
"Sel aku antar ya" Arman mensejajarkan langkahnya dengan Seli yang terlebih dulu keluar dari ruangan Ziva.
Seli melihat Arman di sampingnya dan ia menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Arman.
"Arman berhenti ganggu gue" ketus Seli.
Seli sangat tidak suka Arman mengganggunya, entah mengapa Seli merasa risih bila di dekat Arman. Seli kembali melanjutkan langkah kakinya, tanpa memperdulikan Arman yang terus mengikutinya, Seli hanya mengerutu lagi-lagi Arman selalu mengikutinya. Seli bungung sendiri kenapa Arman sangat teropsesi padanya.
"Cepat" Arman menarik tangan Seli, dan membuka pintu mobil.
"Arman" gerutu Seli saat Arman mendorongnya masuk dengan paksa kedalam mobil, baru Arman memutari mobil dan ikut masuk lalu duduk di samping Seli yang menunjukan wajah masam.
"Arman kamu kenapa sih selalu maksa aku, kasar banget sih" teriak Seli di wajah Arman, Arman sangat menyukai wajah Seli yang berdekatan dengannya, terutama bibir Seli yang selalu menjadi incarannya.
"Karna aku cinta sama kamu!" Arman menyalakan mesin mobilnya dan mengemudi dengan kecepatan sedang, tanpa peduli wajah Seli yang memucat karena mendengar kata cinta yang di ucapkan Arman.
"Arman apa kamu cinta sama aku?" tanya Seli dengan suara kecil, memastikan apa ia tidak salah dengar.
Arman menepikan mobilnya, lalu wajahnya mulai melihat Seli yang juga melihatnya.
"Iya" jawab Arman dengan terus menatap wajah Seli.
"Tapi maaf ya Man. Aku nggak cinta sama kamu" Seli menundukan kepala dengan suara pelan ia harus mengatakan itu karena memang itulah yang ia rasakan saat ini.
"Kenapa?" lagi-lagi Arman butuh jawaban, dan Arman ingin tau seperti apa pria idaman Seli.
"Ya kamu bukan tipe aku" ujar Seli yang mulai menatap wajah Arman.
"Tipe kamu yang seperti apa?" Arman mulai mengorek seperti apa pria yang di sukai Seli, Arman sangat menginginkan Seli dan ia tidak akan semudah itu melepaskan Seli.
Seli mulai memikirkan sesuatu, dan ia mulai menatap Arman dengan ide cemerlang yang sudah berkeliaran di otaknya.
__ADS_1
"Aku suka cowok yang kekar, banyak uang, jabatan tinggi, punya rumah, punya mobil mewah, punya banyak cinta untuk aku" ucap Seli dengan polosnya.
Arman membuka jas yang ia pakai dan melempar pada Seli, setelah itu Arman membuka kemeja yang ia pakai, dan kembali melempar pada Seli. Dengan kesal Seli memegang baju Arman yang menutupi wajahnya.
"Apa kamu mau yang seperti ini" Arman mulai menunjukan perut sixpack, lengan berotot dan juga dada bidang miliknya.
"Arman" Seli mendeguk saliva dengan susah payah, Seli menutup mata dengan jas yang tadi di lemparkan Arman padanya. Arman merebut paksa jas dan kemejanya yang menutupi wajah Seli. Arman melemparnya ke jok.
"Buka mata mu dan lihat aku!"
"Arman ampun" Seli merasa takut pada kemarahan Arman, sekujur tubuhnya bergetar.
"Buka mata mu dan lihat aku!" terdengar suara Arman yang berat dan tegas.
"Tapi aku jangan di apa-apain ya?" Seli mulai membuka matanya dengan perlahan, ia melongo melihat tubuh froposional Arman.
"Aku akan berikan apapun yang kau minta, termasuk memberikan semua yang aku miliki. Asal kamu menjadi istri ku" dengan tegas dan tatapan tajam Arman menarik tengkuk Seli mendekat padanya.
"Kau kenapa lagi" Arman semakin memajukan wajahnya pada Seli. Tanpa melepas tangannya yang masih berada di tengkuk Seli.
"Arman aku takut hiks hiks hiks" Seli menangis dan berteriak sekencangnya karena takut dengan tatapan Arman.
"Diam!" bentak Arman.
Seli tersentak dan berhenti menangis, Arman mengusap air mata Seli dengan ibu jarinya. Tatapan keduanya bertemu Seli ingin mencari kebohongan di mata Arman, namun sepertinya Seli hanya menemukan kebenaran di mata Arman. Jarak wajah mereka hanya beberapa inci saja, dengan tatapan mata Arman mulai berfokus pada bibir Seli.
"Kenapa kau jatuh cinta padaku?"
"Apa cinta butuh alasan?" tanya Arman dengan mata yang berkabut menatap bibir Seli.
"Tapi aku butuh alasan Arman. Aku belum pernah jatuh cinta dan aku hanya ingin jatuh cinta satu kali saja. Dan menikah dengan orang kaya, banyak uang dan aku bisa berpoya-poya itulah keinginan ku" tutur Seli di depan wajah Arman. Seli hanya ingin Arman membencinya dan juga ia terbebas dari Arman, jujur saja Seli menyukai seniornya di kampus.
__ADS_1
"Aku akan memberikan semua itu pada mu"
Arman menarik tengkuk Seli dan mulai mencium bibir Seli, Arman tau kalau Seli menyukai orang lain dan orang itu juga belum tentu menyukainya. Arman tidak akan melepaskan Seli untuk orang lain, Arman tidak pernah berhubungan dengan seorang wanita. Apa lagi jatuh cinta, hanya semenjak ia mengenal Seli ia baru tau apa itu cinta dan sungguh ia merasa naluri kelelakiannya bangkit bila melihat wajah Seli. Satu-satunya wanita yang mampu menaklukan hatinya, semakin Seli menolaknya semakin Arman penasaran dengan gadis itu. Sungguh Arman merasa tertantang.
"Arman!!" Seli mendorong dada Arman yang tidak lagi memakai baju itu.
"Kenapa?, apa kau menginginkan lebih?"
"Mmmmfffgttt" Arman kembali mengecup bibir Seli, dengan perlahan tapi pasti, Arman menahan tengkuk Seli. Seli yang tidak bisa lagi bergerak mulai pasrah, lama kelamaan ciuman itu semakin menuntut, dengan setengah kesadaran Arman melepas Seli. Dan kembali memakai kemejanya, dengan susah payah Arman mengendalikan diri menahan sesuatu yang sesak di bawah sana minta di bebaskan.
"Arman jangan ngebut dong" Seli gemetar dan menutup wajahnya, karena Arman mengemudikan mobilnya dengan kwcepatan tinggi.
"Arman hiks hiks" Seli semakin gemetar karena Arman tidak mendengarkannya.
"Kita besok menikah!" ucap Arman tegas tanpa bisa di bantah.
"Iya. Tapi bawa mobilnya pelan aja aku takut Man" Seli tidak perduli Arman bicara apa yang jelas saat ini ia tidak mau mati konyol dengan Arman yang mengemudi begitu ugal-ugalan.
"Panggilan mu itu bisa kau rubah!" sekilas mata elang Arman melirik Seli yang duduk memeluk lututnya dengan bergetar di sampingnya.
"Arman aku mohon aku takut" pinta Seli dan perlahan kesadarannya menghilang.
"Seli!!" seru Arman.
Arman kembali menepikan mobilnya dan dengan cepat memeluk tubuh Seli, Arman menggoyang-goyangkan pipi Seli dengan perasaan yang cemas.
"Seli" Arman terus menepuk pipi Seli.
"Seli aku mohon aku mencintai mu dan aku tidak bisa kehilangan mu, Seli bangun!" Arman terus berusaha membangunkan Seli dengan perasaan yang cemas.
"Apa dia takut aku mengemudi dengan kecepatan tinggi" Arman bergumam.
__ADS_1
Arman mengambil botol air meneral dan membasahi wajah Seli. Arman terlihat sangat panik.