Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON ll ■ Bab 110


__ADS_3

BUUKK.


Terdengar suara benda keras kembali menghatam seorang pria yang menggendong Zie, dengan cepat Vano melompat merebut Zie, agar Zie tidak tertindih tubuh besar sang preman.


"Aak," Pria itu terlungkup di tanah.


"Oowaaa," Zie menangis karena merasa shock, Vano memeluk Zie dan menciuminya tapi Zie tetap saja menangis tidak mau berhenti. Vano mengerti pasti Zie mencari Ziva.


"Kamu bawa Zie pulang," kata Hardy ia takut cucunya itu malah tidak bernyawa karena tidak berhenti menangis akibat haus dan lapar.


"Tapi Mamah Pah?" Vano ragu meninggalkan Sinta yang masih terikat dengan seorang preman yang menodong benda tajam di leher Sinta.


"Mamah urusan Papa, sepertinya Zie haus. Jangan sampai...." Hardy tidak bisa melanjutkan ucapannya sebab mata Zie sangat merah dengan tenggorokan kering.


"Tapi Pah."


"Cepat, kamu kasih roti sama air mineral dulu di mobil nanti kalau kamu jumpa warung di jalan kamu beli susu formula," kata Hardy.


"Ya Pah," Dengan berat hati Vano pergi membawa Zie yang tengah menangis, bersama dua orang pengawal yang menunggunya di luar.


"Hiks, hiks," Sinta menangis tak kala merasa benda tajam itu akan segera ngirisnya.


"Ayo habisi dia!" perintah Hutomo.


"Jangan," teriak Hardy.


"Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan asal lepaskan istri ku," teriak Hardy.


"Apapun tuan Hardy," Hutomo berdiri dengan memegang punggungnya yang terasa sakit akibat hantaman Arman.


"Iya apa pun, asal jangan sakiti istri ku."


Hutomo merasa bahagia, ternyata ia bisa mendapatkan dua keuntungan sekaligus.


"Aku tidak minta apa-apa tapi kalau kau menawarkannya baiklah," Hutomo tersenyum penuh kemenangan.


"Apa kau mau uang," tebak Hardy.


"Iya, tapi aku lebih tertarik dengan perusahaan raksasa yang di pimpin anak mu itu," kata Hutomo mulai mengatakan keinginannya.


Hardy diam memikirkan sesuatu, ia memang sudah menyerahkan semua kekayaannya pada Vano putra tunggalnya, Hardy tetap bekerja tapi tidak seperti dulu lagi. Kini tanggung jawab besar sudah menjadi milik Vano.


"Kenapa diam apa kau tidak mau," Hutomo mulai mendekati Sinta dan kini ia mengabil benda tajam di tangan anak buah nya, tapi ia yang mengacukan benda tajam itu mengerak-gerakan di wajah Sinta.


"Hiks, hiks," Sinta hanya menangis dengan nafas yang terengah-engah. Takut dengan pisau yang terlihat sangat tajam berjalan di wajahnya.

__ADS_1


"Asal kau mau melepaskan istri ku, semua itu akan kau dapatkan," kata Hardy.


Bilmar dan Arman saling tatap, seperti Hardy sedang memberi kode pada mereka, Arman mengangkat sebelah alisnya pertanda mengerti.


"Waw ternyata tidak sulit untuk mendapat kan yang aku inginkan," tutur Hutomo.


"Cepat lepaskan istri ku," tutur Hardy.


"Tidak, aku akan lepaskan setelah kau memberikan aset mu pada ku," tutur Hutomo.


"Aku akan betikan asal kau lepaskan istri ku."


"Aku tidak percaya." Hutomo meminta ketiga anak buahnya membawa Sinta kemobil.


"Kau bawa kemana istri ku!"


"Aku hanya membawanya kesuatu tempat, tapi kau boleh menjemputnya setelah kau membawa apa yang ku inginkan." Hutomo terkekeh ternyata setelah ini ia akan mendadak kaya. Bukan hanya harta Ziva saja yang ia dapatkan tapi juga harta Hardy seorang pengusaha sukses yang memiliki kekayaan berlimpah.


"Hutomo!" bentak Hardy karena Sinta kini di masukan kedalam mobil.


"Aku tunggu kedatangan mu Hardy," Hutomo tertawa penuh kemenangan, ia tidak perduli Zie sudah di bawa oleh Vano karena Zie sudah tidak berguna lagi pikirnya, tapi malah Sinta yang ternyata kini lebih berguna.


"Brengsek!"


"Arman cepat suruh orang mu mengikuti mobil Hutomo, dan aku mau Hutomo hidup. Biar aku yang menjadikannya tak bernyawa," perintah Hardy pada Arman yang langsung di kerjakan.


"Iya." jawab Arman.


"Bilmar ikut Papah," Bilmar ikut dengan Hardy yang sepertinya mengikuti mobil Hutomo dari kejauhan entah kemana Hutomo akan membawa Sinta.


BBUUUK.


Terdengar suara yang sangat kencang membuat mobil Hutomo berhenti di tengah jalan.


"Ada apa ini?" tanya Hutomo.


"Sepertinya bannya pecah boss," jawab sopir.


"Turun, dan cepat ganti ban mobil ini bodoh," bentak Hutomo.


Ketiga anak buah Hutomo terus mengganti ban mobil, sudah hampir tiga puluh menit Hutomo menunggu tapi anak buahnya tidak satu pun yang maik ke mobil.


"Diam di sini!" bentak Hutomo pada Sinta.


"Hiks, hiks." Sinta hanya menangis dengan luka si bagian lehernya yang sedikit tergores benda tajam akibat ulah Hutomo, di tambah lagi ada sejumlah memar yang terasa perih di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Hutomo turun dari mobil dan melihat tidak satu pun anak buahnya terlihat di sana, Hutomo melihat keara sekitarnya, tidak ada tanda-tanda mereka juga di sana.


DOORR.


"Au," ringis Hutomo merasakan sesuatu pada bagian kakinya.


"Bagaimana?" tanya Hardy yang kini berdiri di hadapan Hutomo. Dengan memiup senjata yang ia tembakan tadi pada Hutomo.


"Hardy?" Hutomo terduduk di jalanan dan memegang kakinya yang terlihat berdarah. Hutomo tanpaknya terkejut mengapa bisa Hardy malah kini ada di hadapannya.


"Apa kau bertanya di mana anak buah mu?"


"Kurang ngajar!" kata Hutomo yang tetap tak mau mengalah.


"Mereka di sana dan kau pun akan ikut dengan mereka," Hardy menjunjuk arah hutan terlihat ketiga anak buahnya yang terikat di semak-semak itu.


DOOOR.


Hardy kembali melepaskan peluruh panas pada kaki sebelahnya, hingga Hutomo tidak mampu lagi bergerak.


"Hardy brengsek!" Hutomo mencaci dan memaki Hardy tapi Hardy sama sekali tidak perduli.


"Bawa bajingan ini keruangan yang tak pernah lagi terpakai itu, dan siapkan harimau kelaparan. Jangan habisi dia sebelum aku datang," perintah Hardy pada anak buahnya.


"Okey boss."


"Hiks, hiks," Sinta menangis memeluk Arman dan Bilmar, Sinta tidak sanggup melihat apa yang di lakukan Hardy. Sungguh Sinta baru kali ini tahu tentang Hardy yang memiliki senjata api.


"Mama tenang," kata Bilmar.


"Zie di mana?" Sinta sepertinya tidak sadar saat Zie di bawa oleh Vano pergi, karena saat itu ia menutup mata dan merasa tubuhnya dingin, sebab benda tajam yang menempek di lehernya.


"Zie baik-baik saja," jawab Hardy.


Dengan cepat Sinta memeluk Hardy perasaan yang takut, dengan jelas mata Hardy menatap lebam pada tubuh istrinya. Hardy terus memeluk Sinta dengan rasa benci dan juga kesal.


"Hutomo kau harus menerima hukuman atas perbuatan mu ini," batin Hardy.


"Pah ayo kita bawa Mamah pulang dulu, sepertinya Mamah masih shock," kata Arman.


"Mamah minum dulu," Bilmar membeli botol air mineral pada Hardy.


Dengan bibir bergetar dan keringat dingin, Sinta berusaha mendeguk air mineral nya.


"Pah, Zie nggak papa kan hiks, hiks," Sinta tidak pernahbmelepas pelukan Hardy, orang yang sangat ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2