
Vano terus berjalan dan mengambil kunci mobilnya yang tadi tergeletak di atas nakas. Setelah itu ia menuruni tangga.
"Vano" Sinta memanggil Vano. Karena Sinta melihat Vano sangat buru-buru.
"Ada apa Ma?" tanya Vano dan menghentikan langkah nya.
"Kamu baru pulang dan apa kamu mau pergi lagi?" tanya Sinta.
"Vano ada urusan mendadak Ma" jawab Vano dan mulai melanjutkan langkah nya. Namun Sinta masih menahan Vano dengan reflek Sinta memegang tangan kiri Vano.
"Vano. Mama rindu sekali kita kumpul-kumpul seperti dulu" kata Sinta.
"Ya Ma. Nanti kalau urusan Vano selesai Vano langsung balik dan kita makan bersama" kata Vano sambil memeluk sebentar Sinta dan setelah itu melepaskan pelukannya.
"Janji loh" kata Sinta.
"Iya Ma. Tapi lepasin dulu tangan Vano. Biar Vano bisa pergi dan cepat kembali" kata Vano.
Sinta mengangguk dan mulai melepaskan tangan Vano. Vano berlari dan pergi meninggalkan Sinta karena ia sangat menghawatirkan Ziva. Dan perasaan nya jadi tidak tenang melihat Ziva pergi bersama Bilamar.
Setelah kepergian Vano. Sinta mulai menyadari cincin yang di gunakan Vano ada sedikit kemiripan dengan cincin yang di pakai Ziva. Namun dengan cepat ia membuang pikiran itu. Tapi tetap saja ia sedikit bingung.
"Aku ingat seperti apa bentuk cincin pernikahan Vano dan Keyla. Dan cincin itu aku sendiri yang memesan lalu desain itu sesuai keinginan ku" gumam Sinta.
"Keyla kamu mau kemana?" tanya Sinta. Karena setelah kepergian Vano. Keyla juga ikut berlari dan menyusul Vano.
"Keyla mau ikut Vano Ma" kata Keyla dan mulai berjalan. Namun langkah nya terhenti saat Sinta menarik tangannya.
"Kamu tidak usah pergi" kata Sinta.
"Kenapa Ma?" tanya Keyla.
"Kalau kamu menyusul Vano. Nanti dia marah dan kalian ribut. Kamu mau?" tanya Sinta sambil mengangkat tangan Keyla yang ia pegang dan ingin memastikan cincin yang Keyla pakai.
"Tapi yang Keyla pakai masih cincin ini. Cincin ini aku yang mendesain nya sendiri" batin Sinta.
"Mama?" Keyla memanggil Sinta. Karena Sinta diam sambil memegang tangannya.
"Eh" Sinta tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Mama kenapa?" tanya Keyla.
"Tidak. Kamu kembali ke kamar saja ya. Mama tidak mau kalau kalian ribut terus" kata Sinta.
"Ya Ma. Baik lah" Keyla mengurungkan niat nya mengejar Vano karena ia membenarkan ucapan mertuannya dan ia kembali kekamar.
"Apa mungkin Vano mengganti cincin nya? Tapi kalau Vano mengganti cincin nya. Itu berarti Keyla juga. Tapi kenapa Keyla masih memakai cincin yang dulu ku belikan. Tapi apa ia Vano mengganti cincin milik nya dan kebetulan ada kemiripan dengan cincin milik Ziva" batin Sinta ia terus berdebat dengan pikirannya.
***
Vano mengemudi dengan kecepatan penuh karena ia sudah tertinggal cukup jauh dengan Bilmar. Namun kini Mobil Bilmar sudah berhenti di halaman rumah Ziva. Dan Bilmar melihat dari kaca spion kalau mobil Vano juga sudah berheti di belakang mobil nya.
"Ziva. Aku tidak usah mampir aku sedang ada urusan" bohong Bilmar. Karena ia tidak ingin berdebat dengan Vano.
"Ya sudah terimakasih" kata Ziva.
Setelah Ziva turun. Bilmar kembali melanjutkan perjalanannya. Dan Ziva mulai membuka gerbang lalu setengah berlari masuk ke rumah nya karena ia sangat hawatir dengan keadaan Daffi.
"Daffi" kata Ziva. Kini Ziva sudah masuk kedalam kamar kedua adik kembarnya itu.
"Kak Ziva" kata Daffi. Yang sedang duduk di ranjang dengan kaki yang di perban.
"Tadi Daffi jatuh Kak. Gara-gara ikut balap sepeda di depan gang sana" kata Daffi.
"Oh. Ya sudah tidak apa-apa besok-besok main lagi tidak boleh cengeng. Ingat ada Kakak dan Kakak tidak suka adik Kakak cengeng" kata Ziva lalu memeluk Daffi.
Ziva memang selalu mengajarkan kedua adik nya menjadi orang yang kuat dan tidak lemah. Karena Ziva tau kedua adik nya adalah sumber kekuatannya. Dan ia tidak mau adik nya bisa di tindas dan di rendahkan orang lain. Maka dari itu Ziva selalu mengajarkan adik nya menjadi kuat. Dan ia sadar mereka harus bisa melindungi diri mereka sendiri karena mereka tidak bisa meminta perlindungan dari orang lain.
"Ya Kak Daffi kuat" kata Daffi.
"Daffi kamu kenapa?" tanya Vano yang baru saja masuk ke kamar itu.
"Daffi jatuh Kak" jawab Daffi.
"Daffa jatuh juga" tanya Vano.
"Tidak Kak. Daffa tadi menang balap nya dan tidak jatuh" jawab Daffa dengan bangga.
"Wah hebat. Daffi juga hebat walau pun kalah tapi sudah mencoba itu juga sudah membuktikan kalau Daffi orang yang berani" kata Vano berusaha menghibur Daffi yang sedang sedih.
__ADS_1
"Daffi juga hebat ya Kak?" tanya Daffi dengan bangga.
"Iya. Itu baru lelaki" kata Vano.
"Ya sudah kalian istirahat ya Kakak juga mau kekamar dulu nanti Kakak ke sini lagi" kata Ziva. Dan Ziva mulai keluar dari kamar itu.
"Kak Vano" kata Daffi.
"Ya" jawab Vano.
"Kak temen Daffi punya mobil mainan keren banget" kata Daffi.
"Oh. Ia nanti kalian juga beli. Kak Arman nanti yang akan belikan untuk kalian berdua" kata Vano.
"Beneran Kak?" tanya Daffa dan Daffi bersamaan dengan bahagia.
"Iya dong" jawab Vano.
"Kakak ke kamar dulu. Kalian istirahar nanti Kak Arman ke sini mengantarkan mobil terbaru untuk kalian" kata Vano.
"Iya Kak terimakasi" kata Anak kembar itu dengan bahagia.
"Sama-sama" jawab Vano.
Vano sangat senang bisa membahagiakan kedua adik kembar nya itu. Apa lagi Daffa dan Daffi sudah mulai dekat dengannya. Bahkan kini keduanya sudah berani meminta mainan pada nya Vano berpikir kini sudah tidak ada lagi kecanggungan sepeti dulu antara ia dan si kembar itu.
"Sayang" kata Vano.
Saat ia memasuki kamar nya bersama Ziva. Awal nya Vano memang ingin marah saat tadi Ziva di antar Bilmar pulang tapi setelah ia tau alasan Ziva pulang adalah untuk si kembar ia sudah melupakan kemarahannya.
"Sayang" Vano lagi-lagi memanggil Ziva. Karena Ziva tidak menjawab panggilannya. Namun telinga Vano mulai mendengar gemercik air dari kamar mandi. Vano yakin saat ini Ziva sedang mandi.
"Sayang" kata Vano dan kini ia sudah masuk kedalam kamar mandi.
"Mas" Ziva terkejut karena Vano sudah masuk dan memang ia tadi lupa mengunci pintu kamar mandi.
"Sayang" kata Vano dan ia pun mulai melucuti pakaiannya. Sama seperti Ziva yang tidak memakai sehelai benang pun di bawah guyuran shor itu.
"Mass" Ziva mulai mendesah karena Vano mulai memainkan tubuh nya di bawah guyuran air shower itu.
__ADS_1