
Pagi harinya.
"Mas kita jadi ke dokterkan?" tanya Ziva setelah selesai memandikan Zie di bantu Vano, sebab Ziva kesusahan bejongkon dan juga menggendong tubuh gemuk Zie.
"Jadi sayang ku," Vano menggendong Zie yan terlihat lebih segar yang kini sudah memakai baju cantik.
"Zie Bunda siap-siap dulu ya," kata Ziva sambil mengelus pipi Zie.
"Danndanda," Zie berbicara ala bayi yang kadang di mengerti kadang tidak.
"Ya Bunda," jawab Vano membenarkan perkatan Zie.
Setelah selesai berganti pakaian kini Ziva kembali menghampiri Vano dan Zie.
"Ayah, Zie Bunda udah siap kita pergi yuk," kata Ziva yang sudah memegang tas tangan.
"Sayang kamu kenapa?" Vano melihat Ziva menutup mulut.
"Hueeek," Ziva kembali kekamar mandi dan memuntahkan isi perutnya, "Huekkk, huuuekk," sudah menjadi kegiatan rutin Ziva muntah di pagi hari.
"Sayang kamu masih kuat," Vano yang menggendong Zie juga ikut menyusul, tadinya Vano ingin meletakan Zie di ranjang nya tapi Zie tidak mau sepertinya Zie masih merasa takut, akhirnya Vano menggendong Zie untuk melihat Ziva di kamar mandi.
"Masih Mas, aku cuman mual aja," Ziva membilas wajahnya dengan air agar terasa lebih segar.
"Ya udah yuk," kata Vano.
"Mas kita ajak Seli juga ikut ya, buat teman Zie," kata Ziva, karena ia masih merasa mual dan tidak kuat untuk menggendong Zie.
"Ya sayang," Vano mencium pipi Zie.
Kini Vano dan Ziva sudah di ruang tamu menunggu kedatangan Seli.
"Halo ponakan tante Seli," Seli merentangkan tangan pada Zie dari kejauhan.
"Anteh," Zie minta turun dari gendongan Vano dan ia lansung berjalan kearah Seli.
"Uluh, uluh ponaan tante Seli wangi banget sih," Seli menciumi pipi gembul Zie, "Zie mau ke dokter tanta ikut ya," kata Seli.
"Um, cini, cini, cini,cini," Zie seolah berbicara pada Zie dan menunjuk bagian tubuhnya, seolah ia mengadu apa yang masih bayi kecil itu rasakan.
"Udah nanti kita beli eskrim mau?" tanya Seli.
"Au," jawab Zie cepat.
"Kiss," Seli menunjuk pipinya.
"Om, Aiman citu," tutur Zie.
__ADS_1
"Ahahahaha," Ziva malah tertawa mendengar ucapan Zie, Vano tersenyum melihat Arman yang baru saja muncul. Langsung di tunjuk oleh Zie sementara ia tidak tau apa-apa.
"Bukan muhrim," kata Seli mencium pipi Zie.
"Mamam," kata Zie.
"Apa sih Zie lala-lama nggak jelas ngomong sama kamu," kesal Seli merasa gemas pada Zie.
"Arman antarin kita kerumah sakit," kata Vano.
Arman melirik Seli, "Yuk," jawab Arman dengan semangat.
"Aku nggak ikut," kata Seli kesal bila Arman ikut.
"Sel, kamu taukan Ayahnya Zie nggak ngerti buat nenangi Zie, kalau Zie rewel. Terus kamu taukan kondisi aku sekarang aja aku mual banget. Tolong lah Sel," pinta Ziva.
"Ya udahlah demi Zie," kata Seli keluar dari rumah duluan sambil menggendong Zie.
"Yang Mas nggak bisa emang nenangin Zie tapi kan Mas punya kelebihan yang lain," kata Vano sambil berjalan keluar.
"Apa?" Ziva menghentikan langkahnya dan Vano juga berhenti.
"Mas punya kelebihan buat adik Zie lagi," kata Vano agar sang istri tidak tegang karena memikirkan tubuh Zie banyak bekas kemerahan jelas sekali terlihat pagi ini.
"Itu bukan kelebihan Ayah," kata Ziva.
"Terus apa Bunda ku sayang," Vano menyatukan dahinya dan dahi Ziva.
Di mobil.
Seli duduk di depan dengan memangku Zie dan Arman menyetir, di belakangnya Vano dan Ziva yang sedang memeluk lengan Vano.
"Yah," Ziva mendekatkan bibirnya pada telinga Vano, "Yang di depan kayak keluarga bahagia," kata Ziva yang hanya keduanya saja yang mendengar.
Vano juga membalas bisikan Ziva, "Bunda tau ajah," kata Vano. Keduanya tersenyum membuat Seli bingung.
"Om, om, om," Zie berbicara tidak jelas sambil menatap Arman.
"Iya Zie sayang," Arman mencubit gemas pipi Zie.
"Om, Om,om," bocah kecil itu terus saja memanggil Arman sampai air liurnya tumpah.
"Yah kalau nggak ada kita mungkin mereka jadi keluarga bahagia beneran," kata Ziva dengan suara pelan.
"Bunda bener banger deh," kata Vano.
"Kalian jangan menggibah dong, suami istri kok menggibah dosa tau," kesal Seli yang dari tadi tamu kalau ia sedang menjadi bahan gosip suami istri itu.
__ADS_1
"Yah yang di depan ngamuk," kata Ziva mengencangkan suaranya agar di dengar Vano.
"Arman kamu nggak pernah ajak Seli piknik," tanya Vano.
"Ngapain?" tanya Arman.
"Biar nggak negatip pikirannya," jawab Vano.
"Atau kamu yang ajarin dia negatip-negatip," timpal Ziva.
"Apaan di ajar neganiv di pegang tangannya aja ngamuk," kata Arman.
"Kurang Man, yang Seli mau bukan pegang tangan," seloroh Ziva.
"Terus apa?" tanya Arman.
"Pelukan," jawab Ziva sambil terkekeh.
"Setan lu," kesal Seli yang menjadi bahan olokan dari tiga orang itu.
"Tenang Sel jangan marah-marah, kita bakalan segera nikah," kata Arman mencolek pipi Zie.
"Nggak" ketus Seli membuang wajahnya.
"Kok enggak? Kemarin Bunda kamu udah bilang ia," kata Arman.
"Nggak nolak Man," kata Ziva.
"Ziva kamu tau nggak, waktu kamu hamil buat Zie kamu kalem nggak hail. Dan hamil sekarang kamu jail dan berubah gesrek, apa anak kamu nanti lahir semenyebalkan monyet yang ada di samping aku ini!" kesal Seli.
"Calon istri durhaka lu bilang gitu ma calon laaki," kata Ziva.
"Bunda, sayang ku. Biarin itu urusan mereka," Vano tidak suka Ziva ikut campur urusan orang lain.
"Nanti ya Sel kita selesaikan urusan kita," kata Arman. Arman tidak bisa bebas bila ada Vano dan Ziva, bisa habis dia di tangan Ziva.
"Is gue nggak ada urusan sama lu," ketus Seli.
"Terserah lu," jawab Arman dengan wajah kesal.
Seli diam pertama kalinya Arman berkata seperti itu padanya, Seli mendadak takut dengan perkataan Arman.
Ziva menatap Vano dan Vano juga keduanya seolah bertanya tapi tidak ada yang bisa menjawab.
Sementara Arman sudah tidak perduli lagi pada Seli, ia bahkan memasang wajah datar tanpa expresi seperti dulu. Arman menarik nafas menyerah pada keadaan ia berjanji pada dirinya tidak akan pernah memaksa Seli lagi dan akan meminta maaf kepada Lastri selaku ibu dari Seli, untuk membatalkan rencana pernikahan mereka. Begitulah saat ini pikiran Aeman yang sudah menyerah pada keadaan.
"Arman kamu baik-baik saja," tanya Ziva yang melihat Arman hanya diam.
__ADS_1
"Iya," jawab Arman tidak ada basa-basi lagi atau pun wajah ramahnya.
Kini mereka sampai di rumah sakit, Ziva da Vano turun. Begitu juga denga Seli, tapi tidak dengan Arman.Arman lebih memilih menunggu di mobil. Dan menjauhi Seli.