Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 48


__ADS_3

"Arman kamu antar saya ke rumah Ziva" kata Sinta.


Entah mengapa Sinta merasa khawatir mengingat keadaan Ziva semalam. Ada perasaan tidak tenang yang ia rasa kan. Namun ia juga merasa bahagia karena mengetahui kehamilan Ziva. Karena memang Sinta sudah sangat menginginkan cucu.


Sinta selama ini berharap Keyla segara memberi nya cucu. Namun siapa sangka hal yang mengejutkan justru terjadi ternyata yang ia dapat adalah Ziva yang mengandung cucu nya. Sinta tidak pernah mempermasalah kan bagaimana dan seperti apa menantu nya kelak yang ia ingin kan hanya anak nya bahagia.


"Mama mau kemana?" tanya Keyla. Yang baru saja menuruni tangga dan ia melihat Sinta sudah rapi.


"Mama ada urusan sebentar" kata Sinta.


Sinta tidak ingin Keyla mengetahui kemana tujuan nya. Karena ia tidak ingin Keyla juga meminta ikut bila Keyla tau tujuannya ingin menemui Ziva. Sinta tidak ingin Keyla ikut dengan nya karena ia sangat malas mendengar keributan nanti nya. Dan tujuan Sinta yang ingin menjenguk Ziva nanti akan berubah menjadi keributan lagi seperti semalam.


"O" jawab Keyla.


Sinta dan Arman mulai melangkah keluar dan kini kedua nya sudah berada di dalam mobil. Arman mengemudi dengan kecepatan sedang sesekali ia melihat Sinta dari kaca spion. Dan Arman dapat melihat wajah Sinta tersenyum dan seperti nya hati Sinta sedang bahagia. Kini kedua nya sudah sampai di rumah Ziva. Sinta turun dan melihat Art di rumah Ziva sedang menyiram tanaman.


"Permisi nyonya siapa?" tanya mbok Yem. Ia melihat Sinta mendekat pada nya.


"Saya mertua Ziva" kata Sinta.


"Oh selamat datang nyonya besar" kata mbok Yem.


"Iya. Ziva ada?" tanya Sinta.


"Neng Ziva semalam di bawa tuan Vano kerumah sakit nyonya" jawab mbok Yem.


"Rumah sakit?" tanya Sinta shock.


"Iya nyonya. Semalam neng Ziva pulang dengan keadaan yang lemah. Dan tuan Vano segera melarikannya ke rumah sakit" kata mbok Yem.


"Terimakasih mbok. Saya kerumah sakit saja" kata Sinta.


Sinta dan Arman kembali menaiki mobil. Karena mereka akan kerumah sakit melihat keadaan Ziva. Wajah Sinta kini berubah panik ia sangat takut kehilangan cucu yang sudah lama ia nantikan. Dan ia merasa takut kalau harapannya ingin memiliki cucu akan sirna.

__ADS_1


Arman tau pasti kemana Vano membawa Ziva. Ia terus mengemudi dengan kecepatan sedang. Dan kini mobil yang di kemudikan Arman sudah memasuki parkiran rumah sakit. Sinta langsung turun. Dan ia menayakan pada perawat di mana ruangan Ziva setelah itu ia dengan cepat menuju ruangan Ziva.


"Vano" Sinta membangunkan Vano. Vano duduk di kursi tunggu ruangan Ziva ia sama sekali tidak pergi dari sana dan ia tertidur dengan tubuh nya yang duduk dan tertunduk tanpa ia sadari ternyata hari sudah pagi.


"Mama?" Vano sedikit tersentak karena melihat Sinta yang berada di hadapannya.


"Kamu kenapa tidur di sini?" tanya Sinta.


"Ziva tidak mau Vano berada di dalam Ma. Dan Vano menjaga Ziva di sini saja" jawab Vano dengan wajah sedih nya.


"Makanya kamu jangan plin plan. Sudah Mama mau masuk" kata Sinta.


Sinta mulai memegang kenop pintu. Dan ia mulai mendorong pintu untuk masuk. Sinta tidak melihat Ziva di atas ranjang nya. Namun ia mendengar suara dari kamar mandi. Sinta masuk dan ia melihat Ziva yang sedang memuntahkan isi perut nya.


"Huuekk huuuekk huuekk!!!" Ziva terus memuntahkan isi perut nya. Sinta melihat wajah Ziva sangat pucat.


"Ziva" kata Sinta. Sinta mulai mendekati Ziva dan memijat pundak Ziva.


"Mama di sini?" tanya Ziva. Karena ia memang tidak menyangka ternyata mertua nya datang untuk menjenguk nya.


Ziva mulai berjalan keluar. Dan Sinta mulai memapah Ziva. Lalu Sinta membantu Ziva untuk duduk di ranjang. Ziva sangat terharu melihat mertua nya begitu memperhatikan diri nya. Ziva pernah berpikir kalau mertua nya tidak akan mungkin menyukai nya bila ia tau Ziva pernah bekerja di Club malam. Bahkan Ziva dulu menjual diri nya Vano. Namun ternyata pikiran nya itu salah justru Sinta begitu memperdulikan diri nya.


"Kamu masih pusing?" tanya Sinta.


"Sedikit Ma" jawab Ziva.


"Kamu pasti belum makan?" tanya Sinta karena Sinta melihat bubur yang terletak di atas nakas masih utuh.


"Belum Ma" jawab Ziva.


"Ayo Mama suapi" kata Sinta.


"Ziva makan sendiri saja Ma" kata Ziva yang merasa tidak enak hati bila mertua nya harus menyuapi nya.

__ADS_1


"Tidak. Ayo buka mulut" kata Sinta.


Ziva mulai membuka mulut nya. Karena Sinta terus memaksa nya. Ia merasa tidak enak bila menolak karena Sinta tidak mau di tolak. Sedikit demi sedikit Sinta terus menyuapi Ziva. Sampai bubur di tangan Sinta sudah setengah habis.


"Ma udah" kata Ziva.


"Sedikit lagi" kata Sinta.


"Ma Ziva mual dan kalau di paksa makan lagi Ziva takutnya malah muntahin yang sudah Ziva makan tadi" kata Ziva.


"O. Ya sudah. Kamu minum kalau begitu" kata Sinta dan memberikan gelas berisi munuman pada Ziva.


"Terimakasih Ma" kata Ziva.


"Sama-sama" kata Sinta.


"Ma Ziva kangen sama mendiang Mama Ziva. Ziva boleh peluk Mama Sinta saja?" tanya Ziva.


"Boleh dong" kata Sinta dengan senyum tulus di bibir nya. Sinta mulai menarik Ziva kedalam pelukannya. Ziva juga memeluk Sinta dengan sangat erat. Karena rasa rindu pada ibu kandung nya sedikit terobati dengan pelukan yang sinta berikan.


"Hiks hiks hiks" Ziva tidak mampu lagi menahan tangisannya.


"Kamu menagis Ziva" tanya Sinta. Tanpa Sinta melepaskan pelukannya pada Ziva.


"Ma" kata Ziva.


"Iya sayang. Kenapa?" tanya Sinta. Sambil ia membelai kepala Ziva. Saat Ziva masih memeluk nya.


"Ma apa Ziva terlalu egois bila Ziva mengingin kan Mas Vano tetap bersama Ziva dan Mas Vano harus menceraikan Keyla" tanya Ziva dengan sesegukan.


"Sayang. Mama mengerti dengan perasaan kamu. Dan Mama juga tau seperti apa sekarang posisi kamu. Kamu sedang mengandung dan kamu lah di sini yang menjadi orang ketiga. Namun Mama tidak bisa apa-apa Mama hanya berharap yang terbaik untuk kalian" kata Sinta yang terus memeluk Ziva dengan erat.


"Apa Ziva terlalu egois Ma. Kalau mas Vano bersama Ziva. Itu artinya Ziva bahagia di atas penderitaan orang lain" kata Ziva.

__ADS_1


Sinta menjaukan tubuh Ziva yang memeluk nya. Sinta ingin melihat wajah Ziva. Dan Sinta memegang kedua tangan Ziva lalu mengepalkan jari-jari Ziva. Seolah ia ingin memberi kekuatan pada Ziva.


"Apa kamu mencintai Vano?" tanya Sinta.


__ADS_2