
Satu bulan kemudian.
"Mas," Ziva merasa kesal pada sang suami karena hari sudah sangat malam tapi Vano masih berada di ruang kerjanya bersama dengan Arman, keduanya terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Sayang," Vano menatap arah pintu di mana ada istri tercinta yang terlihat sedang cemberut, hingga Vano bangun melangkah mendekati sang istri.
"Mas ayo bobo," Ziva seperti anak kecil karena kini ia malah sering kali cemburu karena Zie selalu di peluk Vano. Mendekati hari beberapa bulan kelahirannya Ziva terlihat semakin manja dan Zie juga seperti ingin selalu di perhatikan.
"Nanti yang, Mas ada kerja sedikit lagi," Vano menarik Ziva ikut dengannya duduk di sofa tapi tidak seperti biasanya Vano yang memangku Ziva, kini Vano bukan tidak sanggup memangku sang istri yang sangat gemuk tapi karena ia tidak bisa melihat laptop di hadapannya karena kegemukan sang istri.
"Tapi Ziva pengen bobo, sambil di peluk," Ziva bersender dan memeluk lengan Vano, Vano menatap lucu sang istri dengan gemas Vano menarik hidung Ziva.
"Bentar lagi ya sayang ku," jawab Vano meminta agar Ziva mengerti.
Lama Ziva menunggu sampai ia menghabiskan satu toples cemilan dan meminum secangkir kopi milik Vano, namun pekerjaan Vano belum juga selesai hingga Ziva sedikit memikirkan ide cemerlang.
"Arman," Ziva kini malah berpikir jika Armam bisa di jadikan alat.
"Ya kenapa?" jawab Arman yang masih fokus dengan kertas-kertas di hadapannya.
"Seli pasti nungguin kamu di rumah," kata Ziva yang mulai menhalankan idenya.
"Ya itu jelas kan istri soleha," jawab Arman dengan bangga.
"Kamu nggak kasihan sama dia, sedih nungguin udah malam begini tapi kamu belum pulang juga," kata Ziva pagi berharap misinya berhasil, Vano tau dan bisa membaca taktik yang di mainkan Ziva.
"Percuma di rumah, Arman puasa yang belum bolehkan Selinya," tutur Vano mencoba menjaili sang istri, Vano tau rencana Ziva agar Arman pulang dan Ziva bisa mengajak dirinya tidur. Bukan Vano tidak mau di peluk sang istri, tapi karena pekerjaannya memang harus segera siap.
"Em, makanya aku males deket bini dua bulan puasa sangat menyiksa," tandas Arman dengan kesedihan.
"Makanya jangan kabur, kan nambah deh puasanya," Vano juga tertawa melihat wajah Arman.
__ADS_1
"Tapi Seli udah bisa Arman, kamu nggak itung apa gimana ini udah boleh dari beberapa hari yang lalu," jelas Ziva menertawai Arman.
"Kamu yang serius dong," Arman malah kesal dan menggaruk kepala.
"Ck, lu nggak percaya tanya bini lu," Ziva menunjuk pintu agar Arman cepat pulang.
"Vano, subuh-subuh besok gw balik lagi ya," Arman melompati meja berlari dengan cepat bahkan tanpa meminta persetujuan Vano, rasanya iya sudah sangat rindu pada belaian hangat sang istri yang sudah menjadi candu baginya namun tidak ia rasakan beberapa hari ini.
"Sayang......" Vano mencubit pipi Ziva dengan gemas, istrinya sungguh pandai membuat pekerjaannya tertunda.
"Hehehe," Ziva malah cengengesan menatap Vano yang menarik pipinya.
"Kenapa nakal," Tanya Vano.
"Hehehe, Mas tadi peluk Zie sekaran Ziva juga pengen," pinta Ziva memeluk Vano.
"Yakin cuman minta peluk?" Vano tau istrinya sekarang sedang ingin yang lain, kehamilan Ziva yang kedua ini sangat membawa banyak keuntungan menurut Vano. Sebab Ziva sangat agresif dalam hal ranjang.
"Itu apa?" Vano malah berpura-pura bodoh dan polos.
"Yang itu loh Mas," Ziva menyimpan wajahnya dengan memeluk lengan Vano.
"Apa? Mas masih polos kalau kamu nggak ngomong Mas nggak ngerti," Vano sangat suka jika Ziva berbicara hal yang hanya di pahami suami istri, menurut Vano hal itu terlihat semakin membuatnya berhasrat.
"Polos apaan, nggak ada orang polos ngaku polos," Ziva kini malah di buat kesal oleh Vano, namun dengan cepat Vano mencari cara agar istrinya tidak marah agar ia pun bisa segera beraksi.
"Becanda yang, yuk ke kamar," Vano menarik tangan istrinya dan keduanya berjalan menujuk kamar.
"Mas..." Ziva meringis ketika ia berbali ternyata tangan Vano sudah meremas dan memelintir dua bagian sensitif, namun bagian itu pula yang membuat kenikmata itu hadir.
"Gimana?" Vano sangat suka melihat sang istri tersiksa karena setelah itu sang istri lah yang akan meminta darinya, setelah sang istri meminta maka semuanya terasa indah, sebab goyangan Ziva dengan tanpa sehelai benang pun menungunggangi sungguh menjadi kan seakan tiada lebih indah selai itu.
__ADS_1
"Bunda," Teriak Zie dari luar kamar hingga Vano menatap Ziva dengan wajah kecewa.
"Ya sayang," Ziva membuka pintu dan benar ternyata Zie yang memeluk boneka bersama sang pengajuhnya juga berdiri di sana.
"Bunda, Zie bobo cini," Zie masuk dan naik keranjang milik orang tuanya, ia langsung berbaring di bagian tengah ranjang.
Vano menggaruk kemala dan juka ikut naik keranjang, Ziva tersenyum ia juga menutup pintu dan ikut naik keranjang.
"Zie bobonya di dekat Ayah aja ya," Kata Vano sebab Zie masih terlalu kecil dan dulu pernah tidur di tengah-tengah antara Ziva dan Vano tapi bocah itu malah tanpa sadar menendamg perut sang Bunda.
"Ndak mau, Zie di cini," Zie yang ingin tidur di tengah agar di peluk kedua orang tuanya masih berusaha Vano dan Ziva mengasihaninya.
"Ya udah ayo," Vano memberikan sang anak untuk tidur di tengah, hingga beberapa saat kemudian Zie tertidur memeluk sang Bunda yang juga ikut tertidur.
"Ssst," Ziva merasa ada yang bermain di bagian tubuhnya hingga ia merasa sesuatu kenikmatan.
"Mas," Ziva membuka mata ternyata sang suami dengan cepat Vano melahap bibir sabg istri, Ziva menolak takuk Zie melihat itu sangat tidak baik sekali.
"Zie udah Mas angkat ke kamarnya," Kata Vano dengan suara beratnya karena menahan gaira yang sedari tadi membara namun harus di tajan karena sang putri.
"Mem," Belum sempat Ziva menjawan kembali Vano suda melanjutkan kembali hingga Ziva malah ikut terbawa suasana.
"Mas pengen tengokin yang di dalam yang," tutir Vano.
"Ya Mas," Ziva sangat suka dengan bagian itu, dengan pelan namun pasti keduanya berpacu di tengahnya malam yang dingin namun penuh keringat yang membasahi. Tak ada kata menolak untuk hal itu walau pun barusan ada gangguan dari sang putri, namun tetap saja semua kembali seperti rencana.
"Ssstttt, Ziva udah sampek," Tutur Ziva dengan nafas memburu.
"Sama-sama yang," jawab Vano mengecup kening Ziva.
Hingga semuanya tiba, pengantin lama serasa pengantin baru begitu lah sekira kata yang menggambarkan, sesuatu yang selalu menghiasi rumah tangga mereka kini dan semoga sampai nanti.
__ADS_1