Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON ll ■ Bab 107


__ADS_3

"Arman lepasih," kesal Seli karena Arman dari tadi hanya memaksa.


"Masuk," Arman membuka pintu mobil memerintahkan Seli masuk.


"Ck," dengan terpaksa Seli masuk kedalam mobil Arman.


Tidak lama kemudian Arman juga ikut masuk dan mengemudikan mobilnya, tanpa berbicara sepatah kata pun.


Seli menyadari jalan yang mereka lewati adalah jalan menuju rumahnya, Seli santai saja sebab kali ini Arman tidak menyeleweng dengan memaksnya pergi jalan-jalan.


Tidak butuh waktu lama kini Seli dan Arman sampai di rumah Seli. Tanpa basa basi Seli turun dari mobil bahkan tidak mengucapkan kata terimakasih.


"Hey lu kok ikut turun?"


Seli tidak mengajak Arman turun tapi pria itu tanpa di ajak juga sudah turun sendiri. Tanpa perduli dengan Seli, Arman malah duluan berjalan masuk kerumah Seli.


"Hey," Seli berlari dan mendorong tubuh kekar Arman untuk keluar, "Nggak ada yang nyuruh lu masuk," kesal Seli.


"Memangnya saya butuh ijin kamu?"


"Iya dong ini kan rumah saja," Seli menjawab dengan setengah berteriak.


"Percaya diri sekali," Arman mengangkat sebelah alisnya merasa lucu dengan tingkah Seli, "Ini rumah orang tua kamu, kamu tidak ada hak untuk melarang saya masuk," tutur Arman yang membuat Seli semakin kesal.


"Tapi saya anaknya."


"Saya calon menantunya."


"What, menantu?" Seli masih shock dengan jawaban Arman.


"Minggir," Arman dengan sengaja menabrak Seli yang mematung menghalangi jalannya.


"Hey gila," Seli mengejar Arman setelah ia sadar dari lamunanya.


"Eh Nak Arman," sapa Lastri.

__ADS_1


"Bunda sehat?" Arman langsung mencium punggung tangan Lastri.


"Bunda?, woy lu siapa?" kesal Seli saat mendengar Arman memanggil Bunda juga pada ibunya.


"Seli, kamu tidak sopan pada calon suami, itu tidak baik," ucap Lastri yang kesal dengan tingkah sang anak terlihat tidak sopan.


"Seli lagi ngambek Bunda," tutur Arman.


"Haah," Seli melingo, "Ngambek paan," kesal Seli.


"Ia Bunda ngerti pasangan muda Bunda maklum," tutur Lastri sambil mempersilahkan Arman duduk di kursi sederhana di rumahnya yang sangat sederhana.


"Pasangaan muda apaan."


"Seli buat kopi sana cepat." Perintah Lastri dengan tegas.


"Em," Seli meninju udara menatap tajam Arman yang hanya menatap datar dirinya, sambil berlalu menuju dapur untuk membuat kopi.


Arman dan Seli memang sudah kenal cukup lama, tapi Seli selalu saja merasa kesal pada Arman. Sebab Arman hanya bisa memaksa dan memaksa, Seli sama sekali tidak menyadari karena perkelahian mereka setiap harinya terkadang ia merasa kurang bila sehari tidak ribut dengan Arman.


Sementara Arman selama ini diam-diam selalu menemui Lastri, dan mengatakan kalau ia jatuh hati pada Seli. Lastri adalah seorang janda, Ayah dari Seli meninggal dua tahun yang lalu ia hanya orang biasa dan sangat bangga tentunya bila Seli bersanding dengan Arman. Siapa yang tidak mengetahui Arman walau pun Arman hanya adik angkat Vano, tapi Arman tidak kalah populer di mata masyarakat. Lastri sangat menyetujui hubungan Seli dan Arman.


"Ini kopinya," Seli meletakan kopi buatannya di meja, "Abis minum pulang ya," Seli malah mengusir Arman.


"Uhuk, uhuk," Arman terbatuk-batuk saat meminum kopi buatan Seli, bukan karena ucapan Seli tapi kopi buatan Seli asin. Sepertinya gula di tukar garam.


Mampus.


"Udah sana pulang," Seli menunjuk pintu.


"Seli!" Lastri malah membentak Seli yang bersikap kekanak-kanakan.


"Maaf Bunda," Seli sangat menghormati Bundanya walau pun ia sangat kesal dengan Arman.


"Duduk," perintah Lastri, dengan berat hati Seli duduk berhadapan dengan Arman.

__ADS_1


"Nak Arman Bunda minta maaf ya, karena tingkah anak Bunda."


"Caelah ngapin minta maaf, nggak ada juga yang ngundang dia masuk," ketus Seli.


"Seli!."


"Bunda saya kemari ingin melamar Seli dan Saya tidak mau khilap karena kedekatan kami, jadi saya ingin Bunda memberi restu untuk saya menikahi anak Bunda," tutur Arman dengan pasti tanpa melihat kearah Seli.


"Apah, lu mau nikah sama gue?" tanpaknya Seli sangat shock dengan apa yang ia dengar, Arman melamarnya saat ini pada sang Bunda bahkan tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu dengannya.


"Seli jaga bicara mu, apa kau tidak punya sopan santun!" kesal Lastri menatap Seli, lalu Lastri menatap Arman dengan senyuman, "Bunda setuju kalau kamu niatnya sebaik itu, dan Bunda merestui kalian."Jawab Lastri terlihat sangat iklas.


Salah satu alasan Lastri menerima lamaran Arman adalah karena Arman orang kaya, tapi itu hanya bonus bagi Lastri. Alasan utamanya adalah Lastri kagum pada Arman, ia hanya anak Anggkat di keluarga Zavano tapi ia sangat rendah hati. Lastri mengacumi jempol pada Arman yang mau menerima Seli yang hanya terlahir dari keluarga sederhana, juga berkat bantuan Arman Seli bisa melanjutkan kuliah yang hampir putus di tengah jalan, terhalang biaya. Tapi Seli tidak pernah tahu jika selama ini Arman yang sudah membiayai kuliahnya, Arman meminta pada Lastri untuk menyembunyikan hal itu dari Seli. Sebab ia takut Seli menerimanya karena merasa berhutang budi. Dan hingga akhirnya kini Seli menepati posisi Ceo di perusahaan Ziva, karena Arman yang berada di belakangnya selama dua minggu sudah Seli menduduki kursi Ceo.


"Tapi yang mau nikahkan Seli Bunda, kenapa kalian langsung memutuskan!"


Lastri tidak perduli pada Seli, ia malah mengibaskan tangan di udara seolah tidak butuh persetujuan sang anak, lagi-lagi Seli hanya menyimpan kekesalannya dengan tingkah sang Bunda.


"Arman Bunda terima lamaran kamu, tidak usah pesta mewah, yang penting sah itu sudah lebih dari cukup untuk Bunda," jawab Lastri tanpa ada keraguan.


"Terimakasi Bunda," Arman tersenyum pada Lastri tanpa perduli Seli yang menatapnya dengan tajam.


"Iya, Bunda juga berterima kasih kamu sudah mau menikahi anak Bunda yang tomboy tidak laku-laku ini." Kesal Lastri melihat penampilan Seli yang sekarang menggunakan celana bokser selutut dan kaos oblong milik Alm.sang Ayah yang terlihat kebesaran di tubuhnya.


"Iya Bunda, Arman pulang dulu ya."


"Hati-hati nak Arman."


Arman mencium punggung tangan Lastri dan keluar dari rumah, di ikuti Seli yang masih kesal padanya.


"Heh," Seli memanggil Arman saat Arman akan keluar, Arman berbalik karena Seli berani tidak sopan padanya.


"Yang sopan sama calon imam," kata Arman.


"Ogah."

__ADS_1


Arman tidak perduli, ia melangkahkan kakinya keluar sebab ia bisa khilaf bila menatap Seli yang terlihat mengundang jiwa kelelakiannya, dengan pakaiyan yang kini di pakai Seli. Membuat Arman ingin segera menikahi Seli secepatnya.


__ADS_2