
Vano dan Zie di iringi dua orang anak buah Arman sudah sampai di rumah, mereka sampai pukul dua dini hari.
"Mas," Ziva yang belum bisa tidur karena perasan yang cemas, yang ia pun bingung karena apa hanya menunggu Vano pulang di ruang tamu bersama Seli.
"Sayang," Vano berjalan mendekati Ziva.
Ziva heran mengapa Zie bersama Vano, bukan kah Zie bersama Ratih. Dan Ziva menyadari Zie yang kini malah memakai pakaian yang bukan pakaiannya, bukan karena pakaian murah. Ziva tidak mempermasalahkan mau murah atau mahal barang yang di pakai Zie, tapi Zie memakai pakain siapa itu yang menjadi pertanyaan nya.
"Mas," Ziva mengambil alih Zie yang di gendongan Vano, Ziva melihat mata Zie bengkak dan wajahnya yang pucat serta banyak bintik-bintik merah.
"Ayo duduk dulu," Vano tau Ziva tengah memikirkan Zie, Vano tidak mau Ziva shock bagaimana pun ia akan menceritakannya dengan tenang, agar perasaan Ziva tidak cemas Vano takut Ziva yang sedang hamil malah juga pingsang saat tau anak mereka di culik. Kemudian Vano membawa Ziva terlebih dahulu untuk duduk dulu di sofa.
"Mas Zie kenapa ya?" tanya Ziva saat matanya menatap banyak kemerahan di bagian kulit Zie.
"Sayang Mama sama Zie di culik Hutomo," kata Vano dengan hati-hati berharap Ziva tidak down.
"Di culik?" Ziva mengulangi perkataan Vano, ia masuh belum percaya dengan apa yang ia dengar.
"Iya," Vano menceritakan semuanya tanpa menutupi satu hal pun dari Ziva, bahkan saat Zie di tolong oleh pedagang warung sampai memakaikan baju anaknya pada Zie.
Air mata Ziva tumpah begitu saja, bayangan saat ia bertaruh nyawa saat melahirkan Zie terngiang-ngiang di otaknya. Tapi apa? Justru ada manusia yang tega melakukan itu pada anaknya, bayi kecil yang masih tidak tau apa-apa, anak yang masih berusia satu tahun tanpa dosa menjadi koban keserakahan.
"Hiks, hiks," Ziva menangis memciumi pipi Zie membayangkan bertapa menderita putri semata wayangnya itu.
"Jangan nangis, Zie udah nggak papa. Besok pagi kita bawa Zie ke rumah sakit," kata Vano memeluk Anggia yang sedang memeluk Zie.
"Ziva aku boleh gendong Zie," Seli juga ingin tahu keadaan Zie karena Seli juga sangat menyayangi Zie.
"Iya Sel," Ziva memberika Zie pada Seli.
"Terus Mamah gimana Mas," Ziva baru sadar Sinta tidak pulang bersa Vano.
__ADS_1
"Tadi sebelum Mas masuk, Arman telpon katanya mereka membawa Mama pulang dan mereka pulang kemari, Mamah nggak mau pulang kerumah sebelum lihat Zie," jawab Vano.
"Syukurlah Mas Mama baik-baik saja," Ziva merasa lega, walau pun keduanya sempat merasa ketegangan paling tidak Sinta dan Zie pulang dengan selamat.
Tidak berselang lama Seli kembali memberikan Zie pada Ziva, Seli tahu Zie pasti sekarang lebih ingin dengan Ziva.
"Iya sayang," Vano memperhatikan wajah Zie yang sangat lelap, wajah lelah Zie jelas terlihat.
"Kasihan kamu nak, gara-gara harta kakek kamu jadi korban juga," Ziva mengingat saat orang tuanya meninggal karena Hutomo yang ternyata menginginkan harta mereka, dan sekarang malah bayi kecilnya yang menjadi korban.
"Mulai sekarang kita harus hati-hati dan Mas akan mencaritahu apa ada lagi orang yang terlibat dalam kejahatan ini, Mas harus segera menyelesaikannya sebelum ada lagi hal seperti ini," kata Vano yang di angguki Ziva.
"Maaf pin Ziva ya Mas," kata Ziva yang tiba-tiba merasa bersalah.
"Kenapa minta maaf sayang," Vano membersihkan air mata Ziva yang mengalir di pipi.
"Gara-gara permasalahan keluarga kami Mas jadi ikut terbawa-bawa."
"Makasih ya Mas," Ziva tersenyum merasa bersyukur Vano mau mencintainya setulus itu bahkan berusaha melepaskannya dari masalah.
"Iya sayang."
"Zie," Sinta yang baru saja sampai langsung berlari dengan tubuh gemetarnya.
"Mamah," Ziva berdiri dan melihat tubuh Sinta yang banyak luka lebam.
"Zie," Sinta langsung menciumi pipi Zie, ia benar- benar takut kehilangan Zie, ia masih mengingat jelas saat Zie menangis yang terduduk di tanah sambil menarik bajunya, bukan mendapatkan pelukan atau satu botol susu tapi justru preman itu berniat memukul Zie agar Zie diam dan tidak lagi menangis, tapi Sinta menghalangi dengan tubuhnya, hingga di punggungnya sangat banyak memar demi melindungi sang cucu.
"Mama baik-baik saja?" tanya Ziva yang khawatir.
"Hiks, hiks," Sinta hanya bisa mengangguk dan menangis sambil memeluk Ziva.
__ADS_1
"Udah ya Ma," kata Vano yang juga memeluk Sinta ia kasihan pada Mamanya yang majih jelas sekali ketakutan sampai saat ini.
Siapa yang tidak ketakutan atau pun trauma, di culik lalu cucunya hampir di pukuli, dan lehernya hampir saja menjadi santapan pisau tajam. Begitu pun dengan Sinta, tak pernah ia bayangkan akan mengalami hal semenakutkan saat ini selama hidupnya. Namun sepertinya musibah itu memang tak bisa di hindari hingga ia kini bersyukur masih di berikan umur dan terbebas dari hal yang mengerikan yang baru saja ia alami.
"Zie demam ya?" Sinta merasa kepala Zie yang sedikit hangat wajar saja setelah apa yang mereka alami.
"Iya Mah," jawab Ziva.
"Zie kelaparan tadi ke hausan, hiks, hiks, bahkan tadi Zie duduk dengan banyak semut-semut kecil," Sinta melihat di saat tangannya di ikat dan Zie yang di duduk kan di tanah yang banyak semut.
"Mamah udah ya, sekarang Mamah bersih-bersih dulu," Ziva tidak mau banyak bertanya dulu sebab itu hanya membuat Sinta menjadi histeris.
"Iya."
"Mamah mau Ziva bantu?"
"Biar Papa saja, kamu peluk Zie saja kasihan dia," kata Hardy yang juga melihat bertapa pucatnya wajah Zie.
"Iya Pah," jawab Ziva membenarkan ucapan mertuanya.
"Sayang kita ke kamar istirahat besok pagi-pagi kita bawa Zie kerumah sakit," kata Vano yang mengambil Zie dari tangan Ziva.
Sebab perut Ziva sudah buncit dan Zie juga sangat gemuk, Vano kasihan juga membayangkan bayi kembarnya yang di perut Zie terjepit.
"Seli," Ziva hampir melupakan Seli yang masih duduk menjadi penonton saja.
"Kamu nggak usah pulang ya, tidur di sini besok kita bawa Zie sama-sama kerumah sakit," kata Ziva.
"Iya tenang aja, aku ke kamar tamu dulu," Seli langsung masuk kelamar tamu. Ia sudah sangat hapal dengan rumah Ziva dan tidak ada kata sungkan lagi.
"Mau saya temani?" goda Arman.
__ADS_1