
Ziva merasa mengantuk tapi ia harus berusaha untuk tidak tertidur, karena menunggu Vano yang akan segera sampai. Jadi Ziva memutuskan untuk duduk di ruang keluarga bersama Seli dan juga Sinta, juga si lucu Zie yang sedang aktif-aktifnya.
"Zie jangan nak, kepala Bunda lagi pusing," Ziva tidak kuat karena Zie terus berusaha naik ke punggungnya.
"Danadanda," bocah itu bergumam tidak jelas.
"Zie Oma pulang ya," kata Ratih.
"Ndak," jawab Zie dengan cepat dan tidak lagi mengganggu sang Bunda yang sedang duduk.
"Zie main sama Tante Seli yuk, kita main boneka." Seli sangat suka sekali bermain dengan Zie, karena Zie sangat pintar dan sudah mengerti bila di ajak berkomunikasi. Walau pun terkadang masih susah di mengerti namun Seli sangat betah bermain dengan bocah itu.
"Assalamualaikum," terdengar suara Vano yang baru saja sampai, dan terlihat Arman yang berjalan di belakangnya.
"Ayah pulang," kata Ziva pada Zie.
Dengan cepat Zie berlari meminta di gendong oleh Vano, Zie dan Vano memang selalu bertengkar. Namun bila berjauhan keduanya akan merasa sedih, bahkan Zie sangat nakal dan rewel bila Vano pergi.
Seperti kemarin Zie tidak mau tidur kalau belum melihat wajah Vano, akhirnya Zie tertidu sambil vidio call dengan sang Ayah yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Hoyeeee puyang ayah," kata Zie menciumi pipi sang Ayah dengan air liur yang banyak menempel di pipi Vano, tapi Zie seakan tak perduli ia sudah sangat metindukan saat saat kebersamaannya dengan Vano, kadang bertengkar kadang bercanda juga tertawa bersama.
"Iya dong, ada hadiah buat Zie," Vano menunjuk paperback yang di pegang Arman. Terlihat ada banyak paperback yang di bawa oleh Arman.
"Wooow," teriak Zie kegirangan.
Zie meminta turun dari gendongan Vano dan meminta hadiahnya, yang sangat banyak dan dengan tidak sabar.
"Ciniiii," teriak Zie karena Arman malah menggodanya dengan menganggkat tinggi paperback milik Zie.
"Nggak," kata Arman menjaukan hadiahnya dari Zie yang menarik-narik celananya.
"Ciini," Zie tidak mau kalah memperjuangkan hak miliknya. Ia berjinjit sambil terus berusaha.
"Zie mau ini?" tanya Arman mendekatkan paperback itu pada Zie.
"Auu," jawab Zie dengan mata berbinar dan mengangguk angguk.
"Kiss," Arman menunjuk pipinnya dan mendekat kannya pada Zie, berharap Zie mencium pipinya.
"Cance Ceyi kiss," Zie malah memanggil Seli untuk mengecup pipi Arman.
"Ahhahahaha," Sinta dan Ziva tidak sanggup menahan tawa saat mendengar ucapan bocah mungil itu. Ide gila yang di ucapkan Zie menjadi hiburan tersendiri di siang hari.
"Kok Tante," kesal Seli dengan wajah memerah dan perasaan dongkol ia menatap Arman yang juga menatapnya.
"Om, Cini," Zie terus meminta hadiahnya, sementara Arman semakin kesal dengan Zie. Ia semakin menggoda Zie dan berlari memutari sofa.
"Kejar," Arman terus mengelilingi sofa dan di kejar oleh Zie.
__ADS_1
"Cance Ceyi kiss om," Zie kesal karena Seli tidak juga mencium Arman dan itu membuat ia susah mendapat mainannya.
"Kok anak lu mirib banget si ngeselinya sama lu," ketus Arman melihat wajah Vano yang sedang tersenyum bahagia membelai rambut sang istri, Vano yang tidak bisa jauh dari Ziva merasa tersiksa saat ia pergi selama berhari hari untuk bekerja, jadi ia sangat merindukan suasana saat bersama sang istri.
"Kita sodaraan makanya dia mirip sama gue," jawab Vano dengan asal karena perkataan Arman yang terdengar aneh di telinga Vano.
"Pantes," jawab Arman.
"Om." Zie mulai cemberut dan prustasi.
"Kiss dulu dong."
"Muuah," Zie mencium pipi sang Om asal mainanya di berikan padanya.
Setelah Zie mendapatkan mainannya ia langsung berlari mencari pengasuhnya, yang biasa menemaninya bermain.
"Sayang kamu pucet banget," Vano memegang dahi Ziva yang hanyat.
"Mas Zie nggak mau minum asi, aku jadi demam," Ziva menyandarkan tubuhnya di dada Vano.
"Istri kamu hamil, makanya Zie nggak mau minum asi lagi." Kata Sinta.
"Yang kamu hamil?" tanya Vano dengan wajah bahagia.
"Iya Mas, tadi Ziva udah periksa di temani Seli."
"Selamat ya bos," kata Arman.
"Mapan Seli siap," jawab Arman menatap Seli.
"Seli kamu belum juga siap nikah sama Arman" tanya Sinta.
"Arman Php Ma," jawab Seli kesal.
"Kasih kejelasan dong Man," kesal Sinta.
Arman diam dan sepertinya sebentar lagi ia ingin memberi kejelasan pada Seli.
"Mas kamu pakek parfum apa sih bau banget deh," Ziva sepertinya kembali ke mode tidak suka wangi-wangian.
"Ck, kamu nggak suka yang?" Vano mengerti ia sudah banyak belajar mengenai kehamilan sejak Ziva mengandung putri pertama mereka.
"Bau banget Mas."
"Yang kamu hamil berapa bulan, soalnya udah jelas banget."
Vano mengelus perut Ziva dan ia juga merasa perut Ziva sangat besat.
"Baru satu bulan Mas," jawab Ziva.
__ADS_1
"Besar banget yang."
"Kata dokternya kembar Mas."
"Waw, senangnya."
Vano tersenyum dan menyeruput kopi yang baru saja di hidangkan mbok Yem.
"Kembar 4 Mas kata dokternya."
"Uhuk, uhuk, uhuk," Vano tampaknya shock mendengar sang istri yang kemungkinan mengandung anak kembar empat.
"Mas hati-hati," Ziva mengelap wajah Vano dengan tisu, karena terkena percikan kopi.
"Yang berapa tadi?"
"Empat Mas," Ziva mengulangi dengan jelas.
"Kok bisa yang," Vano melongo dan menengguk saliva, dengan menatal perut buncit Ziva.
"Kok Mas ngomong gitu."
"Ya kenapa bisa empat," sepertinya Vano mendadak bodoh setelah mendengar ucapan Ziva.
"Karena lu bego, kecebong lu makanya di amanin," jawab Arman melempar tisu pada Vano.
"Iya tapi engga sampek empat juga semprol." Kesal Vano melempar balik tisu yang di lempar Arman pada.
"Itu buktonya."
"Mas apa sih, katanya mau punya anak banyak udah di kasih banyak. Malah protes," kesal Ziva memasang wajah cemberut.
"Iya nih nggak bersukur banget."
"Kompor lu," kesal Vano, sepertinya Arman mencoba memanasi Ziva agar memarahi Vano.
"Mas nggak terima apa Ziva hamil lagi."
"Ya terima dong sayang, kamu kan istri Mas yang sangat Mas sayang," Vano meluluk Ziva agar emosi sang istri reda.
"Serius?"
"Iya dong." Vano menciumi perut Ziva.
"Huek, Sel aku antar pulang yuk." Arman menarik tangan Seli pergi, percuma bergabung bersama Vano dan Ziva yang hanya melihat kemesrasaan keduanya saja.
"Sayang kalau kamu hamil anak kembar empat, berati sama Zie jadinya lima dong yang." Vano terlihat antusias, karena akan menjadi Ayah dari lima orang anak.
"Iya Mas rumah kita jadi rame banget," Ziva tertawa membayangkan ketika bayi-bayi mereka lahir, pasti rumah mereka di penuhi tangisan bayi-bayi lucu mereka.
__ADS_1
"Iya yang, seru banget."
"