Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 164


__ADS_3

Kini Ziva sudah berada di rumah sakit bersama dengan Vano, Ratih dan juga Sinta. Ziva mencoba tersenyum walau pun ada rasa takut yang masih bersarang dihatinya dengan sangat dalam.


"Sayang jangan takut, ada Mas," Vano beberapa kali mencium tangan Ziva yang sudah terpasang selang infus.


"Ziva nggak takut Mas," jawab Ziva dengan senyum di buat sebahagia mungkin.


"Ziva kamu nggak boleh takut Mama sama Mami di sini selalu ada buat doa in kamu," tutur Sinta yang di angguki oleh Ratih.


"Assalamualaikuk Kak Ziva..." Daffa dan Daffi baru saja sampai keduanya datang dengan membawa bungga mawar merah kesukaan sang Kakak.


"Walaikumsalam," jawab Sinta dan Ratih, sementara Ziva hanya tersenyum meliahat dua adik kembarnya yang baeu saja sampai, sebab keduanya harus masuk sekolah dan sore harinya seusai pulang sekolah mereka berganti pakaian dan langsung ke rumah sakit.


"Kalian udah pulang sekolah?" tanya Ziva.


"Udah Kak, kita bawain bunga buat Kakak," Daffa memberi bunga yang ia bawa pada Ziva.


"Daffi bawa apa itu?" tanya Ratih yang merasa aneh dengan apa yang di legang Daffi.


"Ini sisir Mi," jawab Daffi santai tapi malah membuat yang lainnya binggung, tapi tidak dengan Ziva yang mengerti maksud adiknya.


"Kalian ngejek Kakak ya," Ziva tertawa dengan kelakuan kedua adiknya.


"Ini sisir nanti buat nyisir rambut Kak Ziva, dulu itu Kak Ziva udah sekolah SMA tapi rambutnya masih di sisirin sama Mama," Daffa dan Daffi tertawa terbahak-bahak mengingat bertapa manjanya sang Kakak ketika masih ada orang tua mereka.


"Apa sih malu tau," kesal Ziva.


"Kak kita goyang bareng yuk, Mami Ratih jagonya ni kalau goyang," kata Daffi.


"O, itu pasti ayo mana musiknya mainkan," Ratih sudah siap-siap mau bergoya namun tiba-tiba Rianda masuk bersama Hardy keruangan Ziva.


"Mami kenapa? Encoknya kambuh?" tanya Rianda yang merasa aneh melihat gaya berdiri sang istri.


"Heeheheh," Ratih tau suaminya tak suka ia bergoyang di hadapan banyak orang, ia boleh bergoyang kalau di kamar berdua saja dengan sang suami tercintanya, "Nggak papa kok Pi," Ratih membenarkan berdirinya sebab merasa malu pada Hardy suami dari Sinta yang melihatnya tanpa expresi itu.


"Assalammualaikum Ibu-ibu," terdengar suara Veli yang masuk bersama dengan Anggia.

__ADS_1


"Walaikumsalam."


"Sudah siap Ibu Ziva?" seloroh Veli.


"Veli apasih," Ziva terkekeh melihat Veli yang menggodanya.


"Tenang, nanti semua terbayar setelah oprasi selesai, betulkan dokter Anggia," tutur Veli lagi.


"Iya benar sekali, senyum dong," kata Anggia yang juga ikut dalam tindakan oprasi Ziva.


"Iya, kan aku nggak sendiri di dalam sana ada kalian berdua," Ziva merentangkan tangan, dengan cepat Anggia dan Veli memeluk Ziva dengan erat.


"Aku juga ikut dong," terdengar suara Seli yang baru saja datang, ia langsung berlari ketika melihat Ziva sedang di peluk dan ia pun ikut memeluk Ziva bersama-sama.


"Kamu telat," kata Anggia.


"Iya ni," Seli juga kesal karena Arman harus meminta jatah ia harus rela terlambat menemui Ziva di rumah sakit.


"Okey, oprasi akan segera kita mulai ya," kata Anggia.


"Semangat ya......Mas di sini selalu ada buat nunggu kamu, semangat," Vano mengecup kening sang istri, setelah itu Ziva di bawa masuk oleh perawat dan empat dokter yang akan menangani Ziva.


Vano duduk di kursi tunggu, tepat di depan ruang Ziva ia menunduk dan berdoa berharap sang istri baik-baik saja. Dan semoga ke empat bayinya juga selamat apa lagi di rumah ada Zie yang tinggal bersama dengan pengasuhnya, Zie masih terlalu kecil bila kehilangan sang Bunda.


Hingga beberapa jam kemudian pintu terbuka dan Anggia keluar dengan senyumnya, semua keluarga berdiri termasuk Vano yang menanti apa yang akan di katakan oleh istri dari sepupunya itu.


"Alhamdulilah selamat Mas Vano, bayinya sehat dan Mbak Ziva juga baik-baik saja," tutur Anggia yang membuat Vano tersenyum.


"Alhamdulilah," Vano sangat bahagia sekali karena keempat putranya jugasehat dan selamat.


"Saya boleh masuk?" tanya Vano.


"Boleh Mas silahkan, tapi Mbak Ziva belum sadarkan diri tapi tidak perlu khawatir itu karena pengaruh obat bius saja sebentar lagi Mbak Ziva sudah sadar," jelas Anggia.


Vano mengangguk dan ia berjalan masuk melihat sang istri yang masih menutup mata, Anggia memang mengatakan jika Ziva tak apa namun sebelum Vano melihat sang istri membuka mata dan tersenyum padanya, tetap saja perasaan Vano tak bisa tenang. Vano hanya bisa menciumi tangan sang istri.

__ADS_1


"Vano, ayo azani dulu cucu-cucu Mama ini," Sinta yang maru saja masuk langsung melihat cucunya yang sehat, walau pun tak terlalu gemuk.


Vano baru sadar ia terlalu fokus pada sang istri hampir saja ia lupa pada bayinya, Vano sangat terharu melihat bayi-bayinya ada empat sungguh membahagiakan sekali.


"Iya Ma," Vano mengajani anaknya, ia memeluk bergantian ia pun tidak tau entah yang mana yang pertama dan yang mana yang bungsu.


"Anggi ini Mama bingung yang Kakak yang mana terus yang adiknya yang mana Nak?" tanya Sinta yang penasaran.


"Itu dari kanan Ma, yang Kakak yang pali ujung dan yang lagi deket sama Mama itu yang ke empat, itu ada juga di gelangnya di kasih nomer," kata Anggia, ia juga sedikit bingung namun tadi sudah di pasang gelang yang bertuliskan lahir nomer berapa.


Perlahan Ziva mulai sadar, ia tersenyum saat matanya terbuka ada Vano dan saat tertutup puj Vano tetap ada di pandang matanya.


"Sayang terima kasih," berulang kali Vano mencium kening sang istri mengucapkan kata terima kasih, kebahagian semakin ia rasakan saat mata sang istri sudah terbuka.


"Mas malu tau," Ziva yang mulai di hampiri kesadaran bisa melihat banyak keluarga di sana yang melihat mereka, rasanya sangat membahagiakan.


"Mau nambah lagi Bu?" seloroh Veli manusia super jail itu sangat suka sekali menggoda siapa saja.


"Mau tapi tambahnya dari kamu, kapan nikah?" jawab Sinta sambil terkekeh.


"Mama Sinta sih," Veli tak tau harus berkata apa sebab ia tidak mempunyai kekasih.


"Mas anak kita mana?" tanya Ziva yang ingin melihat bayinya.


"Itu yang," Vano menunjuk para wanita yang sibuk menggedong bayinya.


Anggia memberikan bayi yang ia gendong pada Ziva.


"Ini Kakak paling besar ya Ziva," Anggia memperkenalkan semua bayinya pada Ziva, dalam sekejap Ziva bisa membedakan semua bayinya tidak seperti Vano yang masih pusing.


"Nanti semua bayi kita di cat aja rambutnya yang, warnanya beda-beda biar Mas bisa tanda gitu," kata Vano mengeluarkan idenya.


"Mas apasih kok bayi rambutnya di cat," Ziva malah merasa lucu dengan ide sang suami.


"Yang Kakak warna rambutnya pink, terus kuning, terus ungu dan yang bungsu nanti warna biru, gila.....keren banget Ziva, terus nanti si Zie rambutnya warna hilau," Seli juga ikut mengeluatkan idenya.

__ADS_1


__ADS_2