
Katakan lah saat ini Arman menyesal atas apa yang pernah ia lakukan pada Seli, tapi apa gunanya lagi? Kalau tidak karena Arman memaksa menikahi Seli, semua ini tidak akan terjadi. Kalau bukan karena Arman tak melayangkan tangan pada Seli semua ini tak akan terjadi. Kalau bukan karena Arman dengan cepat menceraikan Seli semua ini tidak akan terjadi.
Kalau, kalau, kalau, dan hanya kalau di awal kata penyesalan itu, tapi tetap saja nasi sudah menjadi bubur tidak akan pernah bisa kembali menjadi beras. Tidak perlu lagi mengingat dosa sebagai penyebab semua terjadi, tapi lebih baik dosa itu di jadikan pelajaran untuk kedepannya menjadi lebih baik lagi tanpa mengulangi kesalahan yang sama.
"Arman, kalau kamu mencintai Seli, Bunda mohon pertahankan rumah tangga kalian," Lastri yang duduk di samping Arman tau dan yakin bertapa Aman saat ini sangat terpukul dengan keadaan Seli.
"Tapi Seli mau Arman melepaskannya," Arman tidak akan menceraikan Seli kecuali Seli yang memintanya sendiri sebab Arman takut membuat wanita yang ia cintai tak bahagia dan menderita hidup dengannya.
"Bunda sangat tau bagaimana sifat Seli, dan bisa melihat semenjak kamu pergi dia berubah murung bahkan tidak ada lagi kecerian yang dulu terlihat, juga sampai ini terjadi itu karena dia tak sanggup melihat mu dengan wanita lain. Kau ingat Arman saat kau menampar Seli karena terbakar cemburu, begitu juga dengan Seli saat ini. Cemburu membuatnya lupa diri dan kalian memiliki kesamaan yaitu sama-sama egois, dan kalian harus sama-sama belajar agar bisa membuat cinta kalian kembali bersatu," Kata Lastri penuh harap Arman hanya bisa menganggu.
"Bunda, Arman solat dulu ke musola," Pamit Arman.
"Iya Nak, nanti kamu cepat kembali, supaya Bunda juga bisa solat," Kata Lastri.
"Iya," Arman pergi menuju musola, meninggalkan Lastri duduk di sofa ruangan rawat Seli. Semalam ia tidak bisa tidur karena berharap anaknya bagun namun sayang sampai siang ini juga Seli masih berada dalam dunianya.
Hingga Lastri yang lelah tertidur di sofa, ia pun tak sadar mungkin karena terlalu lelah hingga dalam duduknya ternyata alam mimpi menyapa. Dan di saat seperti ini seorang wanita lengkap dengan pakaian perawat masuk ke ruangan Seli, dengan wajah tertutup masker. Perlahan suster itu melangkah mendekati Seli dengan sesekali melihat keadaan sekitarnya.
"Selamat tinggal Seli sayang, malang sekali nasif mu," Wanita itu mencabut alat medis yang melekat pada tubuh Seli, tidak lupa oksigen yang membantu pernapasan Seli juga di lepas, bantal yang di gunakan Seli ia ambil dan menutup wajah Seli.
"Hemmmmmm," Seli kehilangan oksigen tubuhnya gejang-gejang, menunggu maut yang datang menjemputnya. Mungkin di surga sana akan ada kebahagiaan yang berpihat padanya.
"Seli....." Teriak Lastri yang terbangun dari tidurnya dan shock melihat anaknya yang ditutup bantal oleh seorang perawat.
__ADS_1
Dengan cepat perawat itu berlari mendorong tubuh Lastri hingga terjatuh di lantai, sebab Lastri berusaha memegang wanita itu.
"Tolong....!" Teriak Lastri dengan kuat.
BUUK.
"Auu," Wanita itu menabrak Arman yang hendak masuk keruangan Seli, namun dengan cepat ia berlari. Sementara Arman yang masih belum tau apa-apa terus berjalan sampai akhinya Arman mendengar Lastri menangis beriringan dokter masuk dan memeriksa keadaan Seli.
"Seli," Arman shock melihat keadaan Seli, dengan cepat perawat meminta Lastri dan Arman keluar dari ruangan itu. Agar konsentrasi dokter tidak terganggu karena kehisterisan keluarga.
Dokter terus berjuang di dalam sana berusaha bisa menolong Seli, hingga Anggia juga ikut masuk karena ia juga sangat dekat dengan Seli. Tidak ada yang berani menghalangi Anggia masuk sebab ia pun seorang dokter. Seli di tangani oleh mempat dokter di dalam sana sebab alat medis harus segera kembali terpasang di tubuh Seli, lagi pula kini mereka tau kalau yang mereka rawat adalah anggota keluarga Zavano pemilik rumah sakit itu.
"Ziva," Lastri langsung memeluk Ziva saat melihat Ziva wanita yang sudah ia anggap anak kandung.
"Seli," Lastri menunjuk ruangan Seli tanpa bisa lagi menjawab dan menceritakan apa yang telah terjadi pada putrinya.
"Mbak Lastri," Sinta juga memeluk Lastri dengan erat berusaha memberi ke kuatan pada Lastri yang terlihat sangat rapuh.
Hingga 20 menit kemudian Anggia keluar menemui keluarga, wajah Anggia tertunduk tak bisa berucap apa-apa.
"Anggia, Seli sudah baik-baik saja?" Tanya Lastri penuh harap.
Anggia hanya diam tanpa bisa menjawab hingga membuat perasaan semua keluarga tidak karuan. Ratih yang baru saja sampai mulai mendekati menantunya dan juga bertanya.
__ADS_1
"Anggi, coba jawab Nak?" Tanya Lastri.
"Seli...." Anggia menangis dan memeluk Ziva dan juga Lastri.
"Anggia, jawab Bunda kalau Seli baik-baik saja," Teriak Lastri.
"Seli sudah pergi membawa bayinya Bunda," Tutur Anggia dengan bibir bergetar karena tak kuasa mengatakannya pada Lastri.
"Kamu pasti bohong," Lastri masuk dan menghambur memeluk putrinya yang kini sudah terbaring tak bernyawa, "Seli bangun Nak, hiks, hiks," Teriak Lastri sambil berusaha membuat putrinya terbangun, namun sayang sepertinya Seli sudah tidak akan mungkin bisa kembali lagi.
"Anggia kamu jangan becanda nggak lucu tau nggak, hiks, hiks," Ziva masuk dan ingin melihat keadaan Seli dan ia ingin memastikan apa yang di katakan Anggia adalah salah.
"Seli bangun..." Teriak Lastri.
"Seli," Ziva memeluk tubuh Seli yang kini terbaring terlentang, "Kenapa alatnya di lepas! Pasang lagi. Apa kalian sengaja agar Seli tidak bisa di selamatkan!" Teriak Ziva.
"Sayang, kita harus sabar kasian Seli," Vano memeluk sang istri yang kini sedang histeris hingga perlahan Ziva kehilangan kesadaran dan itu semakin membuat orang-orang panik.
"Ziva," Teriak Sinta, "Anggia cepat periksa Ziva," Teriak Sinta ia juga takut jika kandungan Ziva terjadi sesuatu.
Dengan cepat Vano melarikan Ziva ke Igd dan di tangani oleh Anggia, sementara di ruangan Seli masih terdengar tangisan seorang wanita, wanita yang mengandung, melahirkan, merawat, menyusui, hingga membesarkan Seli dengan penuh cinta. Namun siapa sangka nasip sang putri hanya sampai di sini melihat dunia yang sangat kejam untuknya.
"Seli bangun Nak? Demi Bunda, apa kamu tidak sayang sama Bunda? Ayah mu sudah pergi meninggakan Bunda Nak. Bunda tidak sanggup kalau kamu juga meninggalkan Bunda, Seli setelah Ayah tiada kamu bilang akan ada untuk menjaga Bunda lalu kenapa kamu mengingkari janji itu! Kenapa kamu juga malah pergi menyusul Ayah, meninggalkan Bunda sendiri," Tangisan Lastri seakan menggambarkan kalau ia belum siap di tinggal sang putri.
__ADS_1
"Mbak sabar," Sinta lagi-lagi hanya bisa berkata demikian sambil memeluk memberi kekuatan pada Lastri.