Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 123


__ADS_3

Seli yang sedang berjalan setengah berlari sambil matanya mencari taxi tiba-tiba tanpa sengaja menabrak seseorang di sisi jalan.


BUUK.


"Au," Seli meringis tak kala merasa tubuhnya melayang dan terjatuh.


"Kamu nggak papa?" tanya orang tersebut sambil mengulurkan tangannya membantu Seli berdiri.


Seli menepuk-nepuk tangannya, lalu mendongkak menatap siapa orang yang ia tabrak sekaligus siapa yang memberikan tangannya.


"Fahri," kata Seli sedikit kaget karena ternyata orang itu Fahri orang yang ia sukai.


"Seli," Fahri juga terkejut melihat orang yang ia tabrak ternyata Seli.


Seli berbalik ke belakang melihat Arman mengejarnya dari kejauhan.


"Fahri tolongin aku please," Seli memegang tangan Fahri berharap mau menolongnya.


"Tapi kamu kenapa?" Fahri masih bingung dengan Seli.


"Nanti aku jelasin, sekarang tolongin aku dulu," kata Seli semakin panik saat mata Arman sudah melihatnya.


"Seli," teriak Arman dari kejauhan.


"Cepat Fahri aku mohon."


"Ya udah ayo naik ke mobil aku," kata Fahri.


Dengan cepat Seli masuk ke mobil Fahri, bahkan di depan mata Arman, Seli tidak perduli Arman memanggilnya. Rasanya dada Seli begitu sesak saat mengingat perlakuan Arman padanya.


"Seli kamu mau kemana tengah malam begini?" Fahri juga merasa bingung dengan Seli.


"Jalan aja ya," kata Seli sebab ia pun belum tau akan kemana.


"Ya tapi ini udah malam banget Sel," kata Fahri lagi.


"Fahri aku turun di sini aja," kata Seli.

__ADS_1


"Kok disini, udah di sini aja please," pinta Seli.


"Ya udah," Fahri memberhentikan mobilnya sebab ia tidak mau ikut campur dalam masalah Seli kecuali Seli memintanya, karena Fahri takut Arman salah paham dan bisa membuat hubungan suami istri itu semakin memburuk.


"Makasih ya," Seli turun dari mobil dan Fahri langsung mengemudikan mobilnya dengan meninggalkan Seli.


Seli melangkahkan kakinya ke sebuah club malam, tempat yang tak pernah ia datangi, niat Seli tadinya ingin pulang kerumah orang tuanya. Tapi ia malu baru menikah dua hari tapi sudah ribut dengan suami, ia yakin Lastri pasti akan menyalahkannya.


Dentuman musik semakin terasa di telinga Seli, asap rokok yang menjadi penghiyas malam membuat Seli terbatuk-batuk. Terlihat pria dan wanita berbaur tanpa rasa malu, Seli tidak perduli ia ingin melepaskan rasa kesalnya hingga Seli duduk di meja bartender. Dengan menutup mata Seli mulai mendeguk gelas berisi minuman beralkohol itu, seolah ia sudah seperti orang yang terbiasa akan hal itu. Hingga ia merasa kepalanya seperti berputar.


"Hai," tiba-tiba seorang pria asing mendekatinya, dan memegang pahanya, dengan kesadaran yang tersisa Seli menepis tangan pria tidak sopan itu.


"Apasih, gue lagi pengen sendiri," kesal Seli.


"Enak juga saya temani," kata pria itu lagi.


Seli tidak mampu lagi menjawab, ia menelungkupkan kepalanya sesaat, namun wajah Arman kembali membayanginya, Seli kembali mendeguk sisa minuman ia pun tidak tau sudah berapa banyak ia minum.


"Panas," Seli tiba-tiba merasa sesuatu yang aneh, tiba-tiba tubuhnya terasa panas sementara seorang pria yang masih duduk di hadapannya tersenyum, sepertinya misinya berhasil. Ia awalnya memang sudah yakin jika Seli masih terlihat polos akan dunia malam dan benar saja dengan mudahnya pria itu bisa mengerjainya.


"Kau merasa panas?"


"Aku akan menolong mu tenang saja," kata pria itu.


Seli berusaha menolak karena pria itu menolongnya dengan cara yang tidak wajar menurut Seli, karena pria itu membawanya kesebuah kamar.


"Jangan," Seli menangis saat pria itu berusaha menarik pakaiannya.


Dengan tubuh yang terasa panas dan penglihatan yang makin gelap, Seli terus berusaha meloloskan diri hingga ia menangis berteriak di bawah kungkungan pria itu.


"Jangan hiks, hiks," tangis Seli.


"Aku akan menolong mu, jangan takut."


"Lepas hiks, hiks."


BUUUK.

__ADS_1


Pintu yang terkunci tiba-tiba terbuka karena di dobrak seseorang, Arman mengepalkan tangannya saat melihat Seli yang sedang menangis di bawah kungkungan seorang pria.


"Brengsek," Dengan membabi buta Arman menghujami pria itu dengan pukulan, bahkan sampai memuntahkan darah. Tidak sampai di situ Arman juga meminta anak buahnya menggantung pria yang sudah berani melecehkan istrinya.


"Seli," Arman menepuk-nepuk pipi Seli yang sudah tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol dan juga rasa lelah kehabisan tenaga di tambah lagi dengan obat yang di berikan pria tadi.


Dengan cepat Arman mengangkat tubuh Seli dan membawanya kedalam mobil, dengan kecepatan penuh Arman melajukan mobilnya sebab badan Seli terasa hangat, hingga akhirnya di perjalanan Seli sadarkan Diri dan menjerit kepanasan.


"Panas," teriak Seli.


"Seli kamu sudah sadar?" Arman tersenyum melihat Seli yang sudah sadarkan diri.


"Panas," Seli menjerit dan menjambak rambutnya demi mengihilangkan rasa aneh yang kini menjalar di seluruh tubuhnya.


"Sial," Arman mengerti akan Seli yang meminum obat perangsang, "Pasti ulah pria brengsek tadi," gumam Arman.


"Arman tolong aku hiks, hiks," Seli menangis menarik kemeja Arman.


Arman berusaha menenangkan Seli, hingga akhirnya Arman menghentikan mobilnya di sebuah hotel. Sebab Seli menangis menahan perasaan aneh yang sangat menyiksanya.


"Arman aku mohon hiks,hiks," Seli seperti orang gila dengan rambut acak-acakan dan tubuh kusut menarik kerah kemeja Arman.


"Ya sayang sebentar," Arman mengangkat tubuh Seli kesebuah kamar, tanpa basa-basi ia langsung meladeni Seli yang terlihat sangat agresip.


"Sssttt," Satu desahan lolos dari bibir Seli saat merasakan tangan yang meremas da... gundukannya.


Seli meremang saat merasakan dunianya seakan begitu indah dengan sentuhan manja yang di berikan Arman padanya.


"Arman," Seli mencakar bahu Arman tak kala merasakan sesuatu benda keras memasukinya, yang terasa penuh.


"Sakit hiks, hiks," tangis Seli pecah saat Arman mengambil sesuatu yang berharga pada dirinya. Namun Seli tidak larut dalam kesakitannya, setelah itu ia sangat menikmati hal yang di berikan Arman padanya.


Malam itu seolah menjadi malam pengantin bagi kedua pasangan yang baru saja menikah itu, kamar kedap suara itu seakan menjadi saksi saat suara-suara manja Seli yang mengelagar di ruangan itu.


Hingga akhirnya Seli pingsan karena lelah dengan permainan panasnya sampai suara azan subuh terdengar. Seli tidak lagi mampu membuka mata bahkan saat permainannya belum selesai.


Arman merengkuh tubuh polos Seli kedalam pelukannya, mengecup mesra kening sang istri dengan rasa sesal di hati. Andai saja seorang karyawan club malam itu tidak menghubunginya mungkin saja Seli sudah habis di nikmati oleh pria brengsek yang memasukan obat pada minuman Seli.

__ADS_1


Namun karna Club itu milik Bilmar dan semua karyawan disana hadir kepernikahannya. Membuat mereka mengenali siapa Seli hingga Arman dengan mudah menemukan Seli.


__ADS_2