Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 21


__ADS_3

Buat para reader/pembaca. Mohon vote, like rate, and komen. Tolong berikan authoor semangat. Dan kalau kalian ada saran buat ceritanya. Silahkan tulis saran kalian di kolom komentar, nanti authoor pertimbangkan. Mana tau saran yang kalian berikan bagus. Maka akan authoor buat sesuai saran kalian. Rangheo♥️


Happy Reanding!.


Pagi ini Vano merasa perutnya lapar. Karena dari kemarin siang ia tidak makan apa-apa. Semalam setelah ia terlibat cekcok dengan Keyla, Vano memutuskan pergi ke kantor dan menginap di ruang istirahatnya. Dan kini Vano sudah siap dengan setelan baju kerjanya.


Vano keluar dari ruangan istirahatnya itu. Ia mendudukan dirinya, di kursi kebesarannya. Setelah Vano duduk. Vano ingin menghubungi Arman untuk membawakannya sarapan. Tapi belum sempat Vano menghubungi Arman. Vano melihat seseorang yang membuka pintu.


"Mungkin itu Arman" batin Vano.


Clek!.


Orang itu mulai masuk. Ya yang masuk itu adalah Zivanya Sabillah. Dan bukan Arman. Penampilan Ziva hari ini masih memikat hati siapa saja yang melihatnya. Ziva menggunakan rok mini berwarna hitam dan blezer berwarna merah maron. Da*anya sedikit terbuka. Rambutnya terurai dengan sedikit gelomang. Dan tidak lupa hils yang cukup tinggi melekat di kakinya.


Ziva terus berjalan. Menuju meja kerjanya ia sama sekali tidak menyapa Vano. Vano mulai menahan gairah di dirinya. Karena Ziva membuat sesutu milik Vano mulai meronta-ronta. Meminta keluar dan di bebaskan dari sarangnya.


Ziva mulai mendudukan dirinya di kursi kerjanya. Dan ia mulai memeriksa jadwal Vano. Vano melihat tadinya Ziva meletakan sesuatu di meja kerjanya. Ya tadi Ziva memang menenteng kotak bekal.


"Ziva" Vano memanggil Ziva. Dari meja kerjanya. Vano duduk disana dan tidak bangun sama sekali.


"Ya mass" jawab Ziva dengan lembut.


"Uuh. Ziva suara mu" batin Vano.


"Apa itu kotak bekal. Apa boleh kau memberikannya untuk ku. Aku lapar sekali dan belum sarapan" kata Vano.


"Oh boleh Mas" jawab Ziva.


Ziva bangun dari duduknya dan berjalan dengan manja mengantarkan kotak bekal itu pada meja Vano. Ziva meletakan bekal itu dengan hati-hati. Dan Ziva berpura-pura menjatuhkan dokumen yang ada di atas meja Vano. Seolah Ziva tidak sengaja menjatuhkannya ke dekat Vano.


"Aduh. Maaf Mas engga sengaja" kata Ziva.


Ziva mulai mendekat pada Vano dan berjongkok di hadapan Vano. Vano semakin tidak nyaman karena ia melihat da*a Ziva dengan jelas. Mata Vano berubah merah karena menahan hasrat itu.

__ADS_1


"Ayo Mas. Sarapannya di makan kenapa cuman di liatin" kata Ziva.


Vano mulai tersadar dan memulai sarapannya. Ziva keluar dari ruangan itu meninggalkan Vano sendiri yang sedang mengunyah masakannya dengan lahap. Vano yakin itu adalah masakan rumahan dan ia juga yakin masakan itu Ziva lah yang membuatnya.


Setelah beberapa menit keluar Ziva kembali memasuki ruangan Vano. Ia membawa napan berisi dua gelas. Kopi dan Air putih. Ziva sangat terkejut karena bekal nya sudah habis. Bahkan belum sampai sepuluh menit.


"Minum nya Mas" Ziva meletakan kedua gelas itu di atas meja kerja Vano.


Vani sangat senang tentunya. Karena perlakuan itu lah yang ia harapkan dari istrinya. Dan hari ini Vano mendapatkannya dari istri keduanya.


Ziva kini kembali ke mejanya. Ia mulai melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat ia tinggalkan. Vano terus memandang Ziva. Sesekali ia menyeruput kopi yang tadi di seduhkan Ziva untuknya.


Ziva tau jika Vano memandanginya. Tapi Ziva berpura-pura tidak tau. Dan ia pun tidak bicara kalau bukan Vano yang memulainnya.


"Baru aku bikin nasi goreng dan kopi. Kamu udah engga bisa lepas menatap aku. Belum aku kasih perhatian lainnya. Ingat kau akan ku buat memohon agar aku tidak meninggalkan mu" batin Ziva. Sambil ia terus berpu-pura membolak-balik pekerjaannya.


"Ziva. Apa saja jadwal ku hati ini" tanya Vano sambil menyandarkan dirinya di kursi yang ia duduki.


"Hari ini. Hanya satu pertemuan dengan tuan Padil. Mas" jawab Ziva dengan suara yang sangat lembut.


Vano berniat ingin bangun dan menghampiri Ziva. Tapi tidak jadi karena ia takut Ziva menolaknya. Dan ia takut Ziva tidak mau berbicara dengannya seperti kemarin.


"Aku harus menahan ini. Jangan sampai gara-gara aku memaksanya. Ia kembali mengacuhkan ku" batin Vano. Iya mulai memukui pelipisnya yang terasa pusing. Karena berdebat dengan dirinya sendiri.


Ziva tau kalau Vano menginginkannya. Ziva tersenyum samar melihat keadaan Vano yang sepertinya menginginkannya.


"Bagai mana rasanya. Enakan?" batin Ziva.


Ziva tertawa di dalam hatinya. Karena ia melihat Vano selalu menatapnya. Dengan tatapan ingin memangsa. Ziva memang terbilang belum cukup dewasa. Tapi akibat menjadi pelayan di Club yang dulu ia jalanin. Ziva dewasa sebelum waktunya. Ia tau semua sinyal laki-laki yang menginginkannya.


Clek!.


Pintu terbuka Ziva dan Vano melihat siapa yang membuka pintu.

__ADS_1


"Selamat pagi tuan" Arman lah yang memasuki ruangan itu.


"Em" jawab Vano dengan malas.


"Tuan Padil sudah menunggu anda tuan. Jadwal meeting di majukan karena tadi Nyonya besar Sinta menghubungi saya. Kalau Anda sebentar lagi akan ke butiq untuk Fiiting" kata Vano.


"Baik Sepuluh menit lagi saya ke sana" kata Vano.


"Arman kau mau keruang meeiting" tanya Ziva.


"Ya Nona" jawab Arman.


"Baik kita sama-sama saja" kata Ziva.


Arman melihat wajah Vano yang menatapnya tajam. Arman sangat takut bila Bosnya itu memenggal nya.


"Ayo" kata Ziva.


Arman tidak berani membantah Ziva. Ia keluar dari ruangan itu dengan beriringan dengan Ziva. Ziva berjalan dengan manja. Dan itu membuat Vano ingin memakan Ziva.


"Oh. Sial"


Setelah kepergian Ziva dan Arman dari ruangan itu. Vano pergi ke kamar mandi dan bermain solo di sana. Ia sudah tidak bisa menahannya. Kalau pun ia tahan itu akan mengganggu konsentrasinya nanti saat rapat.


Vano terus bermain solo. Di pikirannya hanya ada Ziva. Vano terus berimajinasi dengan wajah Ziva. Sampai akhirnya Vano sampai pada puncaknya. Tapi tetap saja Vano ingin Ziva lah yang saat ini di dekatnya.


"Eeessss"


"Zivanyaaaa"


Setelah Vano selesai dengan urusan solonya. Vano mulai membersihkan dan keluar dari kamar mandi itu. Ia kembali merapikan pakaiannya dan memastikan kalau pakainnya tidak terkena percikan permainan solo nya tadi. Setelah ia rasa semua aman dan baik-baik saja. Vano melangkah keluar dan memasuki Lift kusus petinggi Prusahaan.


Ting!.

__ADS_1


Vano keluara dari dalam lift dan memasuki ruang rapat. Vano melihat dengan jelas rekan bisnisnya sangat fokus menatap Ziva. Bahkan mereka tidak menyadari kehadiran Vano.


"Ehem" Vano berdehem dan membuat mereka kini mulai menormalkan dirinya.


__ADS_2