Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 67


__ADS_3

"Sayang" Vano yang tadinya meninggalkan ruang tamu langsung menuju taman belakang karena ia tau Ziva ada di sana. Dengan rasa bahagia ia mendekati Ziva ke bahagian di rumah rasanya sangat berbeda saat ini.


"Mas" kata Ziva. Ia bangun dari duduknya dan meletak kan piring yang berisi rujak di tangannya dan langsung memeluk tubuh kekar suaminya dengan bahagia.


Vano tersenyum dengan reaksi istrinya saat melihat dirinya Ziva tidak sungkan untuk memeluknya. Entah rindu atau bagaimana tapi Ziva merasa dirinya begitu ingin selalu bersama Vano dan semenjak ia hamil tingkah manjanya kini semakin jelas bila sedang bersama Vano. Tidak ada yang ia inginkan selain berdekatan dengan sang suami, tidak ada pula yang dapat mengganti rasa bahagia itu selain belaian mesra sang suami.


"Ziva Nak kamu habiskan dulu rujaknya" kata Sinta sangat lembut pada sang menantunya itu, apa lagi ia akan memiliki cucu lengkap sudah kebahagian Sinta saat ini.


"Iya Ma," Ziva ternyum dan terharu pada mertuanya tapi sudah seperti ibu kandungnya sendiri, yang selalu memperhatikannya. Juga selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam setiap halnya. "Mas makan rujak yuk" kata Ziva sambil menarik lengan sang suami.


"Iya tapi suapin" kata Vano tutur Vano dengan mesra pada sang istri.


Bilmar memutar bola matanya ia jenuh melihat pasangan yang ada di depan matanya. Yang menurutnya sangat lebay itu ia duduk di samping Anggia sambil sesekali tersenyum pada gadis itu namun senyumannya tidak pernah terbalas oleh Dokter kanduan Ziva itu. Ia hanya fokus pada rujak miliknya.


"Sayang si kembar ke mana?" tanya Vano sambil sesekali ia membuka mulut untuk menerima rujak yang di suami Ziva.


"Di bawa Mami mas. Kata Mami mereka di ajak ke rumah orang tua Mami" jawab Ziva.


"O. Sayang bikinin Mas kopi dong. Sama ..." Vano menghentikan ucapannya karena ia menyadari ada Sinta juga di sana.


"Sama?" tanya Ziva bingung.


Vano berbisik di teling Ziva dengan suara yang sangat kecil. Ziva tersenyum dan merasa lucu dengan apa yang di bisik kan Vano pada nya dan mata nya menatap Vano di samping nya sambil tersenyum. Dan menaik turunkan kedua alis matanya.


"Kalian kenapa?" tanya Bilmar bingung dengan tingkah Ziva dan Vano.


"Mama ke dalam dulu" kata Sinta ia pergi dan berlalu membawa rujak untuk Hardy dan meninggalkan empat anak muda di gazebo itu.


"Iya Ma" jawab Ziva.


"Sayang ke kamar yuk" kata Vano.


"Masih siang udah main kamar aja" ketus Bilmar.

__ADS_1


"Makanya nikah dasar playboy sirik" jengkel Vano.


"Yuk Yang" Vano menarik lembut tangan Ziva.


"Iya" Ziva meletakan piring nya dan pergi meninggalkan Anggia dan Bilmar yang hanya duduk berdua di gazebo itu.


"Sayang bikinin kopi dong" kata Vano.


"Ya udah Ziva ke dapur dulu mas duluan ke kamar nanti Ziva nyusul bawa kopi" kata Ziva sambil melepas tangannya yang di pegang Vano.


"Nggak Yang Mas temani yuk" kata Vano.


"Okey" jawab Ziva dengan tersenyum.


Ziva dan Vano mulai memasuki dapur. Ziva mulai mengambil cangkir dan memasak air. Ia mulai mengisi gelas dengan gula dan kopi. Dengan Vano yang melingkarkan tangannya dari belakang pada perut Ziva. Dan juga menenggelamkan wajah nya di tengkuk Ziva.


"Mas geli" kata Ziva karena Vano terus menghirup dan menciumi tengkuk nya.


"Udah jadi" kata Ziva.


"Sini Mas bawa" kata Vano. Ia mengambi alih kopi panas buatan Ziva dan keduanya keluar dari dapur mulai menaiki tangga menuju kamar. Kamar yang dulu di tempati Keyla. Saat Ziva sudah masuk ke kamar itu ia mulai mengedarkan pandangannya melihat isi kamar itu.


"Mas kita ke kamar yang semalam Ziva dan Mama saja ya" kata Ziva yang merasa malas bila tidur di kamar itu.


"Sayang. Ini kamar Mas dari dulu, dari Mas kecil dan kita di sini saja" kata Vano tangannya mulai meletakan cangkir yang ia bawa di atas nakas.


"Tapi Mas" kata Ziva yang masih ragu untuk istirahat di kamar itu.


"Udah" Vano menutup pintu kamar dan menguncinya, di kamar itu tidak ada lagi barang Keyla semua sudah di kirim Arman ke apartement yang di tempati Keyla dan semua perabotan yang ada di kamar itu juga sudah di ganti yang baru.


"Sayang bukain jas Mas" kata Vano sambil mendekatkan dirinya pada Ziva.


"Oh bayi besar ku sayang" kata Ziva. Ia langsung mengerjakan apa yang di perintakan Vano.

__ADS_1


"Sayang kemeja nya juga" kata Vano lagi.


"Ya Mas sebentar satu-satu ya" kata Ziva dengan senyumnya.


"Makasih sayang nya Mas," Vano sangat bahagia merasakan perhatian sang istri yang sangat ia inginkan, "Yang sekalian dong pegel," Vano duduk di disi ranjang dan menepuknpundaknya.


Ziva tersenyum dan ia mengerti jika suaminya ingin di pijat, tentu saja Ziva dengan senang hati memijat pundak sang suami dengan perasaan yang bahagia. Sebab ia ingin belajar menjadi istri soleha.


"Mas sayang nggak sih sama Ziva?" tanya Ziva di sela-sela ia memijat pundak Vano.


"Sayang dong, mana mungkin enggak sayang orang kamu kan istri solehanya Mas," jawab Vano tersenyum.


"Mas lucu deh," Ziva berdiri dan melihat penampilan sang suami yang hanya menggunakan boxer tapi masih memakai sepatu lengkap dengan kaos kaki.


"Iya yang," Vano juga merasa aneh dengan prnampilannya.


"Ahahaahha," Ziva memeluk perutnya dan tertawa terbahak-bahak tanpa bisa di tahan lagi.


"Ketawa ya," Vano berdiri dan mengklitiki sang istri yang sangat lucu dan menggemaskan itu.


"Ampun Mas, ampun," Ziva menyerah dan tidak samggup lagi dengan kelitikan Vano.


"Makanya jangan nakal sama suami," seloroh Vano.


"Ahahahaah....iya-iya nggak lagi deh," Ziva masih tertawa namun ia tahan karena Vano menatapnya dengan tajam.


"Yang bobo siang yuk," Vano menarik Ziva untuk ikut berbaring dengannya.


"Ayo, bobo yang," seloroh Ziva.


Dan dalam sekejap permainan siang itu di mulai dengan sangat membahagiakan, Ziva sangat menyukai setiap sentuhan yang di berikan Vano seakan membuatnya mendamba, dan memabukan semua bagian dirinya. Panasnya siang hari tak menjadi penghalang di antara keduanya untuk bersama. Hingga sampai akhirnya selesai dan Ziva tertidur lelap membawa rasa lelahnya..


Vano tersenyum melihat istrinya saat ini. Ia tidak bisa menunjukan rasa bahagianya. Ternyata keputusan yang ia ambil sangat berpengaruh besar pada rumah tangganya. Bahkan ia baru tau ternyata Ziva bisa sebuas ini saat di ranjang, Vano terus tersenyum dan mulai terlelap dengan bahagia dan terbawa mimpi yang indah.

__ADS_1


__ADS_2