Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 144


__ADS_3

Seli kini lebih banyak berubah walau pun sudah terlambat tapi tidak ada salahnya menjadi lebih baik, walau pun masih terasa berat tapi Seli harus kuat demi anaknya jadi pagi ini Seli memutuskan untuk melepaskan keterpurukannya, ia sudah iklas menerima talak dari Arman dan ia pun sudah iklas bila nanti pengadilan sudah mengesahkan perceraian mereka.


"Bunda," Seli masuk ke kamar Lastri mencari sang Bunda.


"Ya, Nak?" Lastri tersenyum melihat Seli kini lebih segar, dua minggu sudah Arman pergi dan Lastri melihat Seli pun tak terlalu terpuruk, karena ia sudah kehilangan Arman jangan sampai ia juga kehilangan kandungannya karena ke egoisannya sendiri.


"Bunda kita cari mangga di pasar yuk," Pinta Seli pada Lastri yang sedang sibuk merapikan kasurnya.


"Mangga?" Lastri menghentikan aktifitasnya dan berbalik menatap Seli yang tadi nya ia belakangi.


"Ia, Seli pengen mangga tapi yang si pasar, kan yang di pasar seger banget sekalian Seli mau cari bengkoang juga, lagi pengen aja," Tutur Seli pada sang Bunda.


"Ya udah, Bunda ganti baju dulu ya," Kata Lastri.


Seli tersenyum dan keluar, ia mengambil tas kecilnya di kamar. Beberapa saat kemudian Seli keluar kembali dan melihat Lastri sudah cantik dengan kerudung panjangnya.


"Yuk," Kata Seli memegang tangan Lastri.


Keduanya pergi menaiki angkot, bukan karena tidak ada uang. Seli pernah menjadi Ceo walau pun hanya beberapa bulan saja dan tabungannya lumayan banyak, di tambah lagi Arman juga sering mentranfes uang padanya dulu, jadi untuk saat ini Seli sangat jauh dari kata kekurangan uang. Tapi alasan Seli memilih naik angkot karena ia ingat dulu masa susah bersama mendiang sang Ayah yang juga sopir angkot dan Seli sering kali menjadi kernet.


"Bunda itu mangganya seger banget ya," Seli mendekati pedagang buah dan mulai memilih satu persatu, bahkan beberapa kali Seli menghirup aroma mangga yang ia pegang sebelum ia letakan ke dalam kantong plastik.


Namun saat Seli selesai memilih mangga ia selanjutnya memilih jeruk, niat hati hanya beli mangga dan bengkoang tapi sampai di pasar ia juga ingin membeli jeruk yang terlihat sangat segar. Saat Seli memilih jeruk tiba-tiba matanya melihat Arman yang bersama Yuli bahkan keduanya seperti berpelukan. Semua jeruk yang di kantung plastik yang di pegang Seli jatuh berhamburan, seiring air mata yang meluncur begitu saja.


"Seli kenapa Nak," Tanya Lastri sambil mengumpulkan jeruk yang tertumpah, Lastri menyadari tatapan Seli hingga Lastri juga mengikuti arah tatapan Seli.


"Seli ayo Nak," Lastri dengan cepat membayar buah yang sudah di pilih Seli tadi.


Keduanya pulang dengan menaiki taxi, Seli diam ia sama sekali tidak berbicara sedikit pun, Lastri takut anak nya kembali bersedih, hingga berkali-kali Lastri berbicara tapi Seli hanya diam dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Bahkan saat turun dari taxi Seli hanya diam saja tanpa bicara.

__ADS_1


"Seli," Lastri menahan Seli yang langsung masuk ke kamar.


"Seli cuman butuh sendiri Bun, nggak papa kan? Tanya Seli.


"I-iya," Lastri menjawab terpaksa, Seli tersenyum dengan terpaksa lalu masuk tidak lupa Seli menutup pintu.


Seli duduk di sisi rajang setelah meletakan tas tangan kesayangannya, sekuat tenaga ia berusaha kuat demi anaknya.


"Aku nggak boleh cengeng," Gumam Seli, dengan tangan melepas cincin pernikahannya dengan Arman, Seli juga melepas cincin berlian yang dulu pernah di belikan Arman yang melingkar di jari tengah tangan kirinya. Seli menyimpan semua itu di dalam kotak perhiasan dan terakhir Seli melepas emas sepuluh gram yang dulu di lingkarkan Arman di lehernya.


Seli masuk ke bawah selimut berusaha tidur dan melupakan bayangan Arman, ia terus berusaha tidak menangis. Hingga ia mengabil obat tidur dan meminumnya satu butir, lama menunggu Seli tak juga tertidur. Hingga Akhirnya Seli meminum semua obat tidur itu, tidak perlu menunggu lama Seli mulai terbawa ke alam mimpi dengan tubuh yang di penuhi keringat dingin.


Hingga dua jam lamanya Seli masih larut dalam tidurnya, Lastri merasa sudah waktunya makan siang ia berniat membangunkan Seli. Tidak ada rasa khawatir yang di rasakan sebab Lastri melihat putri tidak menangis pagi saat tadi masuk ke kamar, bahkan Seli tersenyum walau pun itu senyum paksa tapi Lastri merasa anaknya kuat. Biasanya Seli bila bersedih atau kesal ia akan menangis berteriak sambil memecahkan barang-barang di kamarnya, tapi kali ini Lastri tidak mendengar ada benda pecah. Ia sangat yakin Seli baik-baik saja.


TOK TOK TOK.


TOK TOK TOK.


"Nak, makan dulu," Lastri terus memanggil dan berulang kali mengetuk pintu, hingga Lastri memutar gagang pintu namun pintu terkuci dari dalam.


TOK TOK TOK.


Lastri terus mencoba mengetuk pintu tapi tak ada jawaban, hingga Lastri mengambil ponsel menghubungi Ziva mungkin Vano bisa membantunya. Dengan tangan bergetar Lastri memegang ponsel dan mencoba menghubungi Ziva, namun beberapa kali Ziva tak menjawab. Hingga Lastri mencoba menghubungi Sinta dan terhubung.


"Halo Mbak?" Jawab Sinta dari sebrang sana.


"Mbak Sinta, Seli....." Lastri tidak tau harus berkata apa ia masih berharap Seli di dalam sana tak apa-apa.


"Mbak Lastri kenapa?" Sinta juga mulai khawatir mendengar suara panik Sinta di sebrang sana.

__ADS_1


"Seli kamarnya tidak bisa di buka, Mbak dan saya tidak tau harus minta tolong siapa," Tutur Lastri.


"Sebentar ya Mbak saya suruh Vano kesana," Sinta langsung mematikan ponselnya tanpa mengucap salam, sebab ia juga sangat khawatir.


Tampaknya Lastri tidak sabar menunggu hingga ia mencoba menghubungi Arman, dan ternyata terhubung. Namun Arman tak menjawab hingga panggilan yang kesekian kalinya Arman akhirnya menjawab panggilan itu, Lastri tau Arman tidak pernah bisa di hubungi selama ini dan ketika kali ini panggilannya terhubung Lastri terus menghubungi Arman hingga akhirnya Arman menyerah dan usaha Lastri membuahkan hasil.


"Assalamualaikum Bunda," Jawab Arman dengan suara serat dan tertahan di sebrang sana.


"Arman hiks, hiks," Lastri tidak bisa menjawab salam Arman pun yang ada ia hanya berharap Arman datang menemui Seli, ia tidak perduli jika Arman memintanya memohon. Padahal itu tidak mungkin sebab Arman sangat mencintai Seli.


"Bunda, kenapa?" Arman juga mulai panik mendengar suara Lastri yang menangis.


"Seli....Arman tolong Bunda hiks, hiks," Lastri menangis menjerit.


"Bunda di mana?" Tanya Arman.


"Di rumah, tolong Bunda," Kata Lastri.


Arman langsung menuju rumah Lastri, mengemudikan motor miliknya dengan kecepatan penuh, perasaan khawatir seakan melupakan bahwa masih banyak pengguna jalan lainnya. Hingga hanya butuh beberapa menit ia sampai di rumah Lastri.


"Arman," Lastri langsung memeluk Arman sambil menangis.


"Bunda kenapa?" Tanya Arman.


"Pintu kamar Seli tidak bisa di buka, kamu dobrak ya," Kata Lastri.


Dengan cepat Arman mendobrak pintu, hingga akhirnya pintu terbuka, Arman mendekati ranjang karena Seli ternyata berbaring miring menutup selimut sampai lehernya, Lastri lebih tenang ternyata Seli hanya tidur saja. Namun anehnya Seli tak terbangun bahkan saat pintu di dobrak Arman dengan suara yang cukup kencang.


"Seli," Lastri mendekat dan menggoyang-goyang tubuh Seli, namun berulang kali Lastri berusaha membangunkan Seli, tapi Seli tak juga bangun-bangun.

__ADS_1


__ADS_2