
"Seli," Ziva berlari memeluk sahabatnya dengan erat.
"Ziva.....hiks....hiks....gw dah jadi Mama sekarang kaya lu," ucap Seli yang masih memeluk sahabatnya.
"Selamat ya Seli kamu hebat, akhirnya setelah banyak rintangan sekarang kamu bisa bahagia karena Allah dah kasih pengganti baby kamu yang dulu," kata Ziva sambil mengelus punggung Seli.
"Iya, aku bersyukur banget," kata Seli yang juga mengingat bertapa iya sangat bersedih saat kehilangan janinnya saat dulu.
"Udah, kita sekarang nggak boleh sedih. Kita lagi bahagia begini juga," kata Ziva yang mulai menghapus air mata Seli dengan ibu jarinya.
"Iya," Seli tersenyum dan keduanya kembali saling berpelukan.
"Namanya siapa bro?" tanya Vano menatap bayi yang masih di gendongan Anggia.
"Namanya Gibran Alfarizi," jawab Arman dengan bangga.
"Bagus, gw suka. Sayang pegangin dong," pinta Vano untuk mengambil baby Gibran yang di gendong Anggia. Ia ingin mencium bayi itu tapi tak mungkin saat Anggia memeluknya.
"Mas aja yang gendong langsung," jawab Ziva menggoda Vano.
"Nggak berani yang," Vano kembali menatap bayi mungil yang masih di gendongan Anggia, "Ayo dong yang Mas pengen kiss, dan cubit pipinya," sambungnya lagi.
"Heh," kata Arman kesal.
"Becanda woy," jawab Vano menatap Arman.
"Kalau mau cubit langsung aja di situ," kata Anggia.
Vano menatap Anggia "Saya nggak mau deket-deket sama anda, apa lagi pawang anda ada di sebelah anda," ucap Vano kemudian menatap Bilmar.
"Pawang?" tanya Sinta bingung.
"Ya Ma, si Bilmar pawang Anggia. Nggak berani Vano deket entar di bogem ama pawangnya," jelas Vano lagi pada Sinta agar tau maksud perkataanya.
"Sialan lu, lu pikir bini gw macan sampek lu bilang gw pawangnya," kesal Bilmar.
"Yang bilang bini lu macan siapa? Lu sendiri yang bilang ya....gw nggak ngomong gitu," jelas Vano berusaha membela diri.
"Lu bener-bener ya, gw kasih jatah lu mau," Bilmar memegang kerah kemeja Vano, dan Vano juga membalas apa yang di lakukan Bilmar.
__ADS_1
"Abang," Anggia menyenggol Bilmar yang berbicara terlalu kencang, karena takut baby Gibran terganggu dan menangis.
"Lihat, kan bini lu buas makanya lu takut. Dasar takut bini," tutur Vano mengejek Bilmar bahkan menaik turunkan sebelah alis matanya meremehkan Bilmar.
Bilmar mengibaskan tangannya di hadapan Vano, lalu ia menatap Ziva. "Ziva kemarin Vano ketemuan sama Keyla," tutur Bilmar memasang wajah serius.
"Mas?" tanya Ziva dengan serius menatap Vano.
"Nggak yang Dia boong, itu nggak bener," kata Vano berusaha merayu Ziva.
"Yeeeee.....katanya Bilmar yang takut istri, ternyata Vano juga sama," jawab Sinta tertawa melihat pria-pria yang bertubuh kekar itu, namun semuanya takut istri.
"Iya, bilangin orang nyata lu juga bro," kata Bilmar tersenyum penuh kemenangan.
"Abang mau gendong baby Gibran?" tanya Anggia.
"Mau dong," kata Bilmar kemudian ia duduk di sofa dan Anggia meletakan baby Gibran di pangkuan Bilmar.
"Oeeee Oeeeee Oeeee," baby Gibran langsung menangis saat di letakan di atas paha Bilmar.
"Sayang kok nangis?" tanya Bilmar panik.
"Lihat baby Gibran sama bini gw nggak nangis lagi, itu karena dia tau sekarang dia lagi sama malaikat," kata Vano tersenyum pada Bilmar.
"Terus gw apaan?" tanya Bilmar kesal.
"Lu jin, makanya baby Gibran takut sama lu. Wajah lu serem," kata Vano.
"Kenzi Zavano, Bilmar Rianda, kalian bisa diam tidak!" kata Sinta yang kesal pada anak-anaknya yang terus terlibat perang tak jelas.
"Oma santuy, entar tekanan dara tinggi mau?" kata Bilmar menatap Sinta.
"Iya, nanti Mama keriput sebelum waktunya," timpal Vano.
"Mbak jangan marah-marah, kalau Mbak keriput sebelum waktunya nanti cucu kita manggil Mbak Oma keriput," kata Ratih dengan panik.
"Ratih....." kesal Sinta mengeratkan giginya.
"Waahahahahaaa," keluarga yang lainnya tertawa, sebab Ratih kembali ke mode anehnya.
__ADS_1
"Tapi ngomong-ngomong anak lu mirip siapa ya?" tanya Vano pada Arman sambil terus memperhatikan wajah Gibran.
"Mirip gw lah, orang gw bapaknya," kesal Arman kareba pertanyaan aneh Vano, sangat membuatnya emosi.
"Tapi gw ngerasa anak lu mirip Fahri deh, ini pasti karena lu benci sama dia kan?" seloroh Vano.
Arman mendekati Vano, dan menjitaknya, "Heh....ngomong jangan sembarangan," kata Arman dengan penuh kebencian, apa lagi ia tau Seli pernah menaruh hati pada Fahri.
"Kurang ajar lu ya, pakek jitak gw lagi," kesal Vano yang juga membalas Arman.
"Arman, Vano! Diam!" kata Ratih dan Sinta bersamaan.
Keduanya langsung diam menatap Ratih dan Sinta yang menatap mereka dengan tajam. Dengan mendeguk saliva keduanya perlahan diam dan duduk di sopa.
"Hahahahaa," Aran dan Bilmar malah tertawa.
"Diam!" kata Arman menatap Aran.
Oeeeeeee Oeeeeee Oeeeeeee.
Terdengar suara baby Gibran menangis dengan kencang.
"Sayang, jangan nangis ya," dengan segera Seli memberikan asi pada bayinya.
"Lihatkan, Gibran nangis gara-gara ke gilaan kalian," omel Sinta ke pada empat putranya yang selalu terlibat adu mulut.
Selesai dengan pertengkaran kecil antara keluarga itu, kini semuanya kembali rukun dan damai. Semua bahagia dengan jalan hidup yang telah mereka pilih, Ziva yang awalnya anak manja serta terlahir dari keluarga berada mendadak menjadi miskin. Bahkan ia bertanggung jawab atas kedua adik kembarnya, berbagai rintangan hidup sudah ia lalui hingga kini ia bisa menjadi sesuatu yang membanggakan.
Menjadi Kakak, sekaligus orang tua bagi kedua adiknya tidaklah mudah. Rintangan yang ia lalui membuatnya banyak belajar arti dari sebuah pengorbanan dan perjuangan, tak ada yang menyangka air mata duka kini berubah menjadi air mata bahagia.
TAMAT.
***
Nantikan novel Zie dan Alma yang akan di liris setelah novel, "Dokter Cantik Milik Ceo," selesai. Mungkin novel Zie akan banyak mengundang tawa serta perjuagan tentang cinta sejati yang tak mendapat restu dari Vano, mengapa bisa Vano tak memberi restu. Nantikan novelnya ya mungkin akan sangat berbeda dari novel yang lainnya.
Kalau ada yang minat dengan extra part, nanti akan Author berikan ya. Dan nanti akan Author umumkan siapa yang mendapat pulsa cuma-cuma dari Author, Author sedang memilih orang-orangnya. Dan jangan kapok baca karya receh Author ya, bila banyak salah kata dalam cerita Author mohon maaf yang sebesar-besarnya ini hanya hiburan semata. Atau mungkin Author kadang banyak typo mohon di mengerti saya masih Author receh yang perlu banyak belajar. Namun dari sini saya dapat mengerti tentang sebuah perjuangan serta kasih sayang seorang Kakak kepada dua adiknya.
by : IPAK MUNTHE.
__ADS_1