Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 76


__ADS_3

"Tuan hati hati" teriak Didin dari bawah pohon.


"Apa ini" gumam Vano sambil tangannya menepuk nepuk tubuhnya karena banyak serangga yang berkeliaran di tubuhnya.


Vano terus bergerak dan ia melupakan dengan posisinya yang sangat terancam. Dan hingga cabang yang ia jadikan sebagai tumpuan kaki nya patah.


Krak!.


Suara cabang itu patah.


Buk!.


Vano terjatuh ketanah.


"Arg. Sial" gumam Vano saat terduduk di tanah.


Ungg ungg ungg!.


Anjing itu terus menggonggong. Dan ia sudah siap menerkam Vano. Vano yang sadar akan di terkam Anjing itu mulai berlari menjauh dengan tenaga ektra.


Ungg ungg uggg!.


Suara Anjing itu menggongngong.


"Anjin sialan!!!" bentak Vano saat ia sudah berjarak dua meter dari Anjing itu.


Uuuuummm unggg unggg.


Suara Anjing itu semakin terdengar mengerikan dan Anjing itu semakin marah saat Vano memarahinya seolah ia mengerti apa yang di katakan Vano.


Krak!.


Suara rantai yang putus karena Anjing itu mengeluarkan tenaga dalamnya.


Uuummm!.


Suara Anjing itu menatap Vano dan bersiap menerkam.


Vano menarik ember yang di pegang Didin dan dengan cepat ia berlari. Didin yang melihat Vano berlari juga ikut berlari.


"Tuan tunggu!" teriak Didin yang berlari juga di belakang Vano.


Ungg unggg uungg!.


Anjing itu terus mengejar keduanya. Dan sampai akhirnya Vano dan Didin berhasil keluar dari gerbang rumah itu. Dan mereka masuk dengan cepat Didin menutup pagar rumah.


Ungg ungg ungg!.


Anjing itu masih menunggu keduanya di luar gerbang rumah Vano.


"Anjing brengsek" gumam Vano.

__ADS_1


Buk!.


Vano melempar satu jambu pada Anjing itu.


Ingg ingg inggg!.


Suara Anjing itu.


"Bau apa ini" tanya Vano pada Didin yang ada di sebelahnya.


"Hehehe" kata Didin sambil menggaruk kepalanya.


Vano melihat wajah aneh Didin dan ia melihat celana Didin basah. Vano yakin bau pesing itu berasal dari Didin.


"Kurang ajar!" kata Vano.


"Maaf Tuan."


"Ck" Vano berdecak kesal. Satu tangannya memegang ember berisi jambu satu lagi tangannya menggaruk garuk tubuhnya yang terasa gatal.


"Tuan tadi di dekat pohon jambu itu ada tangga. Kenapa harus berusaha di panjat langsung"


"Ada tangga?" tanya Vano.


"Iya Tuan. Dan tangga nya sangat panjang. Sepertinya tangga itu memang di khususkan untuk memetik buah jambu itu" kata Didin dengan polosnya.


"Dan kau baru mengatakan setelah aku selesai memetik jambu itu. Dengan tubuh ku yang berkali kali berusaha memanjat pohon itu. Di tambah lagi ranting yang aku pijaki patah" kata Vano.


"Tu-tuan tadi saya kan sudah bilang. Tapi tuan membentak saja" jawab Didin sambil kakinya melangkah mundur karena Vano terus maju mendekatinya.


"Awas kau" kata Vano.


Vano berjalan masuk dan meninggalkan Didin dengan tubuh gemetar. Vano merasa tubuhnya sakit dan juga badannya gatal karena banyak di gigit serangga.


"Sayang" kata Vano.


Kini Vano sudah berada di dalam kamarnya. Dan di sana ada Ziva dan juga Sinta yang sedang duduk di sisi ranjan. Dan keduanya sedang asik bercerita entah apa yang sedang mereka ceritakan. Namun saat kedua wanita itu mendengar suara Vano mereka menghentikan pembicaraannya dan mulai menatap Vano yang berdiri di dekat keduannya.


Ziva dan Sinta menatap Vano dari bawah sampai rambut Vano. Kaki Vano sangat kotor terkena tanah, lalu celana yang di pakai Vano sedikit robek karena terkena cabang saat ia terjatuh. Dan kemeja Vano tiga kancing yang sudah terbuka di tambah rambut Vano sangat berantakan.


"Mas abis ngapain?" tanya Ziva sambil dua tangannya menutup mulut menahan tawanya.


"Kamu abis berkelahi? dengan siapa?" timpal Sinta.


Huufp.


"Ma. Sayang aku abis manjat jambu dan aku di kejar Anjing. Dan yang menyenangkan aku jatuh dari pohon" kata Vano dengan wajah sedih nya.


"Whahahahah" Sinta tertawa. Sementara Ziva merasa kasihan dan wajahnya sedikit bersedih karena apa yang di alami Vano.


"Mama!" kata Vano.

__ADS_1


"Kamu masih mending Ziva minta kamu panjat jambu. Mama dulu minta Papa buat peluk Harimau di kebun binatang. Terus Mama yang fhoto" kata Sinta dengan santai.


"Harimau?"


"Iya"


"Dan Papa mau?"


"Iya. Tapi Mama berubah pikiran saat di kebun binatang sewaktu Papa kamu akan memeluk Harimau itu. Mama nagis dan akhirnya Papa nggak jadi meluk Harimaunya. Karena Papa kamu cinta sama Mama dan dia tidak rela kalau Mama menangis" kata Sinta mengingat masa lalunya.


"Ck!" Vano kesal mendengar cerita aneh Sinta.


"Mas itu jambunya?" tanya Ziva.


Ziva melihat Vano memegang ember dan berisi jambu.


"Iya sayang" jawab Vano.


"Makasih ya Mas" kata Ziva.


Vano berjalan mendekati Ziva dan memberikan jambu yang ia bawa pada Ziva. Tapi Ziva mendorong jambu yang di berikan Vano.


"Kenapa Yang. Bukan nya kamu minta ini" kata Vano sambil menunjuk jambu tang ia bawa.


"Mas duduk" kata Ziva menunjuk single sofa yang dekat dengannya.


"Tapi Mas mau mandi yang" kata Vano.


"Sebentar saja" kata Ziva.


Vano yang melihat wajah Ziva akan bersedih tidak lagi berpikir panjang. Ia langsung duduk di sofa karena ia sangat takut terjadi sesuatu pada istri dan anaknya. Vano yang sudah duduk menunggu apa yang akan Ziva katakan selanjutnya.


"Sudah yang" kata Vano.


"Mas makan buah jambunya" kata Ziva dengan bahagia.


"Mas yang makan yang?" tanya Vano dengan heran.


"He'um" jawab Ziva sambil menganggukan kepalanya dengan semangat.


Sementara Sinta menahan tawanya melihat wajah putus asa Vano.


"Tapi kan kamu yang mau Mas petik jambu karena kamu ingin makan jambu ini" kata Vano.


"Iya kemarin Mas tapi sekarang aku pengen Mas yang panjat. Terus Mas yang makan dan aku yang lihat" jawab Ziva dengan entengnya tanpa rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.


Vano diam ia mengingat apa saja yang sudah ia alami. Mulai dari memanjat dengan beberapa kali gagal. Lalu di gigit serangga, setelah itu ia terjatuh karena rantingnya patah dan yang paling menyakitkan adalah. Dirinya di kejar Anjin. Lalu ia mendapat bonus dari Didin yang mengompol di hadapannya.


Vano menunduk ia ingin berteriak. Matanya menatap jambu yang ia pegang di embir tepat berada di pangkuan nya. Ia ingin marah namun takut Ziva menangis. Jadi ia diam dan mulai mengigit jambu di tangannya sesuai dengan keinginan Ziva.


"Tidak ada orang berani menentang ku, bahkan seorang mafia sekalipun. Dan kali ini aku kalah dengan dua bidadari yang ada di hadapan ku. Aku di hadapan mereka seperti orang biasa yang tidak memiliki uang dan kekuasaan"

__ADS_1


__ADS_2