Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 63


__ADS_3

"Mas berangkat ya sayang"


Cup!.


Vano mengecup kening Ziva dengan lama seolah ia tidak ingin berpisah dari Ziva.


"Ya Mas hati-hati ya" kata Ziva.


"Selamat pagi nyonya muda dan tuan muda" kata Bilmar yang baru saja sampai dan hendak masuk namun ada Ziva dan Vano yang berdiri di pintu utama.


"Selamat pagi Mas Bilmar" jawab Ziva dengan ramah.


"Tidak perlu memanggilnya Mas. Si gila ini adik kamu" ketus Vano.


"Iya mbak Ziva apa yang di bilang Mas Vano benar" kata Bilmar mengejek Vano.


"Loe brani sama gua" kata Vano dengan jengkel nya.


"Enggak lah gue masuk dulu ya. Bye mbak Ziva" kata Bilmar mengejek Vano sambil berlalu dari hadapan Vano dan Ziva.


"Mas berangkat ya sayang" kata Vano.


"Ya Mas" kata Ziva dan Vano mulai menaiki mobil nya dengan Arman yang mengemudi.


"Selamat pagi" kata Bilmar yang sudah bergabung di meja makan.


"Pagi sayang. Sini duduk di samping Mama" kata Sinta sambil menarik kursi kosong di sampingnya untuk Bilmar.


"Kamu mau sarapan apa?" tanya Sinta.


"Samain sama punya Mama aja" kata Bilmar yang sudah duduk di kursi meja makan.


Bilmar mulai menyuapi nasi yang di berikan Sinta padanya. Namun matanya baru menyadari ternyata di meja makan itu ada tiga orang baru. Kalau si kembar itu ia yakin itu adalah adik nya Ziva walau pun ia tidak pernah bertemu sebelumnya namun ia sudah pernah mendengar dari Nita dulu sewaktu ia mencaritau tentang Ziva. Namun ia penasaran siapa wanita cantik yang ikut bergabung sarapan pagi ini di meja makan itu juga.


"Ehem" Ratih berdehem karena Bilmar terus menatap Anggia sementara Anggia yang sibuk dengan makanannya sama sekali tidak menyadari kalau Bilmar memperhatikannya.


"Cantik ya Bil" timpal Ratih lagi.


"Ma. Mi. Ziva langsung ke kamar ya" kata Ziva yang baru saja kembali ke meja makan.


"Ini sarapan kamu belum habis Nak" kata Sinta.


"Iya Ma. Tadinya Ziva mau ngabisin sarapan Ziva. Tapi Ziva nggak kuat sama bau parfum Bilmar Ma" kata Ziva sambil menutup hidungnya.

__ADS_1


"Tapi kasian cucu Mama Nak. Kalau kamu sarapannya cuman sedikit" kata Sinta yang mulai merasa hawatir.


"Huek huek" dengan cepat Ziva berlari ke kamar untuk memuntahkan isi perut nya karena ia tidak kuat mencium bau parfum Bilmar dan ia lebih memilih berjalan ke kamar dari pada ke dapur karena ia tidak ingin merusak selera makan yang lainnya karena mendengar nya muntah-muntah. Padahal yang lain nya mengerti dengan keadaan Ziva tidak akan ada yang akan mempermasalahkannya.


"Ma memang nya bau parfum Bilmar aneh ya. Padahal ini parfum yang biasa Bilmar pakek" kata Bilmar sambil mencium bau tubuhnya.


"Ziva lagi hamil kamu maklumi saja. Orang hamil ya sensitiv" kata Sinta menjelaskan pada Bilmar karena Bilmar belum mengetahui kehamilan Ziva.


"Hamil?" tanya Bimar.


"Iya?" jawab Sinta.


"Wah Bilmar bakalan jadi Papa" kata Bilmar dengan bahagia.


"Ya semoga saja kamu cepat dapat Mama nya juga" kata Ratih dengan jengkelnya.


"Ih Mami apa sih" kata Bilmar.


"Kapan Bil? Mami juga pengen seperti Mama Sinta yang punya mantu terus punya cucu di rumah rame" kata Ratih dengan nada yang tinggi di tambah wajah masam nya.


"Tuh ada Anggi. Kamu kenalan sama Anggi dulu mana tau jadoh" kata Sinta.


"Uhuk uhuk" Anggi yang sedang makan tersedak karena mendengar namanya di sebut.


"Minum Nak" Ratih memberi minum dan Anggia menerimanya lalu ia mendeguk air yang di berikan Ratih pada nya.


"Bilmar" kata Bilmar sambil mengulurkan tangannya pada Anggia.


"Anggi" jawab Anggi tanpa membalas uluran tanggan Bilmar ia hanya sedikit menundukan kepalanya saja.


"Kamu saudara Ziva?" tanya Bilmar.


"Tidak tuan. Saya dokter kandungan dari rumah sakit milik tuan Hardy" jawab Anggia.


"Oh Anggi sudah punya pacar?" kata Ratih yang langsung to the point.


"Mami apa sih?" kata Bilmar.


"Mi lagi makan" kata Rian suami Ratih yang tiba-tiba berbicara.


"Saya sudah menikah nyonya" jawab Anggia ia berdiri dan mengangkat piring kotornya dan pergi kedapur.


Semua yang di meja makan itu menatap tidak percaya bila Anggia sudah menikah. Ratih juga seorang Dokter karena ia tidak di ijinkan Rian bekerja jadi ia di rumah saja menghabiskan uang suami nya dan mengikuti kemana suaminya pergi. Dan ia bisa tau dari bentuk tubuh Anggia jelas wanita itu masih gadis namun ia bingung mendengar ucapan Anggia.

__ADS_1


"Apa mungkin ya?" kata Sinta.


"Aku enggak yakin" kata Ratih.


"Ma, Mi" Bilmar kebelakang dulu ya.


"Ya" jawab jawab Sinta.


"Daffa, Daffi makan yang banyak abis makan kita main ya" kata Ratih.


"Ya Mami" jawab keduanya serempak.


Sementara Bilmar yang sudah berada di dapur. Mulai mendekati Anggia dia tidak yakin Anggia sudah menikah. Anggia yang mengetahui Bilmar mengikutinya mulai berjalan keluar melalui pintu dapur seolah ia tidak mengetahui Bilmar mengikutinya.


"Hay" kata Bilmar pada Anggia saat Anggia duduk di gazebo taman belakang.


"Ya tuan" jawab Anggia dengan sopan.


"Panggil Bilmar saja" kata Bilmar dengan suara beratnya.


Anggia tidak menjawab ia hanya tersenyum canggung karena Bilmar juga ikut mendudukan dirinya di samping Anggia.


"Apa benar kamu sudah menikah?" tanya Bilmar.


"Sudah tuan" jawab Anggia menundukan kepalanya.


Bilmar diam ia menatap Anggia yang sedang menunduk sambil memainkan jemari nya seolah wanita itu sedang menutupi sesuatu dan ia bertambah penasaran dengan Anggia. Selama ini Bimar memang terkenal dengan sikap playboy nya namun itu semua karena ia belum memiliki wanita yang mampu membuat hati dan perasaannya menjadi nyaman pada satu wanita.


Dan Bilmar merasa tertantang dengan wanita yang duduk di sampingnya itu. Ia ingin tau sebenarnya seperti apa wanita itu dan sipat Anggia yang terlihat susah di dekati di tambah lagi dengan kelembutan saat wanita itu berturur kata membuat Bilmar yakin untuk menakluk kan hati Anggia.


"Sudah berapa lama?" tanya Bilmar.


"Satu tahun tuan" jawab Anggia.


"Cukup lama" kata Bilmar.


"Ya begitu lah tuan" jawab Anggia.


Bilmar tersenyum samar ia merasa ada hal yang di tutupi Anggia. Bila wanita lainnya yang sudah menikah pasti ceria memberitahu orang lain tentang pernikahannya namun tidak dengan Anggia. Ia terlihat berbeda wajah nya murung saat mengatakan ia sudah menikah.


"Anggi saya nyariin kamu dari tadi" tiba-tiba suara Ziva terdengar di dekat kedua nya yang sedang larut dalam pikiran masing-masing.


"Ya nyonya" jawab Anggia dan ia bangun dari duduk nya mendekati Ziva.

__ADS_1


"Kita ngerujak yuk" kata Ziva.


"Ya Nyonya muda" jawab Anggia.


__ADS_2