
Kini Tia dan Mirna sudah di masuk kan ke dalam penjara untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, kenapa Vano tak menghukum Tia dan Mirna dengan caranya, itu karena ia takut Ziva tau siapa dirinya. Jadi ia memutuskan untuk tidak berbuat buruk, sebelum Ziva tau ia adalah mafia berdarah dingin.
SATU MINGGU KEMUDIAN.
*
Kini Daffa sudah sadarkan diri, keadaannya pun sudah lebih baik. Bahkan Daffa sudah bisa mendudukan tubuhnya walau pun dengan cara yang hati-hati, bahkan kadang harus di bantu oleh orang lain. Namun itu jauh lebih baik dari pada keadaannya beberapa hari yang lalu.
"Om Daffa, sustel nya cantik kan?" tanya Zie yang duduk di ranjang Daffa sambil memakan apel yang di kupas Sinta untuk Daffa, namun justru Zie yang lebih banyak memakannya.
"Terus kalau cantik kenapa?" tanya Daffa sambil menatap Zie yang sedang mengunyah tanpa jeda.
"Kemalen Ayah intip dai cana, tata nya custel syantik," Zie menunjuk pintu di mana Vano mengatakan kalau suster itu sangat cantik.
"Mas!" Ziva menatap Vano dengan tajam dan kesal.
"Zie kapan Ayah bicara begitu," Vano mendekati Ziva namun matanya menatap kesal Zie.
"Mayen......." jawab Zie lagi sambil cengengesan menunjukan gigi ompongnya.
"Mana ada, ngarang kamu...." kesal Vano sambil memeluk Ziva, "Sayang Zie bohong, nggak ada yang lebih cantik dari kamu," Vano mencoba merayu istrinya yang sedang kesal karena cemburu.
"Tapi Zie masih kecil, jadi nggak mungkin bohong Mas.....hiks.....hiks....." Ziva malah benar-benar menangis karena takut kehilangan Vano.
"Ziva kamu kenapa jadi suka nangis begini, Mama perhatikan kamu beda banget beberapa hari ini. Kamu hamil lagi Nak?" tanya Sinta yang melihat perubahan pada Ziva.
Ziva mengusap air mata dan memegang perutnya, "Ma, kembar masih usia tiga bulang, jadi nggak mungkin Ziva hamil lagi," jawab Ziva pada Sinta.
"Tapi Mama curiga kamu hamil lagi," kata Sinta lagi yang menatap tubuh Ziva.
"Sayang kamu nggak hamil lagi kan?" kini Vano yang bertanya dengan ketakutan, karena kalau istrinya hamil lagi ia akan kembali berpuasa padahal ia baru sebulan ini berbuka puasa. Walau pun hanya di malam hari saja, namun itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.
"Memangnya kenapa kalau Ziva hamil lagi?" kini Ziva yang kesal pada Vano sebab ia takut Vano tak mengijinkannya hamil lagi karena ingin pergi bersama wanita lain.
__ADS_1
"Ck...." Vano menggaruk kepala dengan frustasi, sekarang saja susah sekali mendapatkan haknya bahkan walau hanya sekedar pegang-pegang saja harus mengantri, dan yang parahnya ia tak bisa menyelip di antara empat bayinya. Sebab antriannya sudah pasti yang ke lima paling akhir, itu pun kalau semua sudah tenang kalau ada yang rewel maka ia akan kembali mengantri lagi.
"Oma.....hamii apah?" tanya Zie yang sedari tadi bingung dengan pembicaraan orang dewasa sekitarnya, Sinta yang tadi melupakan ada Zie di sana malah merasa bingung dan bersalah sebab tak seharusnya ia berbicara demikian di hadapan Zie.
"Hamil itu terlalu banyak makan Zie, kayak Bunda pas perutnya gede dulu. Zie ingat nggak?" tanya Bilmar yang baru saja datang namun langsung ikut dengan percakapan mereka.
"Daddy....." Zie langsung berdiri dan tersenyum melihat Bilmar yang datang bersama Anggia.
"Anak Daddy," Bilmar langsung memeluk Zie dan menciuminya.
"Alma mana?" tanya Zie mengingat wajah sepupunya.
"Alma lagi sama Oma Ratih nanti juga dia ke sini sama Opa Rianda sama Alif juga," Kata Bilmar.
"Ye....." Zie merasa kegirangan karena dua sepupunya akan segera datang juga.
"Tapi tadi kalian ngomongin ada yang hamil? Siapa?" tanya Bilmar.
"Ini Bil Mama curiga Ziva hamil," jawab Sinta kembali menatap Ziva.
"Wah topcer bro," seloroh Bilmar tertawa pada Vano.
"Topcer pala lo, gw baru aja berbuka, apa iya puasa lagi," kesal Vano menjitak Bilmar.
"Sialan lo, sakit bego!" Bilmar mendudukan Zie kembali di ranjang, lalu ia mendekati Vano dan mencekik leher Vano.
"Sakit woy!" jawab Vano berusaha membalas Bilmar juga dengan mencekik Bilmar.
"Mati sekalian lu," kata Bilmar tak mau kalah.
"Bilmar.......Vano........" teriak Sinta yang membuat kedua pria dewasa itu berhenti saling mencekik, "Kalian udah punya anak bukan kasih contoh yang baik, tapi malah kasih contoh nggak bener. Di sini banyak anak-anak!" kesal Sinta.
"Kok banyak Ma? Kan cuman satu, Zie yang anak-anak di sini," kata Daffi.
__ADS_1
"Ada tiga Daffa, Daffi, dan Zie," kata Sinta menatap satu persatu.
"Siapa bilang Daffa anak-anak, Daffa udah dewasa tau Ma, Daffa juga udah punya pacar tau Ma," jawab Daffa tersenyum pada Sinta.
"Apa lagi Daffi Ma, Daffi punya 4 cewek di sekolah, satu lagi suster yang rawat Daffa. Jadinya 5 Ma, jadi Daffi juga udah dewasa tau Ma," jawab Daffi sambil menyisir rambutnya kebelakang.
Sinta geleng-geleng melihat Daffa dan Daffi yang sudah mengaku dewasa itu.
"Kalian semua tidak ada yang beres, Zie kamu juga udah dewasa," kata Sinta menatap kesal Zie.
"Udah Oma, Zie pacal Om Filman," jawab Zie setelah di bisikan oleh Bilmar.
"Bilmar, lu bener-bener cari ribut sama gw ya," Vano kembali menarik Bilmar dan membantingnnya ke lantai, dan Vano siap memberi bogem mentah.
"Anggi tolongin Abang dong, kalau Abang mati Anggi jadi janda loh," kata Bilmar.
"Mas Vano, lepasin suami Anggi tau!" Anggia sangat takut kehilangan Bilmar, jadi ia tak mau terjadi sesuatu pada suaminya. Ia tak perduli orang berkata ia lebay yang jelas ia sangat tak mau kehilangan suaminya.
"Suami begini aja di tangisin, di lampu merah juga banyak yang model begini!" kesal Vano sambil melepaskan Bilmar sebab Anggia kini tengah hamil lagi jadi wajar saja bila ia sedikit cengeng.
"Abang bangun," Anggia membantu Bilmar untuk bangun," sambil merapikan kembali pakaian suaminya yang kusut.
"Heh.....berani lu ngajarin Zie ngomong begitu lagi, abis lu!" Vano kembali mengancam Bilmar.
"Sayang Abang di ancam," Bilmar memeluk Anggia seolah ia ketakutan.
"Mas Vano!" kata Anggia menatap Vano dengan tajam.
"Sayang belain Mas Mas dong," kata Vano meminta pembelaan dari Ziva.
"Nggak! Mas juga gitu sama Ziva, Anggia ini ada gunting kamu tusuk aja aku udah iklas," kata Ziva menunjukan gunting yang tergeletak di atas nakas.
"Sayang....." Vano malah ingin menangis karena tak di bela oleh sang istri yang sedang kesal padanya.
__ADS_1
"Wahahahahah," semuanya tertawa melihat wajah Vano yang kesal, seakan menjadi hiburan bagi yang melihatnya. Terutama Bilmar yang tau jika Vano mafia takut istri.