
Keadan Daffi kini sangat buruk, tak ada tanda-tanda bahwa Daffa akan segera sadar. Tabrakan yang di alami Daffa sangat serius hingga nyawanya benar-benar terancam.
"Mas, udah dua jam. Tapi Daffa belum juga sadar....hiks...hiks," tangis Ziva kembali pecah mengingat keadaan sang adik. Rasanya bila ada yang bisa ia lakukan asal adiknya selamat dan pulih kembali, ia akan melakukan itu tanpa pikir panjang seperti dulu.
"Sabar.....kita doakan semoga Daffa baik-baik saja," Vano hanya bisa memeluk Ziva, berharap dengan begitu ia bisa membuat Ziva lebih tenang.
"Mas, yang nabrak Daffa siapa ya kenapa dia melarikan diri?" tanya Ziva menatap Vano.
Vano sebenarnya tak mau membahas ini, namun karena Ziva sudah bertanya tak mungkin ia tak menjawab.
"Mas udah minta Arman buat mencari siapa orang itu, kamu sekarang fokus sama Daffa dan anak-anak kita ya, masalah penabrak itu kamu percayakan sama Mas," Vano mengecup kening Ziva dan kembali memeluknya.
"Ziva kamu belum makan Nak," kata Zinta yang duduk di samping Daffi.
"Nanti aja Ma," jawab Ziva.
"Kamu nggak boleh telat makan, kamu itu harus kasih asi sama empat cucu Mama," Sinta memberikan kotak makanan pada Vano untuk menyuapi Ziva, sementara Daffi sudah makan bersama Sinta. Daffi beberapa kali menolak, namun Sinta memaksa walau pun hanya dua suap nasi saja.
"Sayang Mas suapin ya," Vano membuka kotak makanan tersebut dan mulai menyuapi Ziva.
"Ziva belum lapar Mas...." jawab Ziva tak berselera sedikit pun melihat makanan itu, mungkin karena hati dan pikirannya belum tenang. Sehingga nikmatnya makan itu serasa seperti tak nikmar sama sekali.
"Sayang, kamu makan untuk anak-anak kita....kasihan mereka kalau asinya nggak enak kan? Apa lagi mereka nanti sakit perut, nanti malah kamu nggak bisa di sini buat temanin Daffa," kata Vano sebelah tangannya merapikan rambut Ziva yang menutupi wajahnya beberapa helai.
Ziva diam lalu mengangguk, Vano mulai menyuapi Ziva dengan telaten. Perasannya ikut sakit melihat keadaan istrinya yang terus saja bermuram durja, bahkan pipi Ziva tak pernah kering dari jejak air mata.
__ADS_1
"Mas udah ya, Ziva udah kenyang," kata Ziva.
"Iya...." Vano menggangguk dan memberikan botol minuman pada Ziva, "Kamu minum dulu," tutur Vsno lagi.
Setelah itu Ziva kembali berdiri dan menatap keadaan Daffi yang sangat memprihatinkan, dengan terbaring di ranjang.
"Vano, kira-kira siapa ya orang udah buat Daffa begini? Ini nggak ada hubungannya kan sama penculikan Mama dan Zie waktu itu?" Tanya Sinta yang panik, bahkan kini ia sangat takut bepergisn tanpa ada pengawal.
"Arman masih mencari siapa pelakunya Ma, semoga saja setelah ini tidak ada lagi kejadian yang seperti ini," jawab Vano.
"Iya Nak kamu beber, ya.....Allah tega banget ya Nak orang-orang itu," Sinta mengelus dada ia tak mengerti mengapa ada orang setega itu.
"Iya Ma, kadang demi harta orang rela melakukan apa saja, walau jelas itu bukan hak mereka," Vano menunduk membayangkan bertapa rumitnya hidup Ziva.
"Ma, perusahaan itu sudah bangkrut Ma, Vano harus mengeluarkan dana cukup besar untuk menyelamatkan nasip perusahaan itu. Arman harus terpaksa memimpin perusahaan itu agar perusahaan kembali normal, minimal sampai Daffa dan Daffi mampu mengendalikan semua itu. Apa belum cukup uang perusahaan yang mereka makan selama ini, memakan hak anak yatim sungguh menjijikan," ucap Vano rasanya ia ingin muntah bertapa rendahnya manusia yang suka memakan hak orang lain. Apa lagi hak anak yatim.
"Ya sudah, kalau begitu. Sebaiknya kamu temani Ziva pulang saja biar Mama dan Daffi di sini menunggu Daffa sadar," kata Sinta.
"Apa Ziva mau Ma?" tanya Vano dengan sangat ragu.
"Anak-anak kamu di rumah sekarang butuh asi Bundanya Nak, kamu bujuk supaya Ziva mau pulang. Paling tidak hanya untuk memberi asi saja.....setelah itu kalian kembali lagi ke sini untuk melihat Daffa," Sinta mengusap punggung Vano, agar mau membujuk istrinya pulang.
"Iya Ma," Vano bangun dari duduknya dan mendekati Ziva yang kini menangis menatap Daffa dari kaca, "Sayang," Vano memeluk Ziva yang membelakanginya.
"Mas, Ziva nggak sanggup kalau Daffa harus pergi, andai saja aku bisa menggantikannya di sana aku mau Mas.......hiks.....hiks...." Ziva tak tau harus berbuat apa selain berdoa dan menangis saja.
__ADS_1
"Sayang, kamu nggak boleh ngomong begitu ya," Vano membalikan tubuh istri nya agar menatapnya, "Kamu harus tetap kuat menghadapi semua cobaan ini, demi anak-anak kita....." Vano menyatukan dahinya dan dahi Ziva, "Kalau kamu kenapa-kenapa Mas bisa gila, jadi kamu harus tetap ada buat Mas dan yang lainya ya," Vano menjauhkan ditinya dan mungusap jejak air mata pada pipi Ziva dengan ibu jarinya.
"Makasi Mas....." Ziva memeluk Vano dengan erat, bersama Vano kini ia jauh lebih kuat melewati semua cobaan dalam hidupnya.
"Iya, kita pulang ya," pinta Vano sambil melihat wajah Ziva.
"Nggak, Ziva mau di sini aja," Ziva menolak dan ia kembali memeluk Vano.
"Sayang, kita udah cukup lama di sini, ingat ada anak kita di rumah yang butuh asi kamu. Nanti kalau kamu udah selesai kasih asi kita balik lagi ke sini ya....." Vano tak putus asa untuk membujuk Ziva.
"Tapi kalau Daffi sadar terus nyariin Ziva, gimana Mas?" tanya Ziva yang masih ragu untuk pulang.
"Mama tetap di sini sama Daffi, nanti kalau Daffa sadar Mama bakalan telpon kita, lagian nanti kalau baby A, B, C, D sakit kamu nggak akan bisa buat jagain Daffa," pinta Vano lagi.
"Yaudah.....kita pulang Mas," Ziva mengerti dengan ke khawatiran Vano mengenai anak-anak mereka, bagaimana pun Ziva tidak bisa egois masih banyak yang juga membutuhkannya termasuk anak-anaknya.
Ziva dan Vano berpamitan pada Sinta dan Daffi, keduanya menyusuri lorong-lorong rumah sakit hingga saat ia berjalan tanpa sengaja seseora berkerudung dengan menutup wajahnya menabrak Ziva.
BRUUK.
"Au," Ziva meringis saat ia terjatuh ke lantai.
"Sayang, kamu nggak papa kan?" Vano panik juga khawatir, dengan cepat ia membantu Ziva berdiri. Sementara wanita yang menabrak Ziva langsung pergi begitu saja tanpa meminta maaf atau pun bicara sepatah kata pun.
"Aku nggak papa Mas," Ziva berdiri dan melihat tubuhnya yang baik-baik saja tanpa cidra.
__ADS_1