Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 127


__ADS_3

"Kak kok, pintunya di tutup," Seli merasa tidak enak Arman yang mengusir Vano, ia pun sama sekali tidak mengerti dengan pembicaraan Vano dan Arman barusan.


"Sayang udah mereka cuman ganggu aja," Arman menarik tangan Seli dan kembali duduk di sofa.


"Kakak kok ngomong gitu sih."


"Udah kamu nggak usah pikirin ya," Arman mengangkat tubuh mungil Seli untuk duduk di pangkuannya, Seli merasa tidak nyaman.


"Kak, Seli duduknya di sofa aja ya," Seli berusaha turun tapi Arman melingkarkan tangannya di pinggang Seli, pertanda tidak ingin Seli turun.


"Begini saja," kata Arman.


"Tapi Kak," Seli masih ragu dan tubuhnya sangat tidak nyaman.


"Udah diam aja nggak ada salahnya jugakan sayang," kata Arman tersenyum lembut pada Seli.


DEEG.


Seli yang belum biasa dengan panggilan sayang Arman merasa hawa panas tiba-tiba menyerangnya, pipinya mendadak memerah hanya karena panggilan mesra yang di ucapkan Arman.


"Kamu malu ya?" Arman mengangkat dagu Seli yang tertunduk malu.


"Kak, kok Seli ngerasa ada kayu gitu ya?" tanya Seli.


"Dimana?" tanya Arman tidak mengerti.


"Ya Seli ngerasa duduk di atas kayu keras banget sekarang, tadi kayaknya nggak ada deh," Seli merasa berbeda tapi terasa empuk, sekarang malah merasa ada yang menusuk.


Polosnya pakek banget ni bini gue.


"Sayang," Arman membisikan sesuatu di telinga Seli tentang apa yang di bingungkan Seli, Author juga nggak dengar apa.


"Kak Arman!" Seli kesal saat entah apa yang di bisikan Arman barusan padanya.


"Ahahahaha, kan memang namanya itu sayang," Arman tertawa terbahak-bahak melihat wajah Seli.


"Kakak kan bisa bilang dengan cara isyarat yang lain, nggak perlu jelas begitu!" kesal Seli belum hilang telinganya serasa ternoda mendengar kalimat Arman tanpa sensor barusan.


"Ahahahaa, Istri Kak cantik banget sih," Arman menarik gemas hidung Seli.


"Kak Arman," Seli malaj menyimpan wajahnya di dada Arman ia sangat tidak sanggup mendengar kalimat mesra dari bibir Arman.


"Apa sayang?" Arman menarik kepala Seli agar bisa melihat wajah malu-malu sang istri.


"Panggilnya Seli aja!" Seli rasanya ingin menangis karena tak terbiasa dengan kalimat mesra.


"Nggak bisa," jawab Arman.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena di hati Kakak cuman ada kamu nggak ada yang lain, Kakak sayang Seli," Arman memegang tengkuk Seli dengan kedua tangannya.


"Kak Arman...Seli jangan di goda terus hiks, hiks," Seli menangis karena malu.


Arman hanya terkekeh melihat wajah Seli yang malu-malu dan menggemaskan.


"Sayang Kakak punya tebakan buat kamu," kata Arman tersenyum penuh misteri.


"Apa?" Seli terlihat antusias, menurut Seli lebih baik main tebakan dari pada menerima kalimat gombalan.


"Ular apa yang nggak berbisa tapi berbuih? tanya Arman dengan senyum bahagia.


"Kak emang ada ular nggak berbisa?" tanya Seli sambil berpikir apa jawaban.


"Ayo jawab!"


Seli diam hanyut dalam pikiran tentang jawaban dari tebakan yang di berikan Arman pada, lama Seli berpikir tapi ia tidak mendapat jawaban.


"Kak Seli nyerah," jawab Seli.


"Pikirin dong," kata Arman.


"Kak Seli tau," Seli menatap manik mata Arman karena sudah mendapat jawabannya.


"Apa?" Arman terlihat antusias menunggu jawaban dari Seli.


"Ular keracunan!" jawab Seli semangat bahkan sambil berteriak karena sudah menemukan jawaban.


"Kakak kenapa?" tanya Seli sebab Arman terlihat tertawa mengejeknya.


"Salah jawabannya," jawab Arman tangannya mencolek dagu Seli.


"Terus apa dong!" Seli bersedih karena jawabannya salah.


"Tapi kamu bener sih, ular mabuk terus nyemburin laharnya, hahahah," Arman malah tertawa sendiri mengingat jawaban sang istri yang menyebut ular mabuk.


"Kakak sebenarnya ular apa sih, nggak jelas banget deh tebakannya," otak Seli benar-benar pusing memikirkan maksud Arman dan yang membuat Seli makin pusing malah Arman tertawa sendiri dengan melihat kebingungan Seli.


"Ular ini," Arman memegang tangan Seli dan meletakan pada benda asing yang terlihat sudah mengeras.


"Kak Arman!" teriam Seli saat tau apa yang ternyata mereka bahas dari tadi.


"Ahahahhah," Arman malah tertawa melihat kekesalan Seli.


Seli dengan cepat turun dari pangkuan Arman perasaan kesal tak bisa lagi di tahan Arman.


"Sayang, Ahahahah," Arman masih belum bisa menghentikan tawanya melihat wajah Seli yang kesal dan memanyunkan bibirnya.


"Diam!" teriak Seli.

__ADS_1


"Iya, mmfffp," Arman berusaha menahan tawanya dan kembali menarik Seli duduk di pangkuannya.


"Kak Arman, hiks, hiks," Seli malah menangis menahan malu.


"Kakak masih punya tebakan, kamu mau dengar," tanya Arman masih sambil terkekeh.


"Nggak!" ketus Seli.


"Mau aja ya," kata Arman setengah memaksa.


"Nggak! Seli nggak mau, paling tebakannya nggak ada yang beres," Seli sudah membayangkan jika tebakan yang akan di berikan Arman tidak akan jauh-jauh dari tebakan sebelumnya.


"Mau ya, ya, ya," Arman menaik turunkan kedua alis matanya.


"Kakak Arman kalau maksa Seli pulang aja deh kerumah Bunda," Seli tidak sanggup lagi menghadapi suaminya, Seli baru tau ternyata Arman yang terlihat dingin padanya sebelum menikah dulu, ternyata aslinya sangat jait dan juga mesum tinggkat parah.


"Oh tidak bisa, ibu istri saya, tugas ibu di samping saya," seloroh Arman.


"Kak Seli nyesel deh maharnya cuman sepuluh gram emas," kata Seli tiba-tiba.


"Maksud kamu kamu nyesal menikah dengaj saja!" Arman telihat kesal dengan penunturan Seli, Arman sangat tidak suka bila Seli tak menghargainya.


"Ish, bukan itu," jawab Seli kesal karena suaminya sangat sensitif.


"Terus apa!"


"Hiks, hiks,"Seli malah menangis karena Arman membentaknnya, "Kak Arman jahat," kesal Seli pergi meninggalkan Arman.


"Sayang," Arman mengikuti Seli yang lari kekamar dan membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Sayang kakak cuman becanda," Arman baru tau ternyata istrinya seperti anak kecil yang tidak bisa di kerasi sedikit pun, Arman juga ikut berbaring dengan memeluk sang istri.


"Kakak jahat!"


"Tadi kamu sebenarnya mau bilang apa?" Arman malah penasaran dengan apa yang akan di katakan Seli.


"Seli pengen di beliin tas kayak punya Ziva harganya 1m," jawab Seli, Seli yang memang sangat suka melihat tas Ziva kini meminta Arman membelikannya.


"Oh, kan kamu bisa bilang, nggak harus bilang nyesel mahar 10gram, Kakak kan dari awal tanyak Seli serius mau mahar 10gram tapi Seli yang ngototkan?" tanya Arman mengingatkan Seli.


"Iya, Kak Seli boleh beli nggak sih tasnya?" tanya Seli penuh harap.


"Iya besok kita beli ya," jawab Arman.


"Makasiha Kak."


"Tapi nggak gratis."


"Jadi Seli harus bayar?" Seli kesal dan berubah tidak semangat.

__ADS_1


"Iya, sama gantinya kamu harus segera kasih kakak debayi," kata Arman mulai melancarkan aksinya, untuk memuntahkan lahar ularnya.


__ADS_2