Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 31


__ADS_3

Vano masih diam di sofa. Air dingin yang menguyur tubuh nya seperti nya sudah cukup menyadarkan nya. Arman berjalan dari arah dapur dan membawa secangkir teh hangat. Malam sudah sangat larut namu Vano sama sekali tidak merasa mengatuk.


"Minumlah" Arman menyuguh kan teh hangat itu pada Vano.


Vano menerima dan mulai menyeruput nya. Kemudian Vano menaruh kembali gelas itu di meja.


"Aku harus apa Arman" tanya Vano.


"Kau cukup hebat dalam bisnis. Tapi kau sangat bodoh dalam Cinta" kata Arman.


"Arman berhenti lah menghina ku. Aku bersumpah kau pun akan sulit mencapai cinta sejati mu" kata Vano.


"Tidak bukan begitu. Aku hanya bercanda" kata Arman yang merasa sedikit merinding mendengarkan ucapan Vano.


"Aku bingung Arman!"


"Aku tidak bisa mengatakan kau sebaiknya memilih Kaylan. Dan aku pun tidak bisa mengatakan kau harus memilih Ziva. Kau harus tegas. Dan meyakin kan diri mu. Aku tidak ingin kau menyesal di kemudian hari" kata Arman.


"Aku tidak sanggup menyaksikan Ziva bersama laki-laki lain" kata Vano.


"Dia pun tidak pernah sanggup melihat kau bersama wanita lain. Termasuk Keyla" jawab Arman.


"Tapi dia kan tau aku memang sudah ber-istri sebelum menikah dengannya" kata Vano.


"Ya kau benar" kata Arman. Membenarkan ucapan Vano.


"Lalu apa lagi?" tanya Vano.


"Apa kau cemburu melihat Ziva bersama Pirman?" tanya Arman.


"Ya. Dia kan istri ku juga" jawab Vano.


"Tapi kan kau tau. Dia berpacaran dengan Pirman sebelum dia menikah dengan mu" kata Arman dengan santai. Kedua nya duduk saling berhadapan.


Deeg!.

__ADS_1


Vano kembali mendapat tamparan keras dari Arman. Tadi Arman menerbangkannya ke awan lalu tiba-tiba Arman menjatuhkannya. Sunggu Vano merasa tersinggung sekali.


"Arman apa kau ingin aku menghajar mu?" kata Vano.


"Lihat lah diri mu. Sudah seperti orang gila. Kau sadar tidak. Kau itu mencintai Ziva. Cinta mu pada Ziva jauh lebih besar dari pada cinta mu pada Keyla." Arman mulai menyakinkan Vano. Karena Vano benar-benar seperti orang bodoh.


"Lalu bagai mana dengan Keyla?" tanya Vano


Arman bangun dari duduk nya. Lalu tangannya mengambil ponsel dan memperlihatkan sebuah fhoto. Fhoto Ziva bersama Pirman.


"Lihat ini!" kata Arman.


Vano mulai melihat photo itu yang berada pada phonsel Arman.


Duuuar!.


Vano membanting phonsel itu amarahnya yang tadi meredam. Kini mulai menggebu lagi. Mata nya memerah. Vano mulai memegang kerah kemeja Arman.


"Apa maksud mu. Menunjukan fhoto seperti itu pada ku?" kata Vano.


"Aku tidak mengerti Vano. Kenapa manusia bodoh seperti mu bisa menikah dengan gadis baik dan mendekati sempurna seperti Ziva." kata Arman. Sambil terus tertawa lucu melihat kebingungan di diri Arman.


"Apa maksud mu?"


"Kau tanya kan pada diri mu kau mencintai Ziva atau tidak? Dan kalau kau mencintai nya. Pertahankan dia. Dan tinggalkan Keyla. Tapi bila kau mencintai Keyla. Maka lupakan Ziva. Biarkan dia menikah lalu bahagia bersama lelaki yang bisa membahagiakannya. Yang bisa menghargai nya. Dan bisa menerima keadaannya apa ada nya." kata Arman yang terus menyindir Vano.


Vano pergi ke kamar meninggalkan Arman sendiri duduk di sofa. Hatinya saat ini benar-benar tidak tenang. Ia duduk di ranjang dan terus memikir kan Ziva.


"Ziva aku tidak akan melepaskan mu. Aku tidak ingin menyesal. Baiklah aku akan meninggalkan Keyla demi bisa bersama mu. Aku akan mempertahan kan mu bagai mana pun caranya. Aku akan berusaha membuat mu bahagia" gumam Vano.


Vano mengambil kunci mobil nya dan juga jaket. Ia keluar dari kamar itu dan ia akan menemui Ziva. Ia memutuskan kini ia akan tinggal bersama Ziva.


Vano tidak perduli lagi dengan orang-orang yang mengetahui Ziva adalah Istrinya. Lagi pula bila orang-orang tau Ziva Istrinya. Tidak akan ada lagi yang berani mengganggu Ziva. Dan Vano pun akan berusaha membuat Ziva meninggalkan Pirman. Vano ingin Ziva hanya menjadi milik nya. Dan tidak ada lagi yang boleh memdekati istrinya termasuk Bilmar sepupunya itu.


Vano terus berjalan dan memasuki lift. dan keluar Setelah itu ia mulai masuk kedalam mobil nya. Ia menyalakan mesin mobil dan mulai mengemudi dengan kecepatan yang tinggi, Vano sudah tidak sabar bertemu dengan Ziva untuk memperbaiki hubungannya dengan Ziva.

__ADS_1


***


Di waktu yang sama.


"Keyla. Vano di mana" tanya Sinta karena ia tidak melihat Vano di pesta itu. Kini mereka sedang bersiap-siap pulang.


"Mama hiks hiks hiks" Keyla langsung memeluk sinta dan menangis sejadi-jadi nya. Tempat itu kini sudah sepi. Pesta sudah selesai dan para tamu pun sudah habis pulang.


"Loh. Kenapa menagus?" tanya Sinta.


"Vano pergi saat pesta dansa baru di mulai hiks hiks hiks" kata Keyla yang terus menangis sambi memelu Sinta.


"Sudah-sudah. Mungkin dia ada urusan yang mendadak jadi harus cepat pergi. Jadi kau jangan menagis lagi." kata Sinta.


"Ma. Ziva pamit ya Ma" Ziva berpamitan pada Sinta.


"Ya sayang. Kamu di antar Bilmar kan?" tanya Sinta.


"Ya dong Ma" jawab Bimar. Yang berdiri di samping Sinta.


Ziva mulai mencium punggung tangan mereka satu persatu. Termasuk tangan Ratih juga. Seperti biasa Ratih akan memanasi Sinta. Ratih mendekati Sinta dan berbisik


"Mantu mu dulu datang ke rumah sampek sekarang engga pernah cium tangan mu kan mbak!" kata Ratih dengan suara sangat kecil.


"Ratihhhhh" Sinta berteriak. Karena ratih si adik Ipar nya itu selalu punya cara untuk membuat nya emosi.


Kini Ziva dan Bilmar sudah berada di dalam mobil. Dengan Bilmar tentu nya yang mengemudi. Ziva hanya memandang lulus saja. Ia sama sekali tidak memikir kan Vano. Ia sudah muak dengan tingkah Vano yang tidak memiliki ketegasan sedikit pun. Dalam hubungan mereka. Dan semenjak Ziva memutuskan akan pergi meningalkan Vano. Ia sudah tidak perduli lagi pada Vano.


"Ziva. Kamu memikir kan sesuatu?" tanya Bilmar.


Karena ia melihat Ziva hanya diam saja.


"Tidak aku hanya sedikit mengantuk" kata Ziva.


Setelah mengatakan itu. Ziva langsung terlelap ia benar-benar terlelap. Dalam duduk nya. Sepanjang perjalanan pulang Ziva hanya tertidur dan setelah beberapa menit kini mereka sampai.

__ADS_1


Ziva di bangun oleh Bilmar. Setelah itu Ziva langsung turun dan membuka pintu yang terkunci. Kini Ziva tidak merasa takut lagi. Jika ia meninggalkan adik kembarnya karena sudah ada Embok yem. Pembantu Ziva yang beberapa hari lalu sudah bekerja di sana.


__ADS_2