Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 155


__ADS_3

Kini semua sudah lebih bahagia sebab keluarga mereka telah kembali berkumpul bersama, apa lagi Arman. Arman kini lebih lega karena penyebab kematian anaknya sudah mendekam di jeruji besi sana, dan untuk merayakan kebahagian berkumpulnya semua anggota keluarga. Sinta dan Hardy mengadakan pesta keluarga besar mereka di kediaman Sinta, semua ikut merayakan perta itu dengan penuh bahagia.


"Bro, gimana kalau kita bikin balap renang siapa menang dapat hadiah," Tutur Aran dengan bahagia.


"Ok, gw yes," Jawab Bilmar.


"Siapa takut, gw juga okey," Tutur Vano.


"Arman lu brani nggak, tampang sangar kelakuan kayak embak-embak salon," Ejek Bilmar.


"Iya lah, lu pada ikut gw juga ikut lah," Arman pun tak mau kalah, jangan sampai Seli mengatakannya lemah sebab Seli sanga suka cowok maco.


"Daffa juga ikut ya," Daffa datang dengan menawarkan diri, membuat keempat pria dewasa yang sepakat dengan permainan mereka saling pandang.


"Daffi juga, biar Daffi menang trus Daffi bagi-bagi di medsos biar dapet cewek karena berhasil ngalahin 5 cecunguk, wkkwkwk," Daffi sudah mamakai celana boxer dan kaca mata renang.


"Ini bocah para banget ngatain kita cecunguk bro," Kesal Arman.


"Iya gw juga kesel," Tutur Bilmar, membuat Birmar dan Arman saling pandang, sepertinya ide mereka kini sama Arman dan Bilmar mengejar Daffi.


"Ampun Kak," Teriak Daffi sambil melarikan diri, tapi apa mau di kata ia tertangkap, Arman memegang kaki dan Bilmar memegan lemgan Daffi yang mereka ayun di pinggir kolam bersiap melemparnya.


"Sau....dua....tiga..." Hitungan ketiga tubuh Daffi serasa melayang dalam sekejab tubuh Daffi sudah terlempar kedalam air.


BYUURRRR.


"Ahahahahaaaa," Semua Anggota keluarga sebab mendapat hiburan tak di sangka-sangka, Daffi berdiri di dalam kolam dengan kesal.


"Ck," Daffi berjalan dan naik kedaratan.


"Makanya jangan sok," Ratih memberi handuk pada Daffi sambil mengomel ala emak-emak seperti biasanya.


"Alah....kalian semua takut sama aku kan!" Kata Daffi masih saja kesal.


"Udah-udah ayo siapa yang mau lomba renang cepat, Mami sama Mama jadi juri," Kata Ratih yang di angguki Sinta.


"Mama setuju," Kata Sinta berdiri dari duduknya.


"Siapa aja yang ikut?" Tanya juri Ratih.


"Semua ikut Mi, kecuali dua Opa yang lemah ya sering encok itu," Kata Vano menatap Hardy dan Rianda yang sedang duduk santai dengan menyeruput kopi.

__ADS_1


"Siapa bilang Papa lemah, ayo Papa ikut," Hardy berdiri membusungkan dada tidak terima di katai Vano.


"Papi juga," Rianda ikut berdiri bergabung dengan keluarga adalah hal yang jarang terjadi jadi, hal seperti ini harus di manpaatkan dengan baik.


"Lihat, suami Mama ikut kan?" Sinta merasa bangga walau pun sudah tua tapi tetap saja masih berjiwa muda.


"Papi juga sini Mami bantu buka kemejanya?" Ratih membuka kemeja sang suami dengan bangga, hingga menimbul kan tawa dari yang lainnya.


"Wahahahaha," Tak ada yang bisa menahan tawa melihat kelakuan aneh pasangan di hadapannya.


"Yang Mas juga mau dong," Vano meminta Ziva melepas kemejanya, tapi Ziva tidak mau karena malu.


"Mas buka sendiri aja ya," Ziva cengengesan pada Vano.


"Ahahaha, sok mesra lu," Kata Bilmar menertawai Vano yang di tolak Ziva.


Ziva mendekati Vano dan berbisik, "Jangan dengeri, nanti kalau Mas menang Ziva kasih sampek Mas nyerah," Bisik Ziva membuat Vano kembali tersenyum.


"Makasih sayang ku," Tutur Vano mencubit pipi sang istri dengan gemas.


"Ah lebay, ayo semua kita mulai," Teriak Daffa yang muak melihat pasangan di hadapannya, sebab ia tidak memiliki pasangan.


"Nanti yang menang Papi kasih Apartemen, tapi kalau Papi yang menang kalian harus belin Papi tiket liburan keluar negeri sama Mami, jangan lupa uang saku juga harus ada," Kata Rianda.


Setelah perdepatan dan sedikit tawaran kini semua peserta lomba sudah bersiap-siap meloncar ke air, Sinta dan Ratih menjadi juri, Ziva tidak mungkin menjadi juri sebab ia sedang hamil tua, sedangkan Seli baru selesai oprasi masih terlalu rentan Arman tidak membolen istrinya terlalu aktif hingga akhirnya Seli hanya duduk manis di kursi berdekatan dengan Ziva.


"Siap!" Teriak memasukan peluit pada mulutnya.


PRIIIIT.


Pluit di bunyikan Ratih, artinya pertandingan sengit itu sudah di mulai.


BUUURR.


Semua peserta lomba melompat dan mulai berenang dengan tenaga exra.


"Mas semangat, demi apartemen baru!" Teriak Ziva agar di dengar Vano.


"Papi semangat!" Teriak Ratih tak mau kalah.


"Papa semangat," Sinta juga mengikuti Ziva dan Ratih yang memberi semangat pada sang suami.

__ADS_1


"Bini gw nggak ngasih semangat ya," Bilmar membatin, Anggia tidak akan mau berteriak ia sangat malu untuk hal demikian.


"Enak yang punya bini," Gumam Daffi kesal di sela berenang hingga ia dengan dengan cepat sampai dan kembali lagi.


"Yeeeee," Daffa berdiri di darat karena ia beehasil menjadi pemenang.


"Jatahnya gw," Daffi kesal pada hal hanya sedikit berselisih dengan Daffa.


Semua naik kedaratan dan mulai melilitkan handuk di pinggang.


"Papa kenapa?" Tanya Ziva khawatir melihat Hardy.


"Encok Papa kayaknya kambuh lagi," jawab Hardy memegang pinggangnya.


"Ayo kedalam Pa," Sinta memapah sang suami namun dengan cepat Ratih berbisik di telinga Sinta.


"Aku turut berduka ya Mbak," Ratih tersenyum sesaat setelah berbisik, namun tidak dengan Sinta yang malah di buat bingung.


"Berduka?" Tanya Sinta.


"Embak kayaknya harus sabar libur di goyang," bisik Ratih agar tak ada yang mendengar.


"Dasar nenek-nenek rempong," kesal Sinta kembali memapah Hardy, dari pafa mendengar Ratih yang berbucara tidak berfaedah sedikit pun.


"Pi, hadiahnya jangan lupa," Pinta Daffa yang menjadi pemenang.


"Iya sip tenang nanti Papi belilan ya," Rianda fan Ratih juga ikut masuk.


"Kok lu menangsih," kesal Daffi.


"Gw kan calon polisi bro," Daffa menepul dada di hadapan Daffi.


"Gw ogah, gw mau terusin perusahaan Papah aja," jiwa bisnis sang mendiang sang Papah tampaknya turun pada Daffi.


"Cie kalah," seloroh Bilmar pada Arman.


"Ck, lu udah kayak menang aja," Jawab Arman tak kalah kesal.


"Mas kalah yang, kamu masih cinta nggak sama Mas," Vano menarik Ziva untuk berdiri.


"Mas kan kalah renang, tapi Mas tetap jadi pemenang di hati Ziva," Ziva malah mengecup pipi Vano di hadapan yang lainnya dan itu mengundang tawa.

__ADS_1


"Uuuuu, lebay," Teriak yang lain.


"Apasih iri bilang bos," Vano mengangkat Ziva menuju kamar, kalau sudah di kecup walau sekali itu tandanya ada peluang dan ketika ada peluang harus di manpaatkan dengan baik, sebaik mungkin begitu juga dengan Vano.


__ADS_2