
Vano keluar dari dalam lift dan memasuki ruang rapat. Vano melihat dengan jelas rekan bisnisnya sangat fokus menatap Ziva. Bahkan mereka tidak menyadari kehadiran Vano.
"Ehem" Vano berdehem dan membuat mereka kini mulai menormalkan dirinya.
"Selamat pagi" sapa Vano dan ia mulai duduk di kursinya.
"Silahkan di mulai" kata Vano.
Seperti biasa tugas dalam masalah Presentasi adalah tugas Ziva. Asisten yang menjelaskan dan bos duduk santai. Lalu rekan bisnis yang mendengarkan. Ziva mulai berdiri dan memulai Presentasinya.
Tapi sepertinya semua orang yang ada di ruangan itu. Lebih fokus pada wanita yang sedang menjelaskan itu. Bukan pada apa yang di jelaskan wanita itu.
"Apa ada pertanyaan?" tanya Ziva. Setelah ia rasa sudah cukup banyak menjelaskan.
"Tidak. Saya setuju dan kita tanda tangan kontrak" kata Padil salah satu rekan bisnis Vano.
"Oke. Terimakasih tuan" jawab Ziva. Dengan sopan.
Kini rapat sudah selesai Ziva hendak keluar tapi Padil menghentikan langkahnya.
"Nona, em nama anda siapa?" tanya Padil.
"Nama saya Ziva tuan" jawab Ziva.
"Apa saya boleh meminta nomor ponsel anda?" kata Padil.
Ziva menatap Vano yang sedang duduk dan menatapnya tajam. Dan Ziva kembali menatap Padil.
"Boleh tuan" jawab Ziva.
Ziva memberikan nomor ponselnya pada Padil. Padil sangat bahagia karena bisa mendapatkan nomer ponsel Ziva.
"Nanti malam kalau kamu tidak sibuk. Kita makan malam bersama. Bagai mana?" tanya Padil.
"Oke. Tapi tuan harus menjemput saya" kata Ziva.
"Tentu saja" jawab Padil.
Ziva keluar dari ruang rapat itu. Ia memutar bola matanya. Karena ia merasa bosan dan basi dengan tingkah laki-laki yang selalu menggodanya.
"Kalau bukan buat manas-manasin Vano. Ogah" batin Ziva.
Ziva hanya meng-iakan ajakan Padil. Di hadapan Vano. Sedangkan kini di otaknya. Bagai mana cara menggagal kan acara makan malam itu.
__ADS_1
Ziva terus berjalan dan memasuki rungannya. Ternyata Vano juga masuk tapi Ziva tidak menyadari. Kalau Vano mengikutinya sejak tadi. Vano menarik tangan Ziva dan menyudutkannya di dinding. Ziva merasa sedikit terkejut. Tapi dengan cepat ia kembali menormalkan dirinya.
"Kau. Kenapa kau jadi semurahan ini" kata Vano. Sambil menggit giginya sendiri karena menahan emosi.
"Kenapa bertanya. Bukan kah kau tau aku memang murahan?" Ziva menyindir Vano.
"Dan berhentilah menjadi murahan" kata Vano.
"Oh. Tidak bisa. Murahan itu sudah melekat dalam diri ku" jawab Ziva santai.
Vano terus menyudutkan Ziva bahkan Vano mengikis jarak di andara mereka. Vano bisa merasakan tub*h Ziva. Karena Vano mulai menghimpit istri keduanya itu. Pandangan Vano fokus pada bibir Ziva. Ia sudah sangat merindukannya.
Vano terus mendekatkan wajahnya. Tapi sayang tiba-tiba pintu terbuka.
Clek!.
Dengan cepat Vano memundurkan tubuhnya. Dan menjauh dari Ziva. Karena seseorang masuk ke ruangannya.
"Mengganggu sekali" batin Vano.
"Tegang tapi tiba-tiba lebek. Gara-gara kedatangan istri tua" batin Ziva.
Ziva tersenyum dan tertawa dalam hatinya. Karena melihat wajah prustasi Vano. Yang gagal lagi melepaskan hasratnya.
"Em" jawab Vano.
"Hari ini kita Fiiting. Jadi ayo kita berangkat" kata Keyla dan memeluk lengan Vano.
"Iya" jawab Vano dengan malas.
Resepsi pernikahan Vano dan Keyla memang akan di selengarakan dalam beberapa hari lagi. Sebenarnya Vano sudah mulai malas dan ia tidak berniat melanjutkan resepsi itu. Akan tetapi semuanya sudah jauh-jau hari di rencanakan. Dan kedua orang tuanya sudah mempersiapkan segalanya.
Dan Vano tidak ingin mengecewakan keluarga besarnya. Dan pesta itu tidak mungkin lagi di batalkan. Sebab undangan juga sudah di sebar. Namun bila ada cara untuk membatalkannya Vano akan memilih cara itu. Karena ia merasa sudah mulai jenuh dengan sikap Keyla.
"Em kau. Nama kamu siapa?" tanya Keyla. Menujuk Ziva dengan tangan kirinya.
"Saya Ziva Nyonya" jawab Ziva sopan.
"Kamu ikut kami. Karena kamu harus membawa barang belanjaan saya nantinya" kata Keyla dengan angkuhnya.
"Keyla. Tidak usah mengajak Ziva. Dia banyak pekerjaan yang harus di selesai kan" kata Vano.
Vano membuat alasan seperti itu. Sengaja agar Ziva tidak merasa lelah karena Keyla pasti akan memerintah Ziva seenaknya.
__ADS_1
"Iya Nyonya. Saya akan ikut Anda" jawab Ziva.
"Hahahaa. Tunggu saja apa yang akan aku lakukan" batin Ziva.
Karena ide gila mulai bermunculan di otaknya. Yang akan membuat Vano panas dingin melihatnya.
"Oke. Ayo kita berangkat" Keyla mulai berjalan sambil menggandeng tangan Vano.
Sedangkan Ziva dan Arman berada di belakang. Kedua orang yang akan mengadakan resepsi itu. Ziva mendekat pada Arman. Dan menarik Arman kebelakang agar menjauh dari Vano dan Keyla.
"Nona apa yang anda lakukan" kata Arman. Arman merasa terkejut karena Ziva memegang tangan nya.
"Kamu suka sama Seli kan?" tanya Ziva tho the point.
Arman merasa terkejut. Dengan apa yang di katakan Ziva.
"Dari mana dia tau" batin Arman.
"Aku tau. Kemarin sewaktu Seli kemari menemui Sandi kau selalu memperhatikannya" jawab Ziva.
"Tapi bukan seperti itu Nona" kata Arman. Yang mulai membantah ucapan Istri bosnya itu.
"Kau mau aku bantu atau tidak?" tanya Ziva memberi tawaran pada Arman.
"Maksud Nona apa" tanya Arman karena ada sedikit rasa takut di hati Arman. Bagai mana pun ia sedang berhadapan dengan Istri bosnya.
"Kalau kau ingin memiliki Seli. Aku bisa membatu mu" kata Ziva.
"Apa anda serius Nona?" tanya Arman. Karena sejujurnya ia memang menyukai Seli dan ia tidak tau bagai mana cara mendekati wanita itu. bahkan untuk nomer ponselnya saja Arman tidak punya.
"Serius" jawab Ziva. Ada seringai licik di wajah Ziva karena ia akan segera menjalankan rencananya. Setelah Arman menyetujui kesepakatan kerja sama Antara dirinya dan Arman.
"Tapi kau harus menolong ku juga" kata Ziva sambil menaik turunkan alisnya.
Arman merasa wajah Ziva yang seperti ini hampir sama dengan wajah Vano yang horor. Arman dapat merasakan hawa-hawa tidak enak dengan senyuman Ziva saat ini.
"Tapi kalau Big bos marah pada ku bagai mana Nona" kata Arman. Arman sebenarnya tidak yakin bekerja sama dengan Ziva. Karena ia takut kalau Ziva akan mengkambing hitam kannya.
"Kalau kau tidak mau. Aku bisa membuat Bos mu itu menggantung mu di gedung yang paling tinggi di dunia ini" Ancam Ziva.
"Istrinya lebih sadis" batin Arman.
"Bagai mana?" tanya Ziva.
__ADS_1
Arman dengan berat hati mengangukan kepalanya. Karena ia juga ingin dekat dengan Seli sahabat Ziva. Tapi ia juga takut kalau Ziva akan melakukan hal yang tidak terduga bila Arman menolaknya.