Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON ll ■ Bab 103


__ADS_3

"Mas emang kamu masih punya Nenek?"


"Nggak yang," jawab Vano yang tengah berbaring di ranjaang.


"Terus siapa dong Mas?" tanya Ziva bingung, tidak mungkin kan Neneknya yang datang, rasanya mustahil.


"Nggak tau yang, udah sini dulu," Vano mengerakan tangannya meminta Ziva mendekatinya.


"Kita nggak kebawah dulu Mas, mata tau penting."


"Nanti, yang bobok dulu," Vano menarik Ziva untuk naik keranjang.


"Mas, kalau saudara kita ternyata yang di bawah gimana?" Ziva merasa tidak enak ada seseorang menunggunya, sementara ia masih bermesraan dengan sang suami.


"Yang Mas jarang libur ya, dan Mas nggak punya banyak waktu sama kamu selain lagi cuti begini. Jadi Mas minta kamu fokus sama Mas kalau Mas lagi di rumah."


"Ya tapikan Mas."


"Niat baik nggak baik di tunda," tutur Vano.


"Niat baik yang gimana Mas?" tanya Ziva sambil menarik hidung mancung Vano.


"Niat baik tambah anggota baru sayang ku," bisik Vano dengan mesra di telinga Ziva.


"Itu bukan niat baik Mas ku."


"Tapi?"


"Masnya yang niat banget!" kesal Ziva.


"Hehehe, ibadah yang," elah Vano.


"Mas serius nggaksih pengen punya anak enam, kebanyakan Mas. Ziva takut."


"Dua juga cukup yang."


"Ngak maksa kan Mas?"

__ADS_1


"Nggak yang, tapi Mas nggak mau satu minimal dua ajalah," kata Vano, paling tidak kalau dua anak Zie tidak kesepian seperti dirinya. Salah satu penyebab Vano sangat dekat dengan Bilmar adalah karena keduanya sama-sama anak tunggal. Hingga keduanya seperti saudara sekandung, walaupun memang keduanya masih memiliki ikatan darah.


"Gitu dong Mas jangan enam, remuk badan melahirkan itu ngeri Ziva Mas."


Ziva mengingat saat ia melahirkan Zie, di tambah ada insiden yang menghambat laju kendaraan mereka saat itu. Bahkan sampai Ziva pendaraha namun senyum Ziva terbit, saat melihat wajah sang putri yang telah ia lahirkan walau pun dengan cara oprasi caesar, namun Ziva merasa sempurna saat berhasil memberikan seorang anak untuk Vano.


"Yang kamu udah nggak minum pil kb kan?" tanya Vano,


Vano memang ingin cepat Ziva hamil, lagi pula usia Zie sudah satu tahun. Di tambah lagi Zie selalu bersama Omanya jadi Vano dan Ziva tidak di repotkan dengan anak tersayangnya itu walaupun mereka juga ingin Zie bermanja pada mereka, tapi mau bagaimana lagi Sinta akan ngambek kalau tidak di bolehkan sehari saja tanpa Zie. Dan Vano tidak mau menyakiti hati sang Mama.


"Nggak sih Mas, kan dua minggu lalu Mas suruh berhenti."


Vano memang sudah tidak membolehkan Ziva meminum pil kb, dan Ziva menurut saja mengikuti keinginan sang suami. Lagian tidak ada salahnyakan untuk menambah anggota baru agar rumah mereka rebih rame.


Rumah mendiang orang tua Ziva kini sudah di renovasi oleh Vano, namun tidak dengan kamar orang tua Ziva. Daffa dan Daffi tidak ingin kamar itu di rubah sedikit pun, sebab di kamar itu keduanya sering kali melepas rindu pada sang mama dan papa.


Daffa dan Daffi bahkan hampir setiap malam tidur di kamar itu, dan Vano pun mengikuti keingin kedua anak kembar itu.


TOK TOK TOK.


Terdengar seseorang mengetuk pintu lagi, padahal Vano masih ingin bercerita dengan Ziva, sungguh Vano sangat rindu saat berdua saja bercerita tentang masa depan dengan sang istri. Karena waktu Vano akhir-akhir ini hanya bekerja dan bekerja hingga membuatnya jarang di rumah.


"Nanti yang, kalau kamu tetap ngotot Mas pergi aja lah kerja, dua hari lagi Mas keluar negeri. Mas percepat saja keberangkatannya." kesal Vano.


Vano sangat tidak suka dengan tamu yang datang saat tidak tepat waktu itu, lagi pula saat mbok Yem menyebut kata Nenek Vano curiga jika yang menunggu mereka di bawah adalah ibu tiri dari mendiang papa Ziva.


Seseorang yang sedang di selidiki Vano terlibat dalam pembunuhan berencana pada kedua orang tua Ziva.


"Mas apasih, pakek ngancam lagi," Ziva ingin tertawa mendengar ancaman sang suami, mengancam mau pergi lebih cepat apa coba. Mau pergi sehari saja Vano sudah beribukali sehari menghubunginya.


Ziva ingat beberapa bulan lalu, Vano perdi dinas keluar negri selama satu minggu. Sepanjang malam Vano menelponnya denga vidio call bahkan sampai pagi panggiannya, tetap terhubung. Seperti orang orang pacaran saja.


"Ya makanya, nanti ajah paling tamu nggak penting juga," Kesal Vano memberi kan Ziva alasan.


"Mas kok malah kayak Zie sekarang ya jadi suka maksa," seloroh Ziva, sambil mengingat tingkah sang putri sangat sama persih seperti Vano yang suka memaksa dan tidak menerima penolakan.


"Ya kan Zie itu anak Mas yang." Kesal Vano.

__ADS_1


"Eh, iya apa? Ziva lupa Mas," goda Ziva menertawai Vano yang terlihat kesal padanya.


"Kamu jangan macam-macam kalau ngomong, abis nanti kamu sama Mas," kesal Vano, ia sangat tidak suka bercandaan Ziva yang seperti itu. Sungguh kalau itu benar ia bisa berubah menjadi hewan yang buas, tanpa perasaan sedikit pun.


"Bercanda Mas," Ziva mencoba menenangkan Vano, dan ia juga merasa bersalah atas ucapannya.


"Nggak lucu becandaan kamu yang."


"Iya nggak lagi ngomong gitu."


"Sampek ia lagi awas ya."


TOK TOK TOK.


Lagi-lagi terdengar suara ketukan pintu.


"Mas ada yang ketuk pintu lagi," kata Ziva.


"Sebentar yang." Kata Vano yang kembali melanjutkan kesenangannya.


"Kalau penting gimana Mas?"


"Nggak ada yang lebih penting dari kesenangan Mas ini yang," jawab Vano ia tidak perduli siapa yang mengetuk pintu, atau siapa yang menunggu mereka di bawah.


"Mas," Ziva memukul kepala Vano saat mengkelitiki nya.


"Hehehe gemes yang, jawab Vano pipi kamu juga sekarang cabi banget." Ziva kini memang terlihat sangat berisi, apalagi di bagian pipinya. Ziva ingin kembali kurus seperti dulu dengan berolah raga, namun Vano melarang sebab ia lebih suka Ziva yang sekarang yang sangat menggemaskan. Dan terlihat sangat cantik serta sexy di mata Kenzi Zavano.


"Ssst, Mas," Setelah permainan yang menyenangkan keduanya selesai selama satu jam, kini Ziva sudah tidak bisa bangun lagi Vano bermain dengan kasar hingga membuatnya seperti perawan yang susah berjalan.


"Sayang maaf ya."


"Kesambet ya Mas?"


"Hehehe."


"Mas mandi yuk, gendong tapi ya, nggak kuat jalan, lagian di bawah ada tamu yang nunggu kita," Ziva kembali mengingat ada tamu yang menunggu mereka tapi keduanya malah di kamar saja.

__ADS_1


"Tamu nggak tau waktu yang," ketus Vano karena ia masih ingin tidur siang bersama Ziva, tapi terhambat karena tamu yang tak di undang.


"Mas apa sih," Ziva terkekeh melihat wajah kesal Vano.


__ADS_2