
Apa ada yang kangen sama Authoor. Author lagi sakit maaf ya jadi nya Authoor baru bisa up sekarang. Kasih Author semangat ya. dengan bintang 5, like, komen dan vote sebanyak-banyak nya. Supaya author semangat up. walau pun lagi sakit❤
***
Happy reanding!
Vano sudah tidak sanggup lagi melanjutkan pesta itu. Vano pergi saat pesta dansa itu baru setengah di mulai. Vano meninggal kan Keyla yang memanggil namanya. Ia tidak perduli lagi dengan pesta itu atau pun dengan Keyla. Yang ia butuhkan saat ini adalah ketenangan.
Vano mulai membuka pintu mobilnya. tapi dengan cepat Arman mengambil kunci mobil yang ada di tangan Vano. Vano menatap tajam Arman karena sudah berani menghalanginya.
"Kau" kata Vano dengan mengeratkan gigi nya.
"Saya yang mengemudi tuan. Silahkan" Arman membuka pintu penumpang untuk Vano.
Vano tidak bicara ia langsung masuk. Dan duduk dengan menunduk sambil menarik kuat rambutnya.
Arman sengaja melakukan itu. Karena Arman tau Vano sedang emosi ia takut Vano akan lepas kendali. Dan mengemudi dengan kecepatan tinggi. Maka dari itu Arman lebih memilih bila Vano memukulnya karena ia melarang Vano mengemudi. Dari pada ia melepaskan Vano mengemudi sendiri di saat perasaannya sedang kacau.
Setelah Vano masuk dan duduk. Arman juga membuka pintu kemudi lalu masuk. Dan mulai menyalakan mesin mobil nya. Arman Akan membawa Vano ke salah satu Apartement milik Vano yang di tempati Arman. Karena di sana tidak ada siap-siap dan Vano bisa menenangkan dirinya.
Setelah beberapa menit mengemudian. Kini Arman mulai memarkirkan mobil itu. Lalu ia membuka pintu untuk Vano. Dan Vano juga ikut turun. Vano mulai berjalan dengan Arman yang berada di belakang nya. Sampai akhirnya Vano dan Arman masuk ke dalam Apartement itu.
Vano mulai mengambil beberapa botol minuman. Dan membawanya ke ruang santai yang ada di Apartement itu. Vano mulai mendudukan dirinya di lantai. Dan mulai membuka tutup botol minuman itu dan mulai meminum nya.
Tubuh nya terlihat sangat berantakan. Rambut nya yang biasa rapi kini terlihat acak-acak kan. Jas yang tadi ia gunakan sudah ia lepar di lantai. Kemejanya sudah terbuka dan tidak terkancing lagi. Lengan kemeja panjang nya sudah tidak terkancing rapi lagi.
__ADS_1
Vano terus meminum-minuman itu. Arman duduk di sofa melihat apa yang di lakukan Vano. Arman sudah tidak sanggup lagi melihat bos nya yang sangat tersiksa. Arman bangun dari duduk nya dan mengambil botol minuman yang ada di tangan Vano.
Vano yang tadi nya menunduk. Dengan memegang Botol minuman di tangannya. Mulai mendongkak dan melihat siapa yang telah berani mengganggunya. Dan matanya menatap tajam Arman karena sudah berani mengambil minumannya. Vano berdiri dan memegang kerah baju Arman.
"Kau. Berani sekali bertingkah tidak sopan pada ku" kata Vano.
Setelah mengatakan itu. Vano mendorong tubuh Arman. Hingga Arman tersungkur ke sofa yang ada di dekat mereka.
"Tapi bos. Jangan menyiksa diri. Semua bisa di selesai kan baik-baik" kata Arman. Berusaha menenangkan bos nya itu.
Vano mendekat pada Arman. Dengan kemarahan yqng sudah menguasai dirinya. Ia sangat benci pada siapa saja yang berani mengganggu nya saat ini.
"Kau itu cuman anak buah ku. Tidak usah sok menasehati aku. Ingat hidup mu saja aku yang memenuhi. Dan kau harus tau batasan mu" kata Vano.
Duuuuarrr!
Suara botol itu pecah di dinding. Arman mendekati Vano dan memegang kerah kemeja Vano. Dengan kemarahan yang sudah memuncak.
Buk! Buk!
Arman memberi bogem pada Vano. Vano tersungkur di lantai dan di sudut bibirnya terlihat mengeluarkan cairan yang berwarna merah. Vano diam saja ia tidak membalas. Vano sadar kenapa Arman memukul nya.
"Aku tau aku hanya bawahan mu. Dan aku tau kau yang selama ini menghidupi ku. Tapi apa pantas kau mengatakan itu pada ku. Kita ini sahabat sejak kecil dan kita juga sekolah lalu kuliah di tempat yang sama. Bahkan orang tua mu sudah menggap ku yang cuman anak petani ini menjadi anak nya" Kata Arman yang sudah emosi.
Vano diam saja. Ia tidak tau harus bagai mana.
__ADS_1
"Apa kau pantas mengatakan itu pada ku? jawab tol*l jangan diam saja. Apa kau melupakan apa yang sudah ku lakukan untuk mu dan kau tidak menghargai kerja keras ku sedikit pun" kata Arman yang sudah mulai meredam emosinya.
"Aku. Aku tidak tau lagi Arman. Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan. Dan tidak bisa kah kau hari ini saja kembali menjadi sahabat ku seperti dulu. Dan tidak menjadi bawahan ku. Kali ini saja Arman" kata Vano.
Semenjak Arman menjadi sekretaris Vano. Arman sudah mulai menjaga sikapnya dan membatasi dirinya saat bersama Vano. Sering kali Vano meminta Arman untuk tetap menjadi seperti sahabat nya yang dulu namun Arman selalu menganggap Vano atasannya.
"Ya aku akan kembali menjadi sahabat mu seperti dulu. Tapi kau tidak boleh melanjut kan meminum-minumam haram ini" kata Arman.
Vano mengganggukan kepalanya. Dan tidak lagi melanjutkan meminum minuman itu.
"Aku tidak sanggup Arman. Aku tidak sanggup melihat Ziva bersama lelaki lain" kata Vano.
Vano masih duduk di lantai. Dan tangan nya terus mengacak-acak rambutnya. Air mata nya beberapa kali menetes dari matanya yang memerah itu.
Arman berjalan mendekati Vano. Arman juga mendudukan diri nya di samping Vano. Dan tangan kanannya memegang bahu Vano.
"Kau harus tanya kan pada hati mu siapa yang kau cintai. Karena aku tidak mau kau menyesali kemudian hari" kata Arman berusaha memberi masukan pada Vano. Karena Vano sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.
"Aku tidak tau Arman. Aku tidak tau harus melakukan apa." kata Vano.
Arman bangun dan ikut menarik Vano. Arman terus menarik Vano ke dalam kamar mandi Vano hanya mengikuti Arman. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan karena tubuh nya yang sudah mulai terasa tidak berdaya akibat minuman yang iya deguk cukup banyak.
Arman mendudukkan Vano. Di bawah guyuran air shower yang begitu dingin. Arman berharap dengan begitu Vano bisa kembali normal dan efek alkohol di tubuh Vano bisa hilang. Tubuh Vano mulai basah dan ia mulai mengigil. Arman mematikan air yang mengalir itu. Dan memberikan handuk pada Vano.
Vano mengambil handuk itu. Dan Arman keluar dari kamar mandi. Membiarkan Vano mengganti pakaian nya. Setelah tadi Arman memberikan pakaian ganti untuk Vano. Tidak berapa lama Vano mulai keluar dari kamar mandi. Dan mulai mendudukan dirinya. Dengan wajah yang tertunduk. Dan pikirannya yang melayang entah kemana.
__ADS_1