
"Mas" Ziva mendorong Vano denga kuat dan turun dari pakuan Vano.
"Huek huek huek" Ziva memuntahkan isi perutnya begitu ia turun dari gazebo itu tanpa sempat berlari ke kamar mandi.
"Sayang" kata Vano juga ikut turun dari gazebo. Ia mulai mengusap bahu Ziva.
"Huek huek huek"
"Sayang" Vano melihat wajah Ziva sangat pucat dan itu membuatnya semakin khawatir.
"Mas" kata Ziva setelah ia rasa mualnya sudah hilang.
"Iya kenapa" tanya Vano sambil menarik tubuh Ziva kedalam pelukannya dan ia mulai menciumi pucuk kepala Ziva bertubi-tubi.
"Mas Ziva pengen jambu" kata Ziva yang menyandarkan kepalanya pada dada Vano.
"Kamu mau kita yang beli atau mbok Yem yang belikan?" tanya Vano.
"Ziva pengen Mas panjat sendiri jambu tetangga sebelah" kata Ziva dengan senyumnya.
"Mas tidak bisa memanjat pohon yang. Mas bisanya manjat kamu" kata Vano.
"Mas hiks hiks hiks" Ziva mulai merengek seperti anak kecil yang meminta di belikan eskrim.
"Sayang" Vano mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung harus apa.
"Mas jahat" kata Ziva lalu ia masuk meninggalkan Vano dengan menghentakkan kakinya.
Vano yang mulai menyadari Ziva meninggalkannya. Mulai menyusul Ziva dan ia dapat melihat Ziva yang berjalan dengan setengah berlari dan itu membuatnya sangat khawatir.
"Sayang kamu pelan-pelan saja jalannya" kata Vano yang sudah berjalan di samping Ziva.
"Mas" Ziva menghentikan langkahnya sambil melihat Vano yang berada di sampingnya.
"Ya kenapa sayang ku" tanya Vano sambil tangan memegang pipi Ziva.
"Ziva maunya jambu dan Mas yang panjat jambu terangga sebelah" kata Ziva dengan suara yang lembut karena ia sangat mengiginkannya.
"Sayang jangan yang itu ya. Yang lain saja" kata Vano masih mencoba memberi penawaran.
"Tapi Ziva maunya jambu terangga sekarang" kata Ziva dengan wajah murungnya.
__ADS_1
"Ziva!!!" bentak Vano dengan emosi dan ia tidak bisa menahan emosinya karena permintaan Ziva yang sangat konyol. Ziva diam dan ia tidak lagi merengek meminta apa yang ia inginkan dan ia merasa takut dengan bentakan Vano.
"Ya sudah. Tapi yang panjat tukang kebun ya yang" kata Vano setelah ia melihat raut wajah Ziva berubah sedih dan air mata Ziva mulai menetes.
"Iya Mas tapi mulai nanti malam Ziva mau tidur juga sekalian sama tukang kebunnya" jawab Ziva.
Ziva pergi berlari menaiki tangga entah mengapa ia sangat ingin sekali makan jambu itu. Dan Vano yang memanjatnya sendiri. Ziva masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu dengan rasa kesal. Ia merebahkan tubuh nya di ranjang ia lebih memilih tidur dari pada harus meminta Vano menuruti keinginannya.
Sementara Vano yang masih berada di tempatnya mulai merasa bingung. Dan hati nya sangat khawatir saat melihat Ziva berlari. Apa lagi Ziva berlari di tangga ia tidak mengerti dengan keanehan Ziva sekarang. Kadang Ziva berubah manja. Kadang menjadi cengeng dan kadang marah tanpa alasan yang jelas. Vano mulai merindukan Ziva yang kuat dan selalu mandiri.
Vano mulai berjalan juga menaiki anak tangga karena ia ingin melihat Ziva. Vano mulai membuka pintu kamar dengan pelan dan hati-hati. Lalu Vano mulai masuk dan ia melihat Ziva sedang berbaring di ranjang sambil menutup tubuhnya dengan selimut. Dengan langkah yang berat Vano mulai mendekati Ziva dan ia mendudukan dirinya di sisi ranjang.
"Sayang" Vano memanggil Ziva namun Ziva tudak perduli sama sekali.
"Zivanya istri Mas yang cantik" kata Vano sambil memegang tubuh Ziva yang berada di bawah selimut.
"Hiks hiks hiks" terdengar suara isakan tanggis dari bawah selimut.
"Sayang kamu menangis" tanya Vano dengan hati yang benar-benar khawatir dan ia mulai membuka selimut yang di pakai Ziva.
"Sayang" Vano merasa shock melihat wajah Ziva kini berubah sangat pucat dengan wajahnya yang di basahi air mata.
"Mas aku mau tidur Mas keluar saja" kata Ziva dengan wajah pucatnya.
"Ya sudah biar aku saja yang keluar!" kata Ziva dengan jengkel.
"Ya sudah Mas keluar" kata Vano. Vano keluar dengan langkahnya yang terasa berat karena bingung mau keluar atau tidak. Dan ia menutup pintu dan berdiri di depan pintu kamar yang tertutup.
"Panjat jambu atau tidak. Tapi kalau tidak salah tetangga sebelah punya anjing yang galak terus pohon jambunya sangat tinggi" gumam Vano ia terus memikirkan keinginan Ziva yang menurutnya sanga konyol.
"Vano" tiba-tiba terdengar suara Sinta yang baru saja datang dan ia sudah berada di hadapan Vano. Vano dari tadi tidak menyadari keberadaan Sinta karena ia sibuk dengan lamunannya.
"Mama" Vano tersentak mendengar Sinta menyebut nama nya.
"Mama kapan kesini?"
"Mama baru saja sampai. Dan kamu dari tadi melamun kenapa?" tanya Sinta.
"Ziva minta Vano manjat jambu terangga Ma. Terus jambunya tinggi banget di tambah lagi anjingnya yang suka sekali mengejar orang Ma"
Sinta tersenyum dan ia tertawa melihat wajah prustasi Vano. Sinta melihat Vano seperti orang linglung.
__ADS_1
"Mama kenapa?" tanya Vano.
"Mama jadi ingat waktu dulu Mama hamil kamu. Dan itu sama dengan sekarang yang di inginkan Ziva" kata Sinta yang membayangkan bertapa konyolnya saat ia ngidam.
"Mama juga nyuruh Papa dulu manjat jambu terangga?" tanya Vano penasaran.
"Iya dan abis itu Papa kamu di sengat lebah. Karena jambu tetangga itu ada sarang lebahnya" jawab Sinta santai.
Sementara Vano semakin takut dan ia dengan susah payah mendeguk salivanya. Memikirkan apa yang akan terjadi padanya dan ia memutuskan untuk tidak usah memanjat jambu itu ia yakin itu hanya ke inginan sesaat Ziva nanti juga Ziva sudah lupa dan tidak menginginkannya lagi.
"Ziva di mana?" tanya Sinta.
"Di dalam Ma" jawab Vano.
"Ya sudah Mama ke dalam dulu"
"Vano juga ke kantor sebentar ya Ma" kata Vano.
"Ya sudah" jawab Sinta.
Vano pergi dan Sinta mulai membuka pintu kamar. Ia mulai melihat Ziva yang berbaring di ranjang lalu Sinta mulai mendekati Ziva.
"Sayang kamu jangan tidur ini masih terlalu pagi sangat tidak baik untuk kamu dan cucu Mama" kata Sinta.
Ziva mulai duduk karena mendengar mertuanya yang berada di kamarnya.
"Mama sudah lama di sini?" tanya Ziva.
"Baru saja. Nak wajah kamu pucat sekali" kata Sinta sedikit panik.
"Tidak apa Ma Ziva cuman sedikit pusing" jawab Ziva.
"Ya sudah kamu istirahat saja. Biar Mama pulang dulu besok Mama datang lagi. Dan kamu jangan banyak gerak Mama sebenarnya tidak tega meninggalkan kamu tapi Mama ada tamu nanti teman lama Mama mau datang kerumah" kata Sinta dengan wajah sedihnya.
"Ya Ma Ziva tidak apa" jawab Ziva.
"Kamu kalau ada apa-apa telpon Mama" kata Sinta.
"Iya Ma" jawab Ziva.
"Mama pulang dulu besok kita bikin rujak ya" kata Sinta sebelum pergi.
__ADS_1
"Iya Ma" Ziva kembali membaringkan tubuhnya.