Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 175


__ADS_3

"Mas itu tadi......" Ziva menujuk arah wanita yang menabraknya, "Kemana wanita tadi, cepet banget ngilangnya, Mas Ziva kok seperti kenal ya sama wanita tadi," kata Ziva pada Vano.


"Siapa?" Vano melingkarkan tangan di pinggang Ziva sambil keduanya kembali berjalan.


"Nggak tau Mas, tapi......" Ziva mencoba mengingat tapi ia pun tak dapat menemukan jawabannya.


"Udah, mungkin kamu salah orang, lagian kalau dia kenal sama kamu dia pasti tegur kamu kan?" Vano meyakinkan Ziva agar tak terlalu memikirkan hal yang tidak penting.


"Iya Mas mungkin aja gitu," Ziva masuk ke dalam mobil di susul Vano juga yang masuk dan duduk di kursi kemudi.


"Kita pulang ya sayang," Vano mengacak rambut Ziva dan mulai mengemudikan mobilnya, namun di tengah jalan Ziva merasa tak tenang. Ia kasak-kusuk tak jelas.


"Sayang kamu kenapa," Vano yang melihat istrinya duduk tidak tenang merasa penasaran, dan ia mengutarakan pertanyaannya.


"Mas kita balik ke rumah sakit yuk, Ziva nggak tenang soalnya," pinta Ziva penuh harap pada Vano.


"Tapi yang, anak kita harus minum asi kan? Nanti setelah mereka kamu beri asi kita kembali lagi ke rumah sakit," pinta Vano.


"Ziva mohon Mas, kali ini aja. Ziva beneran nggak tenang. Ziva mohon," pinta Ziva lagi.


"Yaudah....." jawab Vano dengan susah payah, perasaan Ziva kini memang sedang kacau dan Vano pikir tak ada salahnya mengabulkan keinginan Ziva. Kondisi Daffa kini memang sedang sangat buruk, mungkin setelah Ziva kembali melihat keadaan Daffa baik-baik saja ia bisa mengajak Ziva pulang sebentar hanya untuk bayi mereka. Yang kini terpaksa minum susu formula karena Ziva belum memberi asi.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Ziva dan Vano kembali sampai di rumah sakit, Ziva turun dan di susul oleh Vano yang berjalan di belakang Ziva sebab Ziva berjalan dengan tergesa-gesa terkesan tak sabar menemui Daffa, bahkan ia berlari. Entah mengapa ia sangat tidak tenang meninggalkan Daffa, sedetik pun rasanya tak rela Daffa menghilang dari pandang matanya. Kini Ziva sudah berdiri di pintu ruangan Daffa, mata Ziva melebar saat melihat seorang wanita menyuntingkan sesuatu pada selang infus Daffa. Dengan langkah cepat Ziva masuk dan mendorong wanita tersebut.


"Heh.....kau sedang apa," Ziva menghempaskan wanita tersebut hingga terjatuh di lantai.


"Au," Wanita tersebut meringis tak kala terjatuh karena ada yang mendorongnya, ia benar-benar tak menyadari keberadaan Ziva yang sudah berada di sana juga. Padahal ia tadinya sudah merasa sangat aman.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Ziva tapi wanita tersebut menutup wajahnya dengan selendang, Ziva berniat menarik selendang itu tapi Daffa tiba-tiba gejang-gejang mungkin obat itu mulai bereaksi.


"Daffa!" teriak Ziva panik dan memanggil dokter, kesempatan itu di ambil oleh wanita yang berniat mencelakai Daffa. Ia pergi meninggalkan ruangan Daffa dengan senyuman bahagia, ia yakin sebentar lagi Daffa akan menyusul kedua orang tuanya juga. Itulah yang di harapkan wanita itu, agar Ziva tau rasanya kehilangan orang yang ia sayangi dan mungkin setelah itu Daffi lah korbannya. Sebenarnya wanita itu berniat menghabisi anak kembar itu sekaligus, namun saat itu hanya ada salah satunya tak apa hanya satu dari pada tidak sama sekali pikir wanita itu.


"Sayang Daffa kenapa?" Vano yang baru saja masuk keruangan itu panik melihat Daffa yang tengah kejang-kejang, bahkan dokter terlihat kesulitan untuk menanganinya.


"Tuan, Nyonya. Saya mohon untuk menunggu pasien di luar saja, saya mohon demi pasien juga tuan. Agar dokter lebih fokus menangani," pinta seorang perawat penuh harap, sebab ia tau Vano adalah pemilik rumah sakit itu, dan mereka semua sangat takut padanya.


"Tapi Mas....." manik mata Ziva menatap Daffa berat rasanya meninggalkan Daffa, apa lagi setelah apa yang tadi terjadi.


"Sayang, kita keluar biarkan dokter fokus menangani Daffa, kamu mau Daffa baik-baik saja kan?" tanya Vano.


"Iya....." Ziva menuruti keinginan Vano demi sang adik yang kini di tangani dokter.


"Ziva kamu tidak apa-apa Nak?" tanya Sinta yang baru saja datang bersama dengan Daffi, bahkan Daffi langsung memeluk Ziva dengan panik.

__ADS_1


"Daffi kamu kenapa?" Ziva bingun dengan Sinta dan Daffi yang baru saja datang dan terlihat panik.


"Tadi ada suster yang bilang Kakak kecelakaan di depan, dan kami langsung berlari tapi Kakak nggak ada di sana , Kakak nggak kenapa-kenapa kan?" Daffi melihat tubuh Ziva yang baik-baik saja.


"Iya Ziva, kamu baik-baik saja kan Nak?" Sinta juga tak kalah panik.


"Ziva nggak kenapa-kenapa," jawab Ziva sambil menatap Vano penuh tanya, dan ia ingat akan wanita yang barusan menyuntikan sesuatu pada selang infus Daffa hingga sekarang ia gejang-gejang.


"Ziva kamu memikirkan sesuatu?" tanya Vano yang khawatir.


"Mas, tadi itu Ziva lihat perempuan pakek masker dan nutup kepalanya pakek selendang. Dan dia juga pakek kaca mata Mas, Ziva ingat wanita itu tadi yang nabrak Ziva tapi dia udah kabur. Dan keadaan Daffa sekarang seperti ini," kata Ziva dengan sesegukan.


"Wanita?" tanya Vano shock dengan apa yang di katakan Ziva, Daffa dan Sinta juga ikut panik mendengar apa yang baru saja di alami Daffa.


"Berarti Mama sama Daffi tadi di tipu buat liat kamu ke IGD, dan Mama tinggalin Daffa sendiri padahal tadi suster yang jaga minta Mama buat nggak pergi sebelum dia kembali. Karena dia pamit ke toilet," kata Sinta yang mengingat kejadian beberapa saat lalu hingga ia pergi bersama Daffi meninggalkan Daffa.


"Ya Allah.....Mas," Ziva tak bisa menyembunyikan rasa takutnya, "Sepertinya dia dendam sama kami, siapa ya Mas?" tanya Ziva semakin ketakutan. Ia bukan takut bila berhadapan dengan orang tersebut, tapi Ziva takut jika orang itu berhasil menghabisi keluarganya. Ziva tidak akan sanggup kehilangan adik kembarnya dan juga kalau ia yang celaka bagaimana nasip anak-anaknya.


"Sayang," Vano memeluk Ziva, ia pun tak menyangka dan berpikir jika orang tersebut berambisi untuk melenyapnya Ziva dan juga adik-adiknya.


"Dok bagaimana dengan adik saya?" tanya Ziva setelah dokter keluar dari ruangan Daffa.

__ADS_1


"Bersukur pasien baik-baik saja, ini karena ada zak kimia yang masuk kedalam tubuh pasien namun pasien berhasil di tangani sebelum obat itu menjalar ke seluruh bagian tubuh pasien. Nyonya berdoa saja semoga satu atau dua jam lagi pasien sadar," kata dokter tersebut lalu ia berpamitan pergi.


"Daffa," perasaan Ziva kini lebih lega karena Daffa baik-baik saja, namun ia tetap saja memikirkan siapa wanita barusan yang berniat mencelakai Daffa.


__ADS_2