawanan.
"Sudah Papa sedang dalam perjalanan pulang," jawab Arman.
Hardy yang sedang melakukan rapat langgsung meninggalkan meja rapat karena ia terkejut mendengar istri dan cucu kesayangannya di culik.
"Kita berangkat sekarang kasihan Zie masih terlalu kecil. Bagaimana kalau ia menangis tanpa henti dan mereka memukulnya," kata Arman.
Vano tampaknya tidak bisa lagi berpikir jernih, karena Zie yang masih balita di tahan segerombolan orang yang menginginkan harta Ziva, bagaimana bila terjadi sesuatu pada Zie. Ziva pasti akan gila, pikiran-pikiran itu sangat membuat konsentrasi Vano terganggu.
"Iya Man, ayo cepat," Vano dan Arman berangkat menuju tempat yang di inginkan Hartono, beserta dengan membawa surat berharga yang diinginkan Hartono.
Untuk saat ini Vano hanya menurut pada ide Arman, otak Vano mendadak buntu saat membayangkan anaknya disakiti, juga Mamahnya yang sedang ketakutan di sana.
Di tengah perjalanan Arman menghentikan laju kendaraannya, sebab Hardy sudah ada bersama dengan Bilmar juga Aran.
"Kita kemana Arman?" tanya Hardy tidak kalah panik.
"Ke ujung hutan sana Pah, tapi kita nggak bisa rame jadi Papa sama kita, sementara Aran dan Bilmar ngikutin kita sama orang kita yang lainnya dari jarak jauh dan jangan sampai mereka curiga," kata Arman.
"Semangat bro, Mamah sama Zie baik-baik aja," Kata Bilmar yang melihat Vano yang terlihat sangat cemas.
"Ya," jawab Vano dengan lesu.
"Naik Pah," kata Arman.
Arman, Vano dan Hardy duluan sementara yang lain mengikuti perintah Bilmar, setelah perjalan selama 1 jam karena mereka benar-benar di tengah-tangah hutan, Arman sudah melaju dengan kecepatan tinggi namun tetap saja memakan waktu. Kini mereka sudah berada di tempat yang sesuai dengan arahan Hartono.
__ADS_1
Vano, Hardy dan Arman langsung turun dari mobil, Hardy sangat marah dan sepertinya Hartono tidak tahu bertapa kejamnya mafia itu, atau mungkin Hartono si mantan pengacara itu tidak pernah tahu mereka kini sedang berurusan dengan mafia berdarah dingin.
Sudah cukup lama hardy tidak merasakan segarnya darah manusia, amisnya darah saat membasahi tubuh dan sepertinya Hartono meminta hal itu. Hardy yang sudah lama meningalkan dunia gelap itu karena ia tidak mau kalau sampai Sinta tau siapa dirinya, namun kali ini tampaknya ia kembali menjadi seekor harimau yang buas tanpa ampun sedikit pun.