Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 93


__ADS_3

Keesokan harinya.


***


"Sel beliin martabak dong" pinta Ziva pada Seli.


"Ya, tapi aku pigi sama siapa, hari panas banget Zi. Ngak kuat aku naik motor" jawab Seli.


"Arman kamu maukan antar Seli. Beliin martabak" pinta Ziva pada Arman.


Saat ini Ziva, Seli, Arman dan Vano memang sedang duduk di gazebo. Seli sudah dari pagi berada di rumah Ziva, sedangkan Vano dan Arman baru sampai beberapa menit yang lalu.


"Ogah. Gue nggak mau" ketus Seli.


"Arman!" Ziva menaik turunkan kedua alis matanya. Menggoda Arman.


"Ayo" Arman mulai bangun dari duduknya dan berjalan duluan menuju mobil.


"Seli buru!" Ziva yang sudah bekerja sama dengan Arman mulai memaksa Seli.


"Zi itukan si Arman aja lo suruh. Nggak usah sama gue kan" Seli merasa tidak suka kalau harus berdekatan dengan Arman.


"Sel. Gue pengen lo yang beliin sama Arman" Ziva terus berusaha melanjutkan misinya, karena kalau misinya gagal. Arman akan menceritakan rahasia saat dulu bekerja sama dengan Arman. Jadi Ziva terus berusaha agar ia tidak merasa malu bila Vano tau kelakuan konyol yang pernah ia lakukan. Demi membuat Vano bertekuk lutut padanya.


"Zi" Seli terus melas agar Ziva membatalkan keinginannya yang menurut Seli sangat konyol.


"Sel lo mau ponakan lo ngences?" Ziva mulai mengeluarkan senjata ampuh.


Seli menggeleng "Ngga" dengan berat hati ucap Seli.


"Ya udah cepet Sel. Kasihan nih ponakan lo pengen banget"Ziva mulai menarik tangan Seli.


"Ya udah" ketus Seli dengan terpaksa berjalan keluar dan menuju mobil Arman.


"Sayang kamu kenapa begitu?" tanya Vano yang kini hanya tinggal berdua saja dengan Ziva.


"Hehehe. Kasihan Arman mas. Arman tuh dah kebelet banget sama Seli" memang itulah sebenarnya. Kalau tidak Arman pasti tidak akan mengancam Ziva. Menggunakan aib Ziva di jaman dulu.


Vano merapikan rambut Ziva. "Kamu baik banget yang. Mau bantuin si bujang lapuk itu" Vano merasa ada sesuatu antara Arman dan Ziva, karena ia bisa melihat Arman dengan mudahnya menggunakan Ziva sebagai alat membuat Seli dekat dengannya.


Ziva tidak tau harus menjawab apa. Ziva di buat gelagapan sendiri.


"Mas kita kan harus saling tolong menolong" Ziva berusaha tetap tenang di hadapan Vano.

__ADS_1


Vano mendekatkan wajahnya pada Ziva. "Yakin ?" Vano terus saja ingin tau. Dirinya saja selalu kalah dengan sang istri, lalu apa mungkin Ziva bisa dengan mudah di jadikan Arman alat.


Pipi Ziva mendadak merah. "Mas apa sih" Ziva mendorong wajah Vano yang terus mendekat padanya.


"Ya udah mas percaya. Tapi mas masih penasaran sih"


Di waktu yang sama dan tempat berbeda.


"Apa!!!" ketus Seli saat Arman terus mencuri pandang padanya.


Arman tersenyum samar melihat wanita yang duduk di sampingnya. Keduanya sudah resmi berpacaran, namun anehnya keduanya tidak seperti orang pacaran pada umumnya. Dan bagaimana bisa di sebut pacaran, cara jadiannya saja cukup aneh. Pasalnya Seli dengan terpaksa menerima Arman, karena itu imbalan saat Arman menolongnya di malam itu.


"Nggak usah liat-liat gue" ujar Seli dengan setengah berteriak.


Citttt!.


Arman mengerem mendadak, Seli merasa takut dan mengelus-elus dada. Lalu menatap Arman sambil berteriak.


"Heh lo bisa nyetir nggak sih" teriak Seli tepat depan wajah Arman.


Seli hendak memundurkan tubuhnya yang begitu condong pada Arman. Namun terlambat Arman menahan tengkuk Seli, Seli merasa takut Arman menatapnya tanpa exresi apa-apa. Arman mulai mendekatkan wajahnya, bibirnya mulai menyentuh bibir Seli, Seli diam mematung ia belum sepenuhnya sadar saat Arman mulai ******* bibirnya. Arman mulai menghentikan aksinya.


"Mau lagi" tanya Arman dengan menatap tajam Seli.


Satu tangan Arman masih memegang tengkuk Seli. Satu tangannya lagi mulai menarik tangan Seli, Arman mengangkat tangan Seli dan menunjukan jemari Seli yang memakai cicin berlian sesuai permintaan Seli.


"Kamu mau apalagi. Agar kamu mau menerima aku. Lihat ini" Arman menggerakan tangan Seli dan menunjukan cicin yang di pakai Seli. "Apa ada lagi yang lain kau inginkan selain ini" tanya Arman dengan mengeratkan giginya.


"Enggak. Arman sakit hiks hiks" Seli mulai berpura-pura menangis, sebenarnya ia juga ingin menangis karena merasa merinding melihat wajah sangar Arman.


"Kalau ada bilang. Jangan kau selalu kasar pada ku. Ingat kau harus menikah dengan ku. Itu sudah janji mu" Arman terus mengatakan keinginannya dengan tegas pada Seli.


"Iya. Tapi lepasin aku, sakit Arman" ucap Seli dengan suara melas.


"Coba benarkan ucapan mu tadi" pinta Arman ia paling tidak suka Seli memanggilnya dengan namanya, menurut Arman itu tidak sopan.


"Aku panggil apa?" mata Seli mulai ber-embun sepertinya akan turun hujan.


"Menurut mu!" nada bicara Arman masih begitu tegas. Arman kembali menarik tengkuk Seli dan ******* bibir gadis itu, namun tidak lama, ia hanya ingin mengertak gadis yang ia cintai itu saja.


"Sa-sayang" ucap Seli dengan terpaksa.


"Yang iklas" ketus Arman.

__ADS_1


"Sayang lepasin" Seli merasa gemetar saat memanggil Arman dengan sebutan sayang.


Arman melepaskan tengkuk Seli, setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun anehnya malah Seli menangis dengan berteriak sekencangnya.


"Hiks hiks hiks" Seli terus menangis dengan menggosok-gosok bibirnya, karena Arman menciumnya.


"Kenapa?" tanya Arman denga jenuh.


"Kau jahat, kau sudah mencuri ciuman pertamaku. Kau tau bibir ku ini sudah tidak perawan lagi" Seli meluapkan segala kekesalannya.


Arman kembali memegang tengkuk Seli dan menarik Seli mendekat padanya. "Mau lagi" tanya Arman dengan jarak yang sangat dekat.


"Engga" dengan cepat Seli menggeleng.


"Belajar sopan sama calon suami" bisik Arman di telinga Seli. Seli meremang saat merasakan bertapa hangatnya napas Arman yang menyentuh daun telinganya.


"Iya" Seli menggangguk dengan secepat-celatnya dan dengan sebanyak-banyaknya.


Setelah melepas tengkuk Seli. Arman kembali mengemudikan mobilnya untuk mencari martabak sesuai permintaan Ziva.


"Arman" panggil Seli.


Arman tidak menjawab ia hanya menatap tajam Seli.


"Sa-sa. Ck" Seli berdecak kesal mulutnya susah sekali memanggil Arman dengan sebutan sayang.


"Sayang" dengan cepat dan menutup matanya Seli memanggil Arman.


Arman tersenyum saat Seli memanggilnya sayang.


"Ya" jawab Arman dengan senyum tulus.


"Berhenti di sana ya" Seli menunjuk arah penjual sepertinya itu adalah tempat martabak langganan Seli.


"Ya" Arman menepikan mobilnya tepat di dekat penjual martabak.


"Mana" Seli menadahkan tangannya pada Arman.


"Apa" tanya Arman yang tidak mengerti.


"Duit" jawab Seli. Seli sengaja bertingkah matre agar Arman membencinya.


"Kamu matre ternyata ya" Arman mengambil dompetnya dan meletakannya di telapak tangan Seli. Mata Seli melebar, saat melihat apa yang di lakukan Arman.

__ADS_1


__ADS_2