
pagi harinya.
"Selamat pagi bidadari ku sayang" Vano terus mengecup bibir Ziva tanpa henti. Hingga Ziva merasa tidurnya terusik.
"Mas" Ziva mulai mengerjabkan matanya merasa kesal dengan Vano, yang terus saja mengganggunya.
"Sayang udah pagi" kata Vano kini tanggannya mulai mengelus perut buncit Ziva.
"Em" Ziva bukan bangun tapi malah berbalik membelakangi Vano untuk kembali melanjutkan tidurnya.
"Sayang kita kapan kerumah sakit? buat lihat hasil karya aku ini" kata Vano dengan mengelus perut Ziva.
"Belum tau Mas. Belum tanyak sama Anggi" jawab Ziva.
"Nggak usah tanyak lah yang. Kita nanti kerumah sakit ya. Buat Usg," kata Vano yang sudah tidak sabar ingin melihal anaknya yang masih di kandung Ziva.
"Ya terserah Mas aja" jawab Ziva.
"Yang Mas jangan di kasih belakang dong"
"Terus maunya Mas apa"
"Depan lah yang" kata Vano yang mulai mesum.
Ziva tidah mengubris ucapan Vano, karena ia sudah terbiasa dengan tingkah konyol dan kemesuman Vano yang di atas level rata-rata.
"Oh Mas tau?" kata Vano merasa menemukan ide.
"Tau apa" ketus Ziva yang tidak perduli dengan Vano.
"Kamu sukanya pas yang dari belakangkan?" tanya Vano tanpa dosa.
Ziva reflek bangun dari tidurnya, lalu dengan cepat Ziva mengambil guling meleparkannya pada Vano. Vano menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Ziva mengambil bantalnya dan mulai memukuli Vano tanpa henti.
"Ampun yang" teriak Vano sambil terus berusaha menutup wajahnya.
"Tidak ada ampun" kata Ziva.
Buk! buk! buk!.
Ziva terus memukuli Vano tidak mengenal ampun. Hingga bantal itu hancur mengeluarkan kapas yang ada di dalamnya. Vano juga tidak mau kalah ia mulai mengambil bantal miliknya dan memukuli Ziva. dan terjadilah pukul memukul, saling serang dengan bantal. Hingga bantal habis mengeluarkan kapas bertebaran di kamar mereka.
Rambut Ziva yang panjang mulai di penuhi dengan kapas, begitu juga dengan rambut Vano. Keduanya berheti dan saling memandang dengan tubuh sangat acak-acakan.
"Masih berani!" teriak Ziva.
"Ampun yang" Vano menunjuk kan wajah melasnya dan tidak ingin lagi berperang dengan Ziva.
__ADS_1
"Ahahahahah" tiba-tiba Ziva tertawa melihat wajah Vano yang berantakan.
"Kenapa?" tanya Vano yang merasa ngeri dengan tertawa Ziva yang tiba-tiba.
"Rambut Mas banyak kapasnya. Mas kayak badut" kata Ziva dengan tawa yang kencang.
"Kamu tega yang" kata Vano lalu Vano menarik tubuh Ziva, Ziva yang tidak tau apa-apa langsung tertarik dan Vano menindih tubuh Ziva. Dengan tangannya yang masih menjadi tumpuan tubuhnya, agat tidak menindih perut buncit Ziva.
"Mas" kesal Ziva sambil memukuli tubuh kekar Vano.
"Kamu harus dapat hukuman, karena tertawain Mas" kata Vano sebelah tangannya menahan kedua tangan Ziva yang terus memukuli dada bidangnya.
"Mas apasih? dikit-dikit hukuman, dikit-diki hukuman. Hukumaannya juga selalu yang begitu" jengkel Ziva dengan berteriak di wajah Vano.
"Emang hukumannya yang gimana?" tanya Vano meminta Ziva memperjelas ucapannya.
"Yang itu..." Ziva tidak mau melanjutkaan ucapannya karena menurutnya itu sangat vulgar, walau pun ia berbicara seperti itu hanya pada Vano.
"Yang itu apa?" tanya Vano dengan seringai licik di wajahnya.
"Mas apa sih" Ziva mulai menunjukan wajah masamnya.
"Ayo apa yang tadi jawab dulu" kata Vano mulai berbisik di telingga Ziva.
"Mas tadi malam udah. Terus kayaknya enggak ada liburnya, kasih waktu aku istirahat dong Mas" kata Ziva dengan wajah melas.
"Apa sih. Satu jam emang apa coba"
"Mandi bareng yuk"
"Nggak" tolak Ziva mulai turun dari ranjang dan menjauhi Vano.
"Ayo" kata Vano mulai berjalan dengan langkah lebarnya. Untuk bisa membopong tubuh mungil Ziva kekamar mandi.
"Mas turuni" teriak Ziva.
Vano tidak perduli ia terus membawa Ziva kekamar mandi dan memasukan Ziva kedalam bathtub setelah mengisi air dan sabun yang di penuhi busa. Vano juga ikut masuk dengan tubuhnya memangku tubuh Ziva, berendam sambil memeluk perut buncit Ziva.
"Mas kenapa ada yang keras ya" tanya Ziva.
"Kamu jangan sok polos yang" kata Vano.
"Issh" kesal Ziva tapi ia tetap mau duduk di atas kayu yang terasa keras itu.
"Kamu tau nggak yang itu namanya apa?" tanya Vano.
"Tau" jawab Ziva.
__ADS_1
"Apa" tanya Vano.
"Nggak tau" kata Ziva lagi.
"Sini Mas bisikin" kata Vano sambil mendekatkan mulutnya pada telingga Ziva dan berbisik di sana.
"Mas!!!" teriak Ziva, karena Vano berbisik hal yang cukup jorok menurut Ziva.
"Ahahahahaaa" Vano menetawai Ziva karena wajah Ziva sangat merah, setelah mendengar apa yang ia bisikan barusan.
Ziva berniat keluar dari bathtub namun dengan cepar Vano memeluk tubuh Ziva. Menahan Ziva agar tidak pergi meninggalkannya mandi sendiri.
"Mas Ziva mau keluar" rengek Ziva.
"Mandiin Mas dulu yang" kata Vano mulai menenggelamkan wajahnya di bagian favoritnya.
"Mas udah tua. Udah mau punya anak tapi kenapa masih seperti bayi" kata Ziva sambil memutar sedikit lehernya kesamping dan mengacak-acak rambut Vano.
"Hehehee. Bayi yang ini" Vano menunjuk perut Ziva "Ada Mama yang jaga" kata Vano. "Kalau bayi yang ini baru kamu yang jaga yang" kata Vano menunjuk dirinya sendiri.
"Ziva mau jadi penjaga bayi besar ini" kata Ziva sambil menarik pipi Vano.
"Gitu dong yang" kata Vano dengan bangga.
"Tapi Mas harus bayar mahal" kata Ziva lagi.
"Bayar mahal?" tanya Vano yang kali ini di sini yang di buat pusing oleh Ziva.
"Hari ini Mas harus temani Ziva" kata Ziva tersenyum pada Vano. Entah mengapa semenjak hamil Ziva ingin belanja dan belanja saja.
"Kemana yang" tanya Vano sambil meremas guntukan Ziva.
Plak!.
Ziva memukul tangan Vano yang mulai berkeliaran di tubuh polosnya. Vano sedikit terkekeh. Ziva mulai mengangkat tangannya dan menujukkan satu persatu jari-jarinya.
"Pertama kesalon. Kedua belanja. Ketiga kepasar terus kekuburun Mama sama Papa" kata Ziva.
"Okey" jawab Vano dengan tangannya mulai bermain di bagian inti tubuh Ziva.
"Aaah" desah Ziva.
"Udah yang ayo mandi" kata Vano lalu ia keluar dari bathtub dan mulai membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower.
Ziva menatap tajam Vano seolah Vano tanpa dosa setelah ia membangkinkan gairah Ziva lalu ia meninggalkannya begitu saja. Entah mengapa kini mulai sensitif, Ziva tidak berniat keluar setelah Vano keluar ia mulai mengunci pintu kamar mandi dari dalam dan kembali masuk kedalam bathtub sampai ia tertidur lagi karena air yang sangat hanya.
"Sayang teriak Vano dari luar kamar mandi" karena sudah hampir satu jam Vano keluar namun Ziva belum juga keluar.
__ADS_1