Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 119


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian.


Acara akan segera di mulai pernikahan Seli dan Arman akan segera di laksanakan.


"Seli kamu kenapa wajahnya begitu?" tanya Lastri yang melihat wajah sang anak terlihat bersedih.


"Bunda Seli kok nggak yakin dengan pernikahan ini," tutur Seli yang sedang duduk di kursi meja hias.


"Kamu ngomong apa Seli, orang di depan udah ada penghulu tapi kamu dari kemarin bicara seperti itu," Lastri terlihat kesal dengan ucapan Seli.


Seli diam menatap tubuhnya di cermin dengan balutan kebaya putih, Seli memijat dahinya ia belum bisa melupakan kakak seniornya yang ia taksir di kampus. Hampir saja mereka jadian karena kini mereka sangat dekat, tapi justru kini Seli harus menikah dengan Arman.


"Seli," terdengar suara Ziva yang masuk ke dalam kamar, Seli berbalik melihat sang sahabat. Lalu keduanya berpelukan.


"Hiks, hiks," Seli menangis dan sudah tidak bisa lagi menutupi kesedihannya.


"Loh, loh," Ziva merasa aneh dan bingung, "Seli kamu kenapa nangis, harusnya kamu bahagia dong," Ziva mengelus pundak sahabatnya.


"Ziva aku ragu sama pernikahan ini," tutur Seli sambil terisak.


"Maksud kamu bagaimana Sel?" tampaknya bukan hanya Lastri yang terkejut mendengar penuturan Seli Ziva juga terkejut. Seli berbicara seperti itu di saat hari pernikahan sudah tiba.


"Aku nikah sama Arman, sementara kamu tau nggak Ziva dia sekali pun nggak pernah bicara baik-baik sama aku ngomong dari hati ke hati, atau pun bilang sayang ke aku. Aku bingung Ziva dia beneran cinta sama aku atau bagaimana, lagian kemarin aja aku hampirin dia ke kantor karena ada kerjaan mendadak aku liat Arman lagi pelukan sama cewek, jadi aku bingung Ziva posisi aku di mana? hiks, hiks," Seli kembali menangis dan memeluk Ziva dengan kencang.


"Terus kalau kamu liat dia sama cewek kenapa nggak tanya, cewek itu siapa? Kenapa kamu diam saja memendam semuanya," Ziva juga kesal mendengar cerita Seli.


Jujur saja Ziva juga jadi bingung sendiri, Ziva mengerti apa yang di pikirkan Seli. Ia juga dulu begitu menikah tanpa ada Vano mengatakan cinta padanya, Sama hal nya dengan Seli saat ini.

__ADS_1


"Seli," kali ini Anggia yang masuk untuk menjemput Seli karena Akat akan segera di mulai, Anggia di minta Ratih untuk menjemput Seli. Tadinya Ziva yang mengatakan menjemput Seli tapi keduanya sampai tiga puluh menit belum juga keluar dari kamar.


"Anggi," kata Ziva.


"Kalian lama sekali, semua udah nunggu loh," kata Anggia.


"Seli ayo," Ziva merapikan kebaya Seli dan menghapus jejak air mata yang ada di pipi Seli.


"Seli kamu nangis?" Anggia juga sedikit bingung terlihat wajah Seli yang menyiratkan kesedihan.


"Ngi," Seli memeluk Anggia dengan rasa sedih yang sama saat ia memeluk Ziva.


"Seli kamu jangan sedih ini kan hari bahagia kamu," kata Anggia memberi semangat Seli.


"Anggia apa Bilmar sangat mencintai kamu?" tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari bibir Seli.


"Udah aku yakin Arman cinta sama kamu, karena Mama sempat cerita kalau Arman nggak pernah pacaran. Jadi kamu jangan ragu mungkin Arman sama Mas Vano itu sama orang yang susah mengatakan kalimat cinta kalau tidak kepepet," Ziva terkekeh sambil mengingat Vano dulunya juga tidak pernah mengukapkan kata itu, tapi sekara justru Vano yang selalu berkata Cinta.


"Udah jangan sedih lagi," Anggia memegang lengan Seli sambil berjalan keluar dari kamar. Sementara Ziva berjalan di belakang keduanya, usia kandungan Ziva memang sangat muda. Akan tetapi sudah sangat terlihat sebab ada empat bayi di dalam sana, bahkan Ziva selalu makan dan makan tanpa henti.


Seli duduk di samping Arman dengan perasaan yang tidak karuan, antara ia dan tidak. Ia kemarin sudah berbicara pada Lastri tentang keraguannya, tapi Lastri malah memarahinya karena Seli meminta pernikahannya di batalkan. Lastri pasti sangat malu pada Sinta juga tetangga yang sudah ramai di rumahnya lalu tiba-tiba pernikahan di batalkan rasanya itu tidak mungkin.


Arman mulai menjabat tangan penghulu, sebab Seli sudah tidak memiliki ayah, ada pun adik sang ayah sangat jauh di kampung. Itu pun sudah sakit-sakitan hingga ia tidak bisa datang. Akhirnya Seli di nikahkan oleh wali hakim.


"Arman Arfarizi," tutur penghulu.


"Saya," jawab Arman.

__ADS_1


"Aku nikahkan engkau dengan Elisya Seliyani dengan mahar 10 gram emas di bayar tunai," Penghulu mengucap Izab.


"Saya terima nikahnya dengan mahar tersebut di bayar Tunai," Arman melapaskan kobul.


"Saksi???"


SAAAHHHH.....


Teriak para saksi.


Arman di minta untuk memasangkan kalung emas di leher Seli yang hanya sepuluh gram itu. Arman sebenarnya merasa terhina dengan perminta Seli yang hanya sepuluh gram emas saja. Sementara Arman mampu memberikan lebih dari itu, bahkan dulu saja Seli meminta cincin berlian Arman langsung membelikannya dan sampai saat ini masih terpasang di jari manis Seli.


Akan tetapi Seli mengatakan bila maharnya lebih dari sepuluh gram emas ia tidak akan mau menikah dengan Arman, padahal Sinta juga sudah membicarakan hal itu. Tapi Seli tetap ingin menikah dengan seputuh gram emas atau tidak menikah dengan Arman. Dengan berat hati Arman mengabulkan permintaan Seli walau pun ia kesal.


"Seli, ayo cium punggung tangan suami kamu," kata Ratih sebab Seli diam saja saat Arman selesai memakaikan kalung di leher Seli.


Dengan perasaan campur aduk Seli mencium punggung tangan Arman, air mata yang terus mengalir. Bayangan wajah sang ayah selalu menghampiri Seli dan membuatnya semakin bersedih. Tubuh Seli bergetar saat Arman mencium keningnya, Seli yang belum pernah pacaran dan belum pernah ada yang menciumnya merasa takut sekali.


"Almamdulilah, selamat kalian sudah jadi pasangan suami istri," tutur penghulu.


Selanjutnya keduanya di minta untuk menyalami semua anggota keluarga, tidak ada acara setelah ijab kobul, resepsi akan di adakan di salah satu hotel ternama milik Vano nanti malam, sementara akat di laksanakan di rumah Seli yang sederhana.


"Bunda hiks, hik," Seli menangis di pelukan Lastri dengan perasaan yang sedih, rasanya Seli tak sedikit pun merasa bahagia pasalnya Arman menikah dengannya dengan cara memaksa dan tidak pernah berbicara serius padanya, mengatakan cinta atau pun hal yang meyakin kan Seli bila Arman memang mengharapkan Seli untuk menjadi istrinya.


Bahkan selama satu minggu sebelum mereka menikah, padahal keduanya sudah sangat sering bertemu, pergi berdua untuk ke butiq dan ketempat lainnya. Tapi Arman hanya diam saja tanpa berkata apapun, sering kali Seli bertanya tapi Arman hanya mengatakan kalau pernikahan mereka gagal Lastri pasti terpukul sebab Lastri terlihat sangat bahagia.


***

__ADS_1


Halo Readers semua sudah siapkah kalian denfan kisah Seli dan Arman? Nah siap-siap keduanya mengobrak abrik perasaan kalian. Lalu siapa kah wanita yang selama ini bersama Arman yang sering Seli lihat itu, selama beberapa bab kedepan akan lebih banyak menceritakan Seli dan Arman kasihan keduanya sudah sangat banyak membatu Vano dan Ziva untuk bersatu. Nanti selanjutnya kita akan sama-sama kehadiran baby Ziva dan Vano yang kembar empat itu ya.


__ADS_2