Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 59


__ADS_3

Setelah lima jam lama nya Sinta dan Ziva jalan-jalan di mall kini kedua nya memutuskan pulang. Segala perawatan sudah mereka lakukan dan barang belanjaan mereka pun sudah memenuhi bagasi mobil. Dan kini keduanya sudah duduk di mobil dalam perjalanan pulang. Hari sudah semakin gelap dan Ziva merasa tubuh sangat lelah.


Sinta memang sangat mengiginkan seorang anak perempuan dan juga anak laki-laki tapi apa mau di kata ia hanya di karuniai satu anak laki-laki saja. Dan itu tidak apa bagi Sinta karena ia akan punya menantu juga dan ia akan menjadikan menantunya seperti anak nya sendiri. Selama ini Sinta yang memiliki hobi berbelanja tapi ia hanya pergi bersama teman-teman nya saja.


Kadang ia merasa iri pada teman-teman nya karena mereka memiliki anak perempuan. Namun setelah Vano menikah dengan Keyla, Sinta sudah memiliki teman kalau untuk shoppyng dan kini posisi Keyla di ganti kan Ziva. Sinta tidak bisa berbuat apa-apa ia memang kasian pada Keyla tapi mau bagaimana lagi ia pun menginginkan seorang cucu dan Sinta tau Keyla tidak pernah mau mengandung karena ia takut tubuh nya menjadi rusak akaibat hamil dan melahirkan.


Setelah tiga puluh menit perjalanan kini Sinta dan Ziva sudah sampai di rumah. Keduanya mulai turun dari mobil dan melangkah masuk. Kini keduanya sudah masuk kedalam rumah Ziva sangat shock mendapati Vano yang terlelap di sofa ruang tamu. Dengan jas dan sepatu yang masih melekat di tubuh nya.


Ziva berniat ingin mendekat dan melepaskan sepatu yang masih di pakal Vano. Dan membangunkan Vano agar pindah kekamar tapi Sinta menahan lengan Ziva dan ia menggeleng pertanda ia tidak memperbolehkan Ziva untuk mendekati Vano.


"Ayo kekamar!" kata Sinta tanpa bisa di bantah.


"Tapi Ma" jawab Ziva sambil melihat Vano yang terlelap di sofa.


"Ayo" Sinta menarik tangan Ziva kekamar dan Ziva mengikuti Sinta.


"Ma gimana dengan Mas Vano" kata Ziva yang lengan nya terus di tarik Sinta menuju kamar.


"Biarkan saja" jawab Sinta.


"Tapi Ma. Mas Vano pasti belom makan" kata Ziva.


Sinta menghentikan langkah nya ia tersenyum lembut pada menantunya itu. Ia berpikir keinginan Vano untuk mendapat perhatian dari istrinya kini sudah terpenuhi. Tapi tetap saja ia ingin memberikan anak nya itu sedikit hukuman agar tidak terbiasa mendahulukan keegoisan yang sudah tertanam pada diri putranya itu.


"Ziva biarkan saja Vano belum makan. Dan kamu tidak boleh bertemu atau pun berbicara dengan nya" kata Sinta.


"Kenapa Ma?" tanya Ziva.


"Ini pelajaran buat suami kamu yang egois itu. Supaya dia bisa merubah sikap seenak nya itu. Dan kamu harus menghukumnya biar dia tau dia itu sangat membutuhkan kamu" kata Sinta.

__ADS_1


"Apa itu perlu Ma?" tanya Ziva.


"Sayang kamu tidak boleh diam saja dan menerima semua kekejaman Vano dan Mama tidak suka di dalam rumah tangga ada suami yang selalu menindas istri" kata Sinta dengan senyuman.


"O" kata Ziva sambil menggaruk kepalanya.


"Kepala kamu kenapa gatal?" tanya Sinta.


"Enggak Ma" jawab Ziva.


"Kalau ia besok kita kesalon lagi. Kalau bukan kamu yang menghabiskan uang suami kamu siapa lagi. Ingat jangan sampai kamu tidak menghabiskan uang suami mu sementara orang lain di luar sana yang mengabiskan uang suami kamu. Kamu harus cantik agar tidak ada pelakor di antara kalian. Mama mau nya kamu saja menantu Mama itu sudah cukup jangan ada tambahan lagi" kata Sinta.


Ziva diam saja ia bingung ternyata mertuanya ini sangat perduli pada nya. Dan ia begitu bahagia tidak ada ibu kandung ibu mertua juga tidak apa. Karena kini ibu mertua bisa menggantikan kasih sayang ibu kandung yang sudah tiada.


Clek!.


"Papa sedang apa?" tanya Sinta yang mulai melangkah masuk sementara Ziva hanya berdiri di depan pintu kamar yang terbuka.


"Papa sedang menunggu Mama" jawab Hardy.


Sinta membuka lemari dan ia mengambil piama tidur kesayangan nya dan membawanya kekamar mandi. Hardy bingung mengapa istrinya membawa piama kekamar mandi biasanya juga Sinta memakai baju di hadapannya juga tidak masalah. Dan ia tidak mau bertanya karena Ziva berdiri di depan pintu kamar yang terbuka.


Hardy menyimpan semua pertanyaan nya itu dan setelah Sinta selesai mandi dan memakai piamanya ia mulai keluar dari kamar mandi. Sebenarnya Hardy ingin memeluk istrinya tapi lagi-lagi alasannya masih sama ada menantu di ambang pintu jadi keinginnya harus kembali di simpan dulu.


"Papa Mama tidur di kamar tamu" kata Sinta setelah ia selesai mengeringkan rambut nya.


"Di kamar tamu?" tanya Hardy tidak percaya mendengar ucapan Sinta.


"Ia" jawab Sinta. Yang mulai bangun dari kursi meja rias nya.

__ADS_1


"Kenapa tidur di kamar tamu Ma?" tanya Hardy.


"Mama mau tidur sama cucu dan menantu Mama" jawab Sinta yang sudah berdiri di hadapan Hardy.


"Tapi kan Ziva tidur sama Vano Ma" kata Hardy.


"Tidak boleh" jawab Sinta.


"Kenapa?" tanya Hardy dengan sejuta kebingunagannya.


"Karena dia harus mendapat hukuman. Karena sudah berani berbuat kasar pada istrinya sendiri. Kalau bukan sama istrinya dia sayang sama siapa lagi apa dia mau kasar sama istrinya terus sayang sam istri orang?" tanya Sinta.


"Mama apa sih itu kan urusan rumah tangga mereka" kata Hardy.


"Oh jadi Papa mendukung perbuatan Vano yang mengasari istrinya?" tanya Sinta dengan emosi.


"Bukan begitu Ma" kata Hardy dengan lembut karena ia sangat malu bila Ziva mendengar perdebaran mereka.


"Terus bagai mana?" tanya Sinta sambil berteriak dan berteriak.


"Ya terserah Mama saja" kata Hardy yang sangat malas berdebat dengan Sinta karena ia tau ia tidak akan pernah menang bila berdebat dengan bidadari nya itu.


"Papa mau punya menantu berapa? Kalau anak itu tidak di beri hukuman ia nanti juga akan mencari istri lagi dengan alasan yang lain lagi. Kali ini berbeda Ziva itu sedang mengandung dan sebentar lagi melahirkan dan Mama tidak mau Vano mencari istri lagi. Kalau sama Keyla masih bisa Mama maklumi karena mereka belum memiliki anak tapi kalau kali ini juga dia akan berulah. Mama lempar dia kejalanan biar jadi gembel" kata Sinta.


"Ya sudah sana Mama kekamar tamu. Ziva lagi hamil kasian dia berdiri Mama enggak takut apa cucu kita kenapa-kenapa" kata Hardy.


"Oh iya Mama lupa" kata Sinta.


Hardy lebih memilih diam karena ia yakin kalau lebih lama lagi berdebat dengan Sinta. Ia juga akan mendapan semburan dari Sinta dan ia pun tidak mau menjadi pelampiasan kemarahan Sinta dan ia memilih mengalah untuk malam ini Hardy pikir tidak apa.

__ADS_1


__ADS_2