Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 129


__ADS_3

"Seli."


Pagi ini Ziva datang ke apartement Seli di antar oleh sang suami, Ziva ingin makan masakan Seli dan ia juga ingin jalan-jalan. Jadi Ziva memutuskan untuk ke apartemen Seli saja setelah meminta ijin dari Vano.


"Ziva?" Seli yang baru bangun tidur merasa shock dengan kehadiran sang sahabat, yang tiba-tiba.


"Ya ampun Seli ini udah jam berapa, pantesan dari tadi aku telpon-telpon nggak di jawab, ternyata kamu masih tidur," Ziva sangat terkejut saat ia masuk ke apartemen Seli tapi ternyata sang sahabat masih tidur nyenyak, dan yang membuat Ziva semakin terkejut Seli hanya terbalut selimut tanpa sehelai benang pun di bawah selimut sana.


"Ziva lu apa sih? Gw masih ngantuk banget!" dengan terpaksa Seli mendudukan tubuhnya, sambil memeluk selimut, sambil melihat Ziva ya duduk di sisi ranjang.


"Seli lu tidur jam brapa?" Ziva melihat mata Seli seperti mata panda ia yakin sahabatnya itu semalam tidak tidur.


"Gw semalem nggak tidur," jawab Seli dengan malas.


"Kok bisa!"


"Lu bodoh apa bodoh!" kesal Seli, Ziva bagai tidak pernah merasakan jadi pengantin baru.


"Ahahahaha," Ziva kini malah tertawa melihat wajah kesal Seli.


"Lu kok ngetawain gw Ziva?"


"Itu biasa lah, iklas aja kan ibadah," Ziva terkekeh mendengar jawaban Ziva.


"Iya sih, tapi nggak setiap saat juga kan? Lu bayangin deh tiap Kak Arman lihat gw dia bikin gw remuk terus, nggak tau tempat tau nggak, di kantor juga boleh, ck," Seli menggaruk kepalanya, rambut Seli yang kusut semakin kusut.


"Ahahahaaaa, dari pada dia minta sama perempuan lain gimana?"


"Jangan lah," jawab Seli dengan cepat, "Gw mandi dulu ya," Seli langsung kekamar mandi dengan menggulungkan selimut di tubuhnya.


Seli selesai mandi dan kini keduanya sibuk berada di dapur memasak sesuai keinginan Ziva.


"Ziva kamu potongin kentangnya ya," pinta Seli.

__ADS_1


"Iya, okeh," jawab Ziva terkekeh, "Sel, lu nunda hamil apa nggak?" tanya Ziva saat keduanya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Nggak, Kak Arman nggak ngebolehin, jadi gue ikut aja," jawab Seli.


"Iya sih bagus juga gitu," Ziva juga mendukung Seli yang mengikuti kemaunan suami.


"Iya lagian kamu tau nggak Zi? Kak Arman deket banget sama ada temennya namanya Yuli, pengen aku cincang-cincang tau nggak," Seli meluapkan kekesalannya pada wortel yang tengah ia potong.


"Yuli, Sel?" Ziva masih bingung.


"Iya, kesel kan gw, lu tau nggak?"


"Nggak!" jawab Ziva masih bingung.


"Makanya dengerin gw bumil," kesal Seli.


"Hehehe, iya lu makanya cerita jangan sepotong-sepotong gitu gw penasaran," Ziva juga kesal.


"Kak Arman abis nikahin gw, bukannya selalu sama gw tapi malah ngurusin si Yuli itu, pernah kita lagi makan malam si Yuli nelpon Kak Arman, gw di tinggal tanpa pamit dan lu tau yang bikin hati gw sakit, Kak Arman dua maleman nggak pulang apa maksudnya coba?" Seli menceritakan apa yang pernah ia alami pada Ziva.


"Iya Sel, akhirnya gw ajak Kak Arman ributkan, gw pergi nggak jelas kemana mau kerumah Bunda malu baru dua hari nikah udah ribut, dan di jalan gw berhenti sampek mata gw lihat club malam," Seli mengintat bertapa bodohnya ia saat itu.


"Terus lu masuk nggak?" Ziva semakin penasaran.


"Iya, gw masuk, gw minum udah sampek teler dan yang bikin gw trauma gw di ganggu sama cowok gitu gw juga nggak ingat wajahnya, dia bawa gw kekamar malah," jelas Seli.


"Tapi lu nggak di apa-apain kan Sel, atau lu udah..." Ziva malah melongo sesat pikiran negativ nya tiba.


"Nggak, lu nggak usah mikir macem-macem, Kak Arman tiba-tiba datang ternyata malam itu gw juga nggak inget jelas, yang gw inget paginya gw udah di kamar dan ada Kakak Arman juga."


"Gw pikir lu di jahatin Sel, syukur lah, eh tapi lu kaburnya kenapa ke club?" tanya Ziva penasaran sebab Seli tak pernah mengenal dunia malam.


"Nggak tau gw iseng aja."

__ADS_1


"Semoga kalian nggak ribut-ribut lagi ya," tutur Ziva penuh harap.


"Ya lah tapi perasaan gw bilang Yuli naksir gitu sama Kak Arman," Seli mulai mengatakan kecurigaannya.


"Ya mungkin sih," Ziva juga mengiyakan pemikiran Seli.


"Aku abis masak mau kekantor, mau anterin Kak Arman makan siang, Kak Arman harus di jagain terus. Nggak ada kesempatan buat pelakor," kata Seli mulai semangat melanjutkan memasak kembali.


"Bener tu, tapi kamu sekarang berubah jadi istri galak ya," seloroh Ziva.


"Biarin, siapa suruh dulu Kak Arman maksa gw nikah sama dia, sekarang kalau ada yang berani ganggu laki gw dan laki gw mau gw potong itu senjata keramatnya," Seli yang sedang memotong daun bawang melampiaskan kemarahannya.


"Ahahahha, rugi juga lu kalau di potong," kata Ziva tertawa terbahak-bahak.


"Iya ya, gw juga yang rugi," Seli malah dengan bodohnya berkata hal itu di depan Ziva, Ziva semakin tertawa tanpa henti.


"Ahahaha, Sel ngomong-ngomong si Arman keren nggak?" tanya Ziva menaik turunkan alis matanya.


"Ah, bahaya Ziva, bikin merem melek gw," jawab Seli.


"Ahahahahha," keduanya malah tertawa lepas membicarakan hal yang aneh namun terdengar lucu.


"Lu sekarang udah nggak sepolos dulu ya?" Ziva ingat dulu Seli tidak mau di sentuh siapapu pria, kecuali Sandi Kakak sepupu Seli yang bekerja di perusahaan Vano, tapi kini Seli sudah sangat mengerti bila berbicara perihal itu.


"Udah setiap hari gw di kasih makan pisang ambon," seloroh Seli.


"Pantesan jinak," kata Ziva semakin tertawa.


"Ahahaahaa," keduanya kembali tertawa tanpa bisa di tahan.


"Ya kan emang lu juga sama kan jangan ngetawa in gw lu, laki lu nggak ada bedanya sama laki gw pasti kan?" tebak Seli menunjuk wajah Ziva dengan pisau.


"Heh," Ziva terkekeh sambil menurunkan pisau yang di pegang Seli, "Jangan nodong gw pakek pisau pakek pisang boleh," seloroh Ziva.

__ADS_1


"Parah lu Zi, gila lu," Seli juga kini memegang perut mendengarkan Ziva, pembicaraan kedua istri itu di pagi ini tidak ada yang beres.


Ziva dan Seli kembali melanjutkan masak-memasaknya dengan penuh canda tawa, cerita ala-ala emak-emak kini menjadi bahan tersendiri bagi keduanya. Tidak ada omongan yang bermakna, yang ada semua di anggak lelucon semata. Hingga keduanya selesai memasak dan Seli harus kekantor menjadi bodyguard sang suami dari pelakor.


__ADS_2