
Ke esokan harinya.
***
Kini Ziva bersama Vano sudah duduk di kursi meja makan menikmati sarapan buatan Ziva. Hari ini Vano memutuskan untuk tidak bekerja karena ia sedang ingin bersantai di rumah saja bersama Ziva hanya ada beberapa pekerjaan yang harus di kerjakannya dan semua itu nanti ia akan kerjakan di rumah saja.
Pagi ini Vano tidak ingin masakan Art ia ingin masakan Ziva karena ia sudah berhari-hari tidak makan masakan Ziva dan ia sudah sangat merindukan masakan buatan Ziva. Daffa dan Daffi juga begitu karena semenjak Ziva bekerja di tambah kuliah apa lagi sekarang ia harus membatasi pekerjaan karena ia sedang mengandung dan ternyata itu semua membuat si kembar juga hanya ingin masakan buatan Ziva pagi ini.
"Mas mau nasi goreng?" tanya Ziva ia sudah sangat hapal menu favorit suaminya itu apa.
"Iya sayang. Sama ayang goreng" kata Vano dengan manjanya.
"Ayam goreng Mas" kata Ziva membetulkan ucapan Vano sambil mengambil apa yang di minta bayi besar nya yang manja itu.
"Hehehe. Kan yang goreng Ayang aku" kata Vano.
"Uh sayang bayi besar ku" kata Ziva mencubit kedua pipi Vano dengan gemas.
"Sakit Yang" kata Vano sambil mengosok kedua pipinya.
"Ini Mas" kata Ziva sambil tangannya meletak kan piring yang berisi makanan yang di minta Vano.
"Makasih Sayang" kata Vano.
"Kak Ziva" teriak Daffa yang baru saja datang dan langsung duduk di kursi meja makan dengan setelan seragam sekolah nya.
"Kak Vano" teriak Daffi yang juga berada di belakang Daffa dan ia juga duduk di samping kursi Daffi.
"Selamat pagi adik-adik kak Vano" kata Vano menyapa hangat anak kembar itu.
"Pagi!!" teriak keduanya dengan bersamaan.
"Kalian mau sarapan apa?" tanya Ziva.
"Nasi goreng" teriak Daffa sambil mengangkat piringnya meminta Ziva yang mengambil makanannya.
"Nasi goreng" kata Daffi juga mengikuti Daffa.
Ziva mulai mengambil satu persatu piring yang di berikan adik kembarnya. Dan Ziva mengambil apa yang di katakan kedua nya. Lalu setelah itu ia meletakannya di meja.
__ADS_1
"Selamat makan adik Kak Ziva" kata Ziva.
"Terimakasih Kak Ziva" teriak si kembar bersamaan.
"Sama-sama ayo makan" jawab Ziva dengan bahagia.
Keempat nya mulai menikmati sarapan pagi mereka dengan kehangatan yang mulai mereka rasakan. Ziva tersenyum walau pun orang tua mereka tidak duduk di sana tapi ia tetap tersenyum karena ia bisa membuat kedua adiknya tetap memiliki keluarga. Dan ia juga sangat bersyukur karena ternyata Vano juga begitu menyayangi kedua adi kembarnya itu.
Bahkan Vano tidak pernah merasa terbeban dengan ke beradaan Daffa dan Daffi di sekeliling mereka. Yang selalu membuat keributan dan kerepotan Vano. Dulu Ziva sempat berpikir Vano tidak mungkin bisa menerima kedua adik nya. Karena menurut Ziva itu sangat mustahil namun ternyata semua pikiran buruk Ziva salah. Kini yang terlihat justri Vano sangat menyayangi kedua adik kembar itu.
"Kak Vano ponsel Daffa rusak Kak" kata Daffa.
"Oh. Nanti Kak Arman yang belikan yang baru" kata Vano.
"Ya Kak makasih ya Kak" jawab Daffa.
"Daffi kenapa sedih" tanya Vano karena ia melihat wajah Daffi bersedih.
"Nggak papa Kak" jawab Daffi dengan tidak bersemangat.
Vano tersenyum dan melihat Ziva. Lalu Vano kembali melihat Daffi yang tertunduk bersedih.
Vano mengerti anak itu bersedih pasti karena Daffa mendapat ponsel baru. Sementara ponselnya masih bagus dan ia tidak mungkin meminta yang baru. Padahal ia juga ingin ponsel baru kalau Daffa di belikan ponsel baru.
"Kak Vano serius?" tanya Daffi dengan wajah ceria nya.
"Iya" jawab Vano.
"Tapi kan ponsel Daffi masih bagus Kak" kata Daffa.
"Kalau Daffa beli ponsel baru. Berarti Daffi juga beli mau masih bagus atau sudah rusak. Kalau Daffi beli barang baru Daffa juga harus beli barang baru. Jadi Kak Vano harus adil sama kalian berdua. Kak Vano tidak membedakan kalian. Kalian berdua adik kesayangan Kak Vano" kata Vano dengan bahagia.
"Maksih Kak" kata Daffa dan Daffi.
"Kak Daffa berangkat" kata Daffa dan ia mulai mencium punggung tangang Vano lalu Ziva di ikuti Daffi.
"Assalamualaikum" teriak keduanya.
"Walaikum salam" jawab Ziva dan Vano.
__ADS_1
Kedua nya berjalan keluar dan meninggalkan Vano dan Ziva yang kembali melanjutkan sarapan nya.
"Yang suapin" kata Vano meminta Ziva menyuapinya.
"Mas Ziva ini istri atau babysitter?" tanya Ziva.
"Istri sekaligus babysitter hati Mas sayang" jawab Vano sambil menaik turunkan kedua alis mata nya.
"Ya udah tapi abis ini Ziva minta tas keluaran terbaru ya Mas" kata Ziva sambil mulai menyuapi satu persatu suapan pada mulut Vano.
Vano tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya. Ini adalah pertama kali nya Ziva meminta sesuatu pada nya. Vano sangat bahagia itu berarti Ziva sudah sangat menerimanya dan Ziva juga sudah tidak sungkan padanya lagi seperti dulu. Vano mengingat saat ia memberikan Ziva dua buah kartu untuk keperluan Ziva dan si kembar. Tapi bukan nya di terima malah di abaikan begitu saja.
"Mas jawab" rengek Ziva karena Vano hanya tersentum saja sambil mengunyah makanan ia sama sekali tidak mengiyakan dan Ziva sangat menunggu jawaban Vano. Ia sudah bersiap-siap untuk mogok bicara seminggu kalau Vano tidak mengabulkan keinginan nya.
"Iya sayang" jawab Vano sambil mencolek dagu Ziva dengan telunjuknya.
"Makasih Mas nanti kalau sudah di belikan" jawab Ziva dengan denyuman seribu watt.
Namun Vano merasa aneh dengan jawaban Ziva. Yang mengucapkan terimakasih namun setelah tas nya ia dapatkan. Ibu hamil memang aneh pikir Vano.
"Ya sayang" jawab Vano.
"Mas sekalian sama heels nya juga ya" kata Ziva lagi.
"Nggak sayang" jawab Vano sambil merapikan rambut Ziva.
"Mas!!" kesal Ziva dengan wajah masam nya.
"Ya boleh. Tapi kamu tidak boleh memakainya sampai anak kita lahir" kata Vano memberi penawaran.
"Kan aku pengen beli terus pakai Mas" kata Ziva sambil mulai bergelayut manja di lengan Vano.
"Mas takut kamu tersandung yang. Nanti kalau kamu sudah melahirkan anak Mas. Kamu bebas mau pakai dan beli Mas tidak akan melarang" kata Vano sambil mencium dahi Ziva.
"Janji ya Mas" kata Ziva.
"Ya sayang" kata Vano.
Dan keduanya mulai bangun dari kursi meja makan itu. Vano membawa Ziva ke gazebo taman belakan agar Ziva terkena sinar matahari dan itu sangat bagus untuk istri dan calon anak nya. Vano mendudukan dirinya dan bersandar ia mulai mengankat tubuh Ziva untuk duduk di pangkuannya dan tanggannya melingkar di perut Ziva yang sedikit membuncit itu.
__ADS_1