
"Sayang" Vano masuk dan melihat Ziva sedang memuntahkan makanan.
Bahkan Vano datang sebelum mbok Yem menghubungi nya. Karena tadi setelah ia berbicara dengan Keyla dan mengatakan ia akan mengirimkan surat cerai pada Keyla. Ia langsung pergi menyusul Ziva. Vano tidak bisa tenang saat melihat keadaan Ziva dengan wajah yang sangat pucat.
"Tuan. Baru saja Mbok mau menghubungi tuan" kata mbok Yem.
"Mbok saya titip si kembar. Saya bawa istri saya ke rumah sakit dulu" kata Vano.
Vano langsung mengangkat tubuh Ziva. Bahkan Vano sama sekali tidak bertanya persetujuan Ziva. Karena ia sudah sangat mengkhawatirkan keadaan Ziva yang terlihat sangat lemah.
"Sabar Sayang" kata Vano.
Vano menidurkan Ziva di kursi penumpang. Karena Ziva sudah sangat lemah bahkan untuk membuka mata nya saja sepertinya ia tidak kuat.
***
Kini Ziva sudah di tangani oleh seorang Dokter. Vano yang menunggu di luar ruangan merasa sangat khawatir dengan keadaan Ziva. Karena saat di perjalanan Ziva sempat tidak sadarkan diri. Vano terus berjalan di depan ruangan itu ia sangat takut sesuatu hal yang buruk terjadi pada Ziva.
Di tambah lagi dengan kehamilan Ziva yang sangat lemah. Vano benar-benar menyesali perlakuan nya selama ini. Ia baru sadar ternyata ia terlalu egois dan menginginkan dua wanita sekaligus dalam hidup nya tanpa ia pikirkan bagai mana dengan keadaan Ziva yang merasa tertekan karena perlakuan egois nya itu.
Bahkan yang membuat Vano semakin kacau Ziva mengandung namun dalam keadaan stres dan itu semua karena ulah nya sendiri yang secara tidak langsung ia juga menyakiti anak nya yang masih berada dalam kandungan Ziva.
Seorang Dokter mulai berjalan keluar. Ia mendekati Vano sementara Vano yang masih larut di dalam pikiran nya sama sekali tidak menyadari keberadaan Dokter yang sudah berada di belakang nya. Dokter itu mulai mendekat karena ia mengerti bahwa Vano tidak menyadari nya.
__ADS_1
"Tuan" kata Dokter yang bernama Danil.
"Bagaimana dengan Ziva?" tanya Vano. Setelah ia berbalik dan berhadapan dengan Dokter Danil.
"Ayo ke ruangan saya tuan" kata Dokter Danil itu.
"Kalau kau masih mau bekerja di sini. Katakan saja di sini" kata Vano dengan wajah emosi. Karena ia sudah sangat mengkhawatirkan Ziva. Ia juga ingin segera tau keadaan Ziva dan calon anak nya saat ini.
Dokter Danil menelan salivanya mendengar Vano berbicara seperti itu. Karena memang rumah sakit itu adalah milik keluarga Vano. Jadi dari pada membuat nya mendapat masalah lebih baik ia mengikuti saja keinginan Vano.
"Nona Ziva sedang mengandung dan usia kandungannya sudah tiga minggu" kata Dokter Danil dengan sangat hati-hati.
"Lalu?" tanya Vano.
Vano langsung pergi meninggalkan Dokter Danil yang belum menyelesaikan ucapannya. Vano masuk ke ruangan Ziva. Terlihat tangan wanita itu sudah terpasang selang infus. Vano mulai berjalan mendekati Ziva.
"Sayang" Vano membelai rambut Ziva dan memeluk Ziva.
Ziva membuka mata nya. Namun ia diam saja tidak berbicara sepatah kata pun. Ziva hanya melihat Vano dengan wajah pucat nya. Karena ia pun bingung harus berkata apa. Dan sebenar nya ia pun takut kehilangan Vano. Karena saat ini memang ia sudah mulai mencintai Vano semenjak ia melihat ketulusan Vano pada nya.
Ziva juga bingung dengan diri nya saat ini. Ia tau ia bukan lah wanita yang lemah. Dan ia tidak mudah untuk di tindas. Bahkan ia dulu tidak perduli bila Vano pun meninggalkan nya. Namun saat ini hati dan perasaan nya tidak bisa di ajak berdamai selama Vano masih bersetatus suami Keyla. Perasaan takut kehilangan itu begitu besar.
"Sayang" kata Vano lagi karena ia melihat Ziva hanya diam saja dan ia juga takut terjadi sesuatu pada Ziva.
__ADS_1
"Mas kenapa di sini?" tanya Ziva dengan suara lemah nya.
"Aku sangat mengkhawatir kan mu. Wajah mu tadi sangat pucat. Dan kau pulang tanpa aku" kata Vano dengan wajah khawatir.
Jawaban yang Vano berikan membuat Ziva bersedih. Padahal Ziva sangat berharap Vano mengatakan ia tetap bersama nya dan meninggalkan Keyla. Entah lah mungkin itu pengaruh karena ia sedang mengandung dan membuat perasaan nya tidak menentu. Tapi untuk saat ini Ziva benar-benar berharap Vano mengatakan Vano akan tetap bersamanya dan membesar kan anak mereka.
"Em" jawab Ziva sambil memalingkan wajah nya. Ia ingin kembali menjadi diri nya yang tidak lemah dan dirinya yan kuat. Namun seperti nya untuk saat ini itu sangat susah.
"Sayang. Kau kenapa?" tanya Vano karena ia melihat keanehan pada istri nya. Ia tau istri nya itu bukan lah wanita lemah namun untuk saat ini ia melihat kesedihan di wajah istri nya.
"Pulang lah Mas. Aku ingin sendiri" kata Ziva tanpa melihat wajah Vano.
"Bagaimana Mas bisa pulang sayang. Sementara kau masih sangat lemah?" tanya Vano dan sesekali ia mencium tangan Ziva yang terpasang selang infus.
"Aku tidak apa Mas. Tapi aku butuh waktu sendiri" kata Ziva.
"Baik lah Mas pergi. Kalau itu bisa membuat mu lebih tenang" kata Vano.
Vano mulai berjalan keluar dari ruangan itu. Dan sebelum menutup pintu ia berbalik melihat Ziva. Ziva memalingkan wajah nya saat tatapan nya dan tatapan Vano bertemu Vano mulai menutup pintu dan ia sudah tidak terlihat lagi.
Air mata yang dari tadi Ziva tahan kini mulai menetes. Ia sangat berharap Vano tetap bertahan berada di ruangan itu. Dan ia juga sangat berharap kalau Vano meyakin kan hati nya yang saat ini sedang goyah kalau Vano tidak akan meninggalkan nya. Dan terus berada di samping nya apa pun yang terjadi. Namun yang ia dapatkan ternyata Vano lebih memilih pergi.
Sementara Vano yang keluar dari ruangan Ziva. Ia tidak benar-benar pergi ia duduk di kursi tunggu di depan ruang rawat Ziva. Karena ia takut terjadi sesuatu pada Ziva. Ia menuruti keinginan Ziva karena ia takut Ziva akan semakin tertekan karena ia tidak menuruti keinginan Ziva.
__ADS_1
Kini kedua nya menagis yang hanya di batasi dinding. Kedua nya saling meyakinkan hati mereka bahwa di hati mereka sudah ada rasa cinta. Dan rasa takut kehilangan sudah sangat bersarang di hati kedua nya. Namun masih ada rasa tidak percaya diri untuk mengakui nya. Kedua nya hanya berharap salah satu dari mereka yang memulai mengatakan takut kehilangan. Namun kedua nya sama-sama menunggu dengan hati dan perasaan yang tidak menentu.