Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 25


__ADS_3

Athoor untuk hari ini tidak masalah. Kalau kalian suruh Grazi Up.Cuman itu tergantung like, rate, vote and komen. Karena certa-cerita selanjut nya sudah menunggu.❤


***


Happy Reading!.


Ziva menerima kedua kartu yang di berikan Vano. Dan menyimpannya di dalam laci.


Dan kini keduanya duduk dalam diam. Vano hanya menatap Ziva. Dan Ziva yang sibuk dengan pikira nya. Pikiran nya ingin lepas dari hidup nya yang rumit.


Ziva masih bingung apa kah Vano sudah mulai mencintainya atau belum. Karena ia sudah merasa sedikit lelah. Dan kini ia mulai berpikir untuk pergi dari hidup Vano. Ia ingin hidup tenang dan damai. hidup sederhana dengan ke dua adik nya tidak masalah asal hidup nya tenang dan tanpa gangguan.


"Kaki kamu masih sakit" tanya Vano.


"Masih Mas" jawab Ziva.


"Mas ini udah malam. Kamu tumben engga pamit pulang" tanya Ziva karena biasa nya Vano hanya siang hari bersama nya dan malam ia akan pulang.


"Engga aku mau sama kamu" kata Vano.


"Sayang kamu jangan deket-deket sama Arman dong. Tadi Arman pakek gendong kamu. Terus kamu juga peluk leher Arman" kesal Vano.


"Ya. Kamu benar Mas aku memang salah. Aku minta maaf ya" kata Ziva dengan wajah bersalah nya.


"Ya. Aku maapin tapi itu pertama dan terakhir kalinya" kata Arman.


Ziva mengangguk dan Vano mulai memeluk Ziva. Dengan erat.


"Makasih Sayang" kata Vano.


"Iya. Tadi memang aku salah. Seharus nya aku engga perlu di gendong Arman. aku berusaha aja buat jalan sendiri. Tapi aku sangat berterimakasih sama Arman. Karena dia sudah menolong ku. Andai Arman tidak ada di sana pasti sampai saat ini aku masih duduk di sana. Karena tidak sanggup berjalan" kata Ziva.


"Ziva bisa tidak. Semalam saja kau buat hati ku senang dan kau biar kan aku tidur tenang dengan memeluk mu" Vano mulai kembali membentak Ziva.


"Vano. Kalau kau ingin ketenangan jaga sikap mu pada ku" kata Ziva.

__ADS_1


"Kau berani sekali bersikap tidak sopan pada ku" kata Vano. Membentak Ziva.


"Lihat lah Mas bagai mana aku bisa menyenangkan hati mu. Sementara tingkah mu saja seperti ini pada ku. Kau itu manusia labil. Yang tidak punya pendirian" Kata Ziva dengan setengah berteriak di wajah Vano.


"Ah. Sekarang kau mau apa. Apa yang harus aku lakukan agar kau merasa senang" kata Vano dengan nada emosi nya.


"Kau pilih aku atau Keyla. Kalah kau pilih aku. Tinggal kan Keyla. Dan kalau kau pilih Keyla tunggal kan aku" bentak Ziva.


"Aku tidak bisa meninggal kan nya aku mencintai nya" jawab Vano.


"Kalau begitu lepaskan aku. Biar kan aku bahagia dengan lelaki pilihan ku" kata Ziva.


"Tidak!" kata Vano dengan tegas.


"Kenapa?"tanya Ziva.


"Karena kau hanya milik ku. Dan tidak ada yang boleh memiliki mu selain aku" kata Vano.


"Kenapa kau egois Mas?"


Ziva tersenyum miring. Hati nya sangat sakit mendengar hinaan dari mulut Vano.


"Jadi kau menikahi aku untuk apa? Untuk kau jadikan pelampiasan mu saja?" tanya Ziva.


"Bukan begitu Ziva. Aku benar-benar belum siap untuk mengambil keputusan itu" kata Vano dengan nada yang lembut dan tangan nya memegang bahu Ziva. Tapi Ziva menepis kedua tangan Vano.


"Sudah cukup Mas. Kalau kau tidak bisa meninggal kan aku. Maka aku yang akan membuat mu meninggal kan aku" tanya Vano.


"Apa maksud mu" bentak Vano.


"Atau aku yang akan meninggalkan mu" kata Ziva lagi. menyambung ucapannya tadi.


"Tidak. Kau tidak boleh meninggal kan ku" kata Vano


"Aku akan meninggal kan mu" kata Ziva lagi sambil berteriak.

__ADS_1


Vano yang tadi nya sudah berdiri di karpet bulu itu mulai menaiki kasur. Dengan mata yang tajam dan memerah di tambah rahang tegasnya yang semakin mengeras.


"Kalau begitu aku akan membuat mu tetap berada di sisi ku. Selama nya" kata Vano dengan seringai licik nya.


Ziva dapat melihat wajah Vano. Yang menahan kemarahan itu. Dengan cepat Vano menindih tubuh Ziva.


"Kau mau apa?" tanya Ziva.


"Berani sekali kau berbicara tidak sopan pada ku" bentak Vano.


"Sana menjauh dari ku" kata Ziva sambil mendorong tubuh Vano.


Tapi Vano tidak perduli. Ia lupa dengan ke adaan Ziva yang ia tau Ziva sedang sakit. Dan Vano pun sudah tidak mampu menahan dirinya lagi sudah berhari-hari Vano menahan hasrat nya.


"Vano. Lepas kan aku?" teriak Ziva.


Vano tidak peduli denga ucapan Ziva. Ia terus meci*m dan ******* kan bib*r Ziva. Ziva tidak putus asa dia terus berusaha untuk melakukan apa yang ia inginkan. Sampai akhir nya tenaga Ziva mulai melmah.


Vano mulai membuka atasan Ziva. Dan ia mulai melihat dua benda pavorit nya. Vano mulai mer*mas. Menh*sap. Dan meninggalkan banyak tanda kepemilikan.


Tidak ada satu pun yang lepas dari nya. Vano benar-benar ingin memiliki Ziva sepenuh nya. Dan Vano tidak ingin Ziva pergi meninggal kannya.


Vano terus melepas kan hasrat terpendam nya. Selama berhari-hari sudah ia menahan hasrat itu. kini Vano mulai bermain di bagian utama tubuh Ziva. Dan Ziva pun mulai mendesah karena sentuhan yang di berikan Vano pada nya.


Tidak lama kemudian Vano mulai memasuki tubuh Ziva. Dan Itu lah hal yang paling di ingin kan Vano. Ziva benar-benar menjadi milik nya. Hinga ia tidak tau kalau ia sudah membuat Ziva semakin membenci nya. Dan Ziva akan berusaha keras untuk pergi dari kehidupan Vano.


"Iiiiisss" Ziva mulai mendesah. Karena hal itu tidak ada yang bisa menghindari. Siapa pun yang ada di situasi itu tidak akan bisa lagi mengendalikan dirinya. Tapi tetap saja hati tetap terluka.


"Zivanya"


"Aaahhhh"


Setelah dua jam Vano melepaskan hasrat nya. Kini ia mulai membaring kan tubuh nya di samping Ziva. Ziva sudah tidak mampu lagi bergerak bahkan untuk membuka mata nya saja ia sudah tidak mampu.


"Kau tidak akan mudah mudah membayar semua penghinaan ini" batin Ziva. Sebelum akhirnya Ziva benar-benar terlelap dalam tidurnya. Karena rasa lelah dan rasa sakit penghinaan Vano pada nya.

__ADS_1


"Maaf kan aku Ziva. Aku hanya ingin kau tetap menjadi milik ku. Dan semoga di diri mu akan hadir malaikat kecil yang akan memanggil ku Ayah" batin Vano.


__ADS_2