Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 131


__ADS_3

"Apa yang kau harapkan dari wanita itu Arman? Dia hanya gadis biasa, tidak ada apa-apanya bila di bandingkan dengan aku!" teriak Yuli.


"Yuli cukup ya, jangan pernah kau menghinanya."


"Aku curiga jangan-jangan dia sudah memakai ilmu pelet untuk memikat mu."


"Heh," terdengar suara Seli yang langsung masuk dan mendekati Yuli.


PLAK.


Tanpa ada basa-basi tangan Seli melayang begitu saja di pipi Yuli, membuat Yuli reflek memegang pipinya yang terbawa kesamping.


"Sayang," Arman mencoba menenagkan Seli dengan cara memeluk Seli.


"Apa, kau mau membelanya, iya?" teriak Seli di wajah Arman, Seli berkacak pinggang di hadapan Arman dan menunjukan wajah garangnya.


Arman mengurungkan niatnya untuk memeluk Seli, Arman malah mundur dua langkah dan mengangkat kedua tangannya.


"Enggak yang," kata Arman mendeguk saliva ia baru tahu ternyata istrinya sangat menyeramkan ketika marah.


Seli berbalik dan kembali menatap Yuli dengan pandangan yang tajam.


"Heh, kenapa kalau aku hanya wanita biasa yang tidak sebanding dengan mu" Seli menunjuk wajah Yuli tanpa rasa takut.


"Lihat Arman wanita seperti apa yang kau nikahi, tidak ada sofan santun dan etika," Yuli malah memikirkan cara untuk menjatuhkan Seli di hadapan Arman.


"Kau berbicara etika? Memangnya kau punya etika? Hah," Seli tidak mau kalah ia mendengar semua yang di katakan Yuli, hingga emosi Seli mendidih dan ingin meremas habis Yuli.


"Dasar wanita gila!" ketus Yuli.


Seli yang lebih pendek dari Yuli tidak takut sedikit pun, ia semakin kesal dan maju mendekati Yuli sambil melipat lengan kemeja merah yang ia pakai.


"Kau bilang aku gila?" tanya Seli.


"Kau memang gila! Dan aku yakin kau memakai pelet untuk memikat Arman, kalau tidak dia tidak akan sudi menikahi mu," kata Yuli lagi.

__ADS_1


Seli menarik rambut Yuli yang panjan dan bergelombang, terurai indah, "Oh ya, aku gila ya aku memang gila dan kau mau tau aku segila apa?" tanya Seli sambil tangannya mencengkram kuat rambut Seli ke belakang, dan sebelah lagi mencengkram kuat dagu Yuli.


"Sakit!," Yuli berusaha lepas dari Seli tapi tangan Seli sangat kuat menggulung rambut Yuli di tangannya hingga sulit di lepaskan, bahkan kepala Yuli ikut terbawa ke samping.


"Dasar perempuan kurang ajar, apa kau tidak bisa mencari lelaki lain sampai harus menggoda suami orang!" bentak Seli.


"Sakit lepas hiks, hiks," Yuli berpura-pura melas dan menangis berharap Arman membelanya.


"Sayang, Seli udah ya," Arman bukan kasihan pada Yuli, tapi ia tidak mau istrinya sampai balik di serang Yuli dan meninggalkan lecet.


Seli melepas Yuli dan menghempaskannya kelantai.


"Auu," ringis Yuli merasa sakit.


Seki menatap Arman yang memegangnya dari samping, "Apa kau membelanya," tanya Seli kesal.


"Sayang Kakak nggak belain dia, cuman udah malu kalau sampai orang dengar. Kita lagi di kantor," Arman lagi-lagi berusaha menenangkan sang istri.


"Kalau Kakak mau belain dia bilang, biar Seli pulang aja ke rumah Bunda. Dan Kakak bebas sama dia," jawab Seli.


Arman lagi-lagi mendeguk saliva tidak mengerti harus mengatakan apa, "Sayang jangan bicara begitu ya," Arman tidak mau keras pada Seli apa lagi di hadapan Yuli, Arman hanya akan berbicara keras bila hanya berdua saja dengan Seli itu pun hanya untuk menggertak Seli, dan ia takut Yuli berpikir Arman membelanya bila ia memarahi Seli, akhirnya Arman diam saja menjadi penonton.


"Yuli sebaiknya kau pergi saja dari sini dan jangan pernah temui aku lagi," kata Arman dengan tegas.


"Kau mengusir ku?" tanya Yuli dengan mata berkaca-kaca, "Kau memilih wanita tidak punya etika seperti ini," Yuli mengarahkan jari telunjuk pada Seli, "Dan sekarang kau mengusir ku?," Yuli menepuk dada seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Heh, apa kau tidak dengar apa yang di katakan suami ku, kau bilang aku tidak punya etika, lalu wanita seperti apa yang punya etika? Seperti kau? Yang mengharap cinta dari suami orang lain dan menghina istrinya habis-habisan, kau pikir aku tidak berani dengan mu."


Seli kembali maju lagi mendekati Yeni, sementara Arman tidak tau harus apa dan akhirnya ia diam dan menjadi penonton saja.


"Heh kau mau apa," Yuli mendadak merinding melihat Seli yang berkacak pinggang semakin mendekatinya.


PLAK.


PLAK.

__ADS_1


Seli menampar kedua pipi Yuli, ia ingin Yuli setelah ini tidak lagi mengganggu suaminya.


"Au," ringgis Yuli memegang kedua pipinya.


"Aku peringatkan pada mu, jangan pernah gangu suami ku lagi atau bibir mu yang cantik ini tidak akan berbentuk lagi!" kata Seli.


"Akan aku pastikan kau akan masuk jeruji besi setelah apa yang kau lakukan ini, aku akan melaporkan mu pada polisi," kata Yuli.


"Terserah kau saja, kalau perlu kau lapor juga pada nenek moyang mu, aku tidak takut!" teriak Seli.


"Arman tolong aku hiks, hiks," Yuli berlari mendekati Arman dan ingin memeluk Arman, tapi Arman menghindar.


"Kak Arman kau mau aku yang pergi dari sini, atau kau suruh dia pergi dari sini," tutur Seli dengan mengeratkan giginya.


"Yuli aku bilang keluar dari sini dan jangan sentuh aku!" perintah Arman dengan tegas telunjuk Arman mengarah pada pintu.


"Arman aku korban wanita sialan ini dan kau malah mengusir aku?" tanya Yuli.


"Kau bilang aku wanita sialan?" Seli berjalan mendekata Yuli ia masuk di tengah, antara Arman dan Yuli yang tadinya saling berhadapan, tubuh Arman yang tinggi di belakangi tubuh Seli yang kecil dan mungil itu.


"Iya kau masuk di antara kami dan kau merebut Arman dari ku!" teriak Yuli.


Seli berbalik menatap Arman, "Kak Arman apa yang di kataksn Yuli itu benar?" kata Seli.


"Sayang tenang ya, aku mencintai mu dan sampai kapan pun akan begitu," Arman memeluk Seli, Seli juga memeluk Arman di hadapan Yuli.


"Kalau Kakak cinta sama Seli, usir dia dari sini!" kata Seli.


"Arman apa kau tega mengusir ku," tanya Yuli takpercaya bahkan Arman tak memarahi Seli sedikit pun.


"Yuli keluar dari sini!" Arman menarik tangan Yuli menuju pintu, "Jangan lagi kau temui aku!" kata Arman.


"Aku akan melaporkan istri mu yang gila itu ke polisi."


"Kalau kau berani maka kau akan berhadapan dengan ku!" Arman menutup pintu dan menguncinya. Tanpa perduli Yuli yang masih berada di sana, Arman tidak menyangka jika Yuli yang selama ini terkenal lembut dan anggung bisa se kasar itu.

__ADS_1


****


Jangan lupa VOTE dan LIKE.


__ADS_2