Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 62


__ADS_3

Tok tok tok!.


Belum sempat Ziva mengatakan keinginannya pintu kamar sudah ada yang mengetuk.


"Masuk" kata Ziva dari dalam kamar.


"Nyonya muda di bawah ada nyonya Ratih dan dua adik kembar nyonya mereka semua menunggu anda untuk sarapan bersama" kata seorang Art yang bekerja di rumah besar itu.


"Em ya saya segera turun" kata Ziva pada Art itu dan setelah Art itu pergi Ziva mulai berjalan mendekati lemari mengambil pakaian yang di belikan Sinta kemarin.


"Sayang" kata Vano saat ia melihat Ziva berjalan ke kamar mandi sambil membawa baju.


"Ya Mas" jawab Ziva menghentikan langkah nya dan mulai melihat Vano yang memanggilnya.


"Ganti baju nya di sini saja, Mas kan suami kamu kenapa harus malu" kata Vano.


"Ya Mas tapi Ziva pengen di kamar mandi saja. Sebentar ya Mas" kata Ziva dan ia mulai memasuki kamar mandi dan menutup pintu dengan rapat dan tidak lupa menguncinya.


"Ya sudah" jawab Vano dengan tidak bersemangat.


Tidak berselang lama Ziva sudah selesai mengganti pakaiannya dengan dress yang baru di beli Sinta kemarin. Ziva mulai membuka pintu kamar mandi lalu ia berjalan keluar dan ia melihat Vano yang sedang duduk di ranjang sambil menunggunya.


"Mas" kata Ziva memanggil Vano.


"Istri Mas cantik sekali" kata Vano ia bangun dan berjalan mendekati Ziva.


"Terimakasih" jawab Ziva dengan senyum centil nya untuk mengoda suami nya.


"Hahaha udah makin pinter ya" kata Vano sambil mengelus kepala Ziva karena Ziva mulai berani menggodanya.


"Kan udah Mas ajarin" kata Ziva sambil bergelanjut manja di lehar Vano.


"Pinter" kata Vano sambil menarik lembut hidung mancung Ziva.


"Yuk Mas" kata Ziva mengajak Vano turun ke bawah menemui Ratih dan kedua adik kembarnya.


"Sayang sabar nanti malam ya Mas sebentar lagi ada meeiting" Vano mulai mengoda Ziva.

__ADS_1


"Issh apa sih Ziva minta kita turun ke bawah. Kenapa Mas mikirnya mesum" ketus Ziva.


"Oh Mas pikir istri Mas kangen dengan kejantanan Mas di ranjang" kata Vano sambil menaik turunkan kedua alis matanya.


"Ayo Mas" kata Ziva mulai menarik lengan Vano.


"Sayang Mas ada meeiting kamu harus tahan hanya sampai nanti malam saja" kata Vano lagi.


"Mas!!" teriak Ziva karena Vano terus menggoda nya.


"Hahahaha iya sayang sabar ya" kata Vano.


"Mas hiks hiks hiks" Ziva sudah tidak tahan mendengar godaan Vano ia mendudukan dirinya di lantai sambil menangis.


Clek!.


Pintu terbuka dan ternyata itu adalah Sinta. Sinta yang tidak mengetahui apa yang terjadi mulai merasa jengkel ia berpikir Ziva menangis karena Vano menyakiti menantu kesayangan nya itu. Sinta berjalan masuk dan membantu Ziva berdiri dengan mata nya menatap tajam Vano. Vano tidak berani berbicara ia hanya diam saja.


"Kamu!!" kata Sinta sambil menunjuk wajah Vano.


"Ma ini tidak seperti yang Mama pikirkan" kata Vano yang mulai panik. Karena ia takut malam ini ia tidak bisa memeluk Ziva tidur.


"Iya Ma Ziva nggak papa Mama" kata Ziva setelah ia berdiri di samping Sinta.


"Kamu tidak usah membela suami egois kamu ini" kata Sinta sambil menatap Vano dengan tajam.


"Tapi itu benar Ma" kata Vano.


"Mama tidak mau dengar alasan kamu" kata Sinta membentak Vano.


"Ayo Ziva kita sarapan dulu kasian cucu Mama sudah jam segini belum sarapan" Kata Sinta pada Ziva dan keduanya mulai bejalan keluar dari kamar itu meninggalkan Vano yang tiba-tiba merasa kepalanya mendadak pusing.


Ketiga nya mulai berjalan dan menuruni tangga dengan Sinta yang bergandengan dengan Ziva. Dan Vano yang berjalan di belakang kedua wanita itu.


"Kak Ziva" kata Daffa. Saat Ziva sudah berdiri di dekat meja makan.


"Kakak" kata Daffi lagi keduanya turun dari kursi yang mereka duduki dan berlari lalu memeluk Ziva.

__ADS_1


"Adik-adik Kak Ziva" kata Ziva sambil memeluk kedua adik kembarnya itu. Dan Ziva mulai mencium kedua pipi adik kembarnya itu.


"Ayo kita sarapan dulu" kata Sinta.


Daffa dan Daffi mulai melihat Ziva keduanya bingung Sinta itu siapa. Kalau Anggia yang membawa mereka kesana ia sudah tahu itu adalah Dokter untuk merawat Ziva tapi ia bingung Sinta itu siapa.


"Itu Mama Sinta. Dan Mama Sinta itu Mama nya Kak Vano" kata Ziva.


Lalu Ziva mulai memperkenalkan semua keluarga Vano yang sudah duduk di kursi meja makan itu, termasuk Hardy dan juga kedua orang tua Bilmar juga ada di sana. Dan Daffa juga Daffi menggangguk mengerti.


"Sekarang Daffa dan Daffi cium tangan Mama Sinta. Mami Ratih terus Papi Rian dan papa Hardy" kata Ziva.


Daffa dan Daffi mengganguk mengerti dan ia mulai mencium punggung tanggan orang tua yang berada di sana.


"Ayo kita mulai sarapannya" kata Sinta semuanya sudah duduk di kursi meja makan termasuk Anggia juga ikut.


"Mbak Sinta enak ya" kata Ratih sambil mengunyah nasi goreng yang ia masukan kedalam mulut nya.


"Enak apa nya?" tanya Sinta.


"Iya udah punya mantu baik begini di tambah lagi punya anak kembar yang tampan ini" kata Ratih dengan wajah murungnya.


"Nanti kamu juga pasti dapat mantu seperti Ziva" kata Sinta menghibur Ratih.


"Semuanya Vano pamit ya. Vano ada meeiting" kata Vano yang berpamitan pada semua keluarga yang duduk di kursi meja makan itu.


"Iya" jawab semuanya.


"Sayang Mas berangkat ya" kata Vano pada Ziva.


"Ya Mas" Ziva bangun dari duduk nya dan mengantar Vano sampai kepintu utama.


"Mbak aku kapan ya punya mantu, Bilmar udah jadi bujang lapuk begitu. Aku juga kan pingin nimang cucu" kata Ratih yang terus mengeluh di meja makan itu.


"Kamu apa sih nggak boleh ngomong begitu. Nanti juga kalau sudah jodoh pasti bertemu" kata Sinta yang berusaha menghibur Ratih.


"Entah lah mbak, entah sampai kapan anak itu terus seperti ini" katabRatih dengan wajah murungnya.

__ADS_1


Ratih sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Vano dan Ziva karena Sinta sudah menceritakan semua nya pada Ratih. Awalnya Ratih sedih karena ia berharap Ziva menjadi istri Bilmar dan menjadi menantunya tapi mau bagaimana lagi ternyata Ziva bukan lah jodoh Bilmar.


Namun Ratih tetap bersukur walau pun Ziva tidak menjadi istri Bilmar namun ia tetap bahagia karena Ziva menjadi istri Vano. Ratih tidak pernah merasa iri atau pun benci pada Vano karena ia tidak membedakan antara Vano dan Bilmar baginya sama saja mau Bilmar atau pun Vano yang menikahi Ziva itu itu tidak masalah Ziva tetap menantunya.


__ADS_2