Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 75


__ADS_3

"Ziva" kata Sinta yang berjalan masuk ke kamar Ziva untuk melihat keadaan Ziva.


Ziva yang sedang berbaring di temani Anggia di sampingnya mulai melihat asal suara itu. Ziva tersenyum melihat mertuanya masuk. Dan Sinta mulai berjalan mendekati Ziva.


"Bagaimana? apa sudah baik kan?" tanya Sinta.


"Ziva masih mual Ma" jawab Ziva.


"Apa keadaan Ziva sudah lebih baik Anggi?" tanya Sinta pada Anggia.


"Iya Nyonya dan mual yang di alami oleh Nyonya muda masih wajar" jawab Anggia.


"Ya sudah kau boleh keluar" kata Sinta.


Sinta menyuruh Anggia keluar karena ia melihat Vano juga mulai masuk. Dan Anggia merasa canggung dengan ada nya Vano di antara mereka. Karena Anggia memang sangat segan pada Vano.


"Saya permisi Nyonya" Anggia keluar mulai berjalan dari kamar itu.


"Sayang kamu sudah baikan?" tanya Vano sambil berjalan dan menaiki ranjang dan duduk di samping Ziva.


"Apa kau lihat dia baik baik saja" ketus Sinta.


"Ck!" Vano berdecak kesal. Karena Sinta berbicara ketus padanya. Dan ia sebenarnya ingin memeluk Ziva tapi karena ada Sinta semuanya harus di tahan sementara.


"Ziva apa kamu mau sesuatu?" tanya Sinta pada Ziva. Karena Sinta melihat bubur yang masih belum tersentuh ada di atas nakas ia yakin Ziva tidak mau memakannya.


"Ma Ziva sebenarnya mau jambu" jawab Ziva sambil menunduk.


"Oh. Ya Mama beli dulu kamu sabar sebentar" jawab Sinta dengan tersenyum tulus.


"Ma" Ziva menghentikan langkah Sinta yang hendak berjalan keluar.


"Ya ada lagi yang kamu mau?" tanya Sinta sambil menatap wajah Ziva yang murung.


Ziva mengangguk dan ia merasa kalau Vano tidak akan mau mengabulkan apa yang ia minta. Sinta mendekat kembali pada Ziva dan duduk di sisi ranjang tangannya memegang kedua bahu Ziva.


"Nak kamu mau apa" tanya Sinta.


"Ziva maunya jambu tapi Mas Vano yang manjat" jawab Ziva dengan suara yang bergetar. Dan air mata nya menetes karena ia takut Vano tidak mau mengabulkan apa yang ia minta.


Huufp.


Sinta menarik napasnya dengan panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Sinta yang masih memegang bahu Ziva mulai menatap Vano yang duduk di atas ranjang tepat di samping Ziva dan Ziva berada di tengah antara kedua orang itu. Sinta terus menatap tajam Vano, karena Sinta melihat Vano diam saja setelah mendengar ucapan Ziva.


"Iya Ma" jawab Vano karena ia menyadari tatapan tajam Sinta. Tanpa Sinta berbicara pun Vano tau maksud Sinta.


"Iklas nggak. Kalau nggak biar Bilmar saja Mama suruh" kata Sinta karena Vano menunjukan wajah kesalnya.


"Ma ayolah. Jangan gitu. Vano mau dan iklas" jawab Vano dengan nada merendah.


"Bagus!" kata Sinta.

__ADS_1


"Sebentar ya sayang" kata Vano tersenyum pada Ziva.


"Iya Mas" jawab Ziva.


***


"Didin" Vano memanggil Satpam yang berjaga di pagar rumah.


"Ya tuan" jawab Didin.


"Kamu temani saya kerumah tetangga" kata Vano menunjuk rumah yang ada di sebelah rumah mereka.


"Untuk apa tuan?" tanya Didin penasaran.


"Ayo ikut jangan banyak petanyaan. Dan pegang ember ini" kata Vano sambil memberikan ember pada Didin.


Didin tidak berani lagi bertanya ia langsung menerima ember yang di berikan Vano. Dari pada mendapat masalah. Keduanya mulai keluar dan memasuki pagar rumah Nisa.


"Ada apa tuan?" tanya Satpam rumah itu.


"Apa di dalam ada pemilik rumah ini?" tanya Vano.


"Tidak tuan hanya ada saya saja" jawab Satpam itu.


"Em. Apa boleh kami masuk dan mengambil jambu itu" kata Vano.


"Boleh tuan. Majikan saya membolehkan siapa saja mengambil jambu itu" kata Satpam itu.


"Ayo masuk tuan" kata Satpam itu.


"Iya" jawab Vano sambil kakinya mulai melangkah masuk.


"Tuan di bawah pohon jambu itu ada Anjing yang di ikat tuan Danu. Dan saya tidak berani memindahkannya karena Anjing itu pernah mengigit seragam saya ini tua. Dan saya terauma tuan" Kata Satpam yang berkerja di rumah itu dan sekaligus anak dari pemilik rumah itu bernama Nisa teman bermain masa kecil Ziva.


"Anjing" tanya Vano dengan muka memerah namun ia tetap berusaha menjaga wibawanya di hadapat kedua Satpam itu.


"Iya tuan" kata Satpam rumah Nisa itu.


"Didin ayo!" kata Vano dengan suara berat nya dan wajah datar yang ia tunjukan.


"I-iya tuan" jawab Didin berjalan di belakang Vano.


"Din TTDJ ya. Aku mendo'a kan mu semoga kau tetap hidup" kata Satpam itu. Keduanya memang sudah saling kenal karena keduanya bekerja dengan rumah majikan mereka juga hanya di batasi tembok.


"Apaan ttdj" tanya Didin bingung.


"Hati hati di jalan" jawab Sarpam itu.


"Didin!" kata Vano karena ia tidak melihat Didin berjalan di belakangnya.


"Iya tuan" jawab Didin dan ia berlari mendekati Vano.

__ADS_1


Uuungg uungg uuunggg!.


Terdengar suara Anjing yang menggonggong.


"Tuaaaan" kata Didin dengan tubuhnya yang gemetar.


Vano dan Didin saat ini sudah berdiri di bawah pohon jambu yang cukup tinggi. Vano dan Didin saling pandang karena Anjing yang di ikat oleh anak pemilik rumah itu mulai menggonggong. Dan Anjing itu berusaha melepaskan diri dari rantai yang mengingatnya pada pohon jambu itu.


Uungg ungg ung!.


"Din kamu alih kan Anjing itu dan saya akan memanjatnya" perintah Vano.


"Cara nya Tuan?" tanya Didin dengan tubuh gemetar.


"Kamu rayu Anjing itu. Kalau perlu kamu pacari" jengkel Vano.


"Rayu tuan dan pacari. Aku manusia tuan bukan hewan" jawab Didin dengan polosnya.


"Cepat alihkan perhatiannya atau ku penggal kau!" kata Vano dengan mengepalkan tangannya. Karena Didin tidak sepintar Arman. Yang punya banyak ide berilian.


"Caranya Tuan?" tanya Didin lagi dengan tubuh yang sangat gemetar.


"Arg...tol*l" jengkel Vano.


Buk!.


Vano mendorong tubuh Didin mendekati Anjing itu. Didin terlungkup tepat berhadapan dengan Anjing itu keduanya hanya berjarak beberapa jengkal saja.


Ungg ungg ungg!.


Anjing itu semakin ganas karena Didin sangat dekat dengannya dan juga sudah beberapa kali Anjing itu mencoba menerkam Didin.


"Untung di ikat" gumam Didin saat ia sudah berdiri.


Sementara Vano sudah mulai memanjat pohon jambu dengan susah payah.


"Tuan"


"Diam!"


"Tuan itu"


"Diam aku bilang"


Setelah beberapa kali Vano terjatuh dan akhirnya kini ia sudah berada di atas pohon. Dan ia mulai memetik buah jambu itu satu persatu.


"Din tangkap" kata Vano dari atas pohon sambil melempar buah jambu yang ia petik.


"Tuan embernya sudah penuh!" jawab Didin.


"Oh syukurlah. Sayang aku berhasil" gumam Vano dengan bangga.

__ADS_1


Namun tiba tiba ia merasa aneh dan seperti ada serangga yang berjalan di badannya. Dan serangga itu sudah sangat banyak masuk kedalam kemeja yang di pakai Vano. Vano mulai gelisah dan karena ia banyak bergerak hinga ia kehilangan keseimbangan.


__ADS_2