Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 91


__ADS_3

Hai semuanya😗semoga kita semua sehat selalu. Author cuman mau bilang, terimakasih banyak buat yang masih setia di sini ya😍konflik kedepannya ada. Hanya saja konflik ringan saja, dan Ziva bakalan segera punya dekbay. Yang mau cowok atau cewek ayo atuh salurkan suaranya di kolom komentar. Buat readers cowok😍buat cewek❤.


***


Happy reading!.


Saat ini Ziva dan Vano sudah berada di ruangan dokter kandungan. Di rumah sakit milik Zavano, namun sayang Ziva tampaknya tak pernah tau siapa suaminya dan sebanyak apa kekayaan suaminya itu. Ziva memang awalnya terpaksa menikah dengan Vano, namun dulu dan sekarang berbeda, Ziva sudah sangat mencintai Vano. Bahkan Ziva sudah tidak sanggup bila hidup tanpa Vano.


Begitu juga dengan Vano. Vano merasa bersyukur dengan kehadiran Ziva di dalam hidupnya. Walaupun ia kerap kali mendapat penindasan dari sang istri. Namun jujur saja, Vano merasa hari-harinya terasa indah, bagaimana tidak indah? Ziva memang terlihat kasar padanya, namun Vano selalu makan di suapi, di mandikan, di bantu berpakaian dan hal yang paling di sukai Vano adalah, di rahim Ziva kini ada seorang malaikat kecil yang begitu di damba Vano semenjak dulu.


Kini Ziva sudah duduk di ranjang. Bersiap untuk di periksa karena hari kelahirannya sudah sangat dekat, karena usia Ziva masih berusia 20tahun Vano menanyakan resiko apa saja yang bisa terjadi pada Ziva saat melahirkan secara normal. Setelah dokter menjelaskan sedetail mungkin Vano memutuskan untuk melakukan oprasi caesar. Vano tidak mau mengambil resiko sekecil apapun. Bagi Vano harta yang paling berharga tak ternilai adalah istri dan anaknya, tidak lebih bagi Vano harta yang ia miliki itu hanya bonus saja.


"Dok kelaminnya yang mana?" tanya Vano saat melihat layar monitor di mana di sana ada gambar bayi kecil yang tidak terlihat dengan jelas. Memang selama ini mereka selalu meminta dokter untuk tidak memberitahu jenis kelamin anak mereka, namun entah mengapa tiba-tiba Vano merasa ingin tahu tentang hal itu.


"Mas apa sih. Nanyaknya gitu ih" Ziva merasa malu dengan pertanyaan Vano, bagaimana tidak malu dokter yang memeriksa Ziva adalah seorang wanita dan yang membuat Ziva bingung dokter itu bahkan tidak berani menatap Vano walau hanya sebentar.


"Ya kan Mas pengen tau yang" Vano memang merasa sangat penasara laki-laki atau perempuan. Jenis kelamin anaknya dan tidak ada rasa takut untuk menanyakan itu, yang ada dokter yang memeriksa Ziva yang takut bahkan gemetar mendengar pertanyaan pemilik rumah sakit itu.


"Dokter kenapa?" tanya Ziva menyadari gelagat ketakutan sang dokter yang mungkin merasa karirnya terancam.


"Saya baik-baik saja nona muda" jawab dokter ber tag Naila itu yang mungkin usianya memasuki angka 35.


"Isss, kenapa semua perawat dan dokter, bahkan semua orang di sini sangat mengangungkan aku. Ditambah lagi semua terlihat begitu ramah" ujar Ziva yang masih merasa bingung, dulu juga Daffi di oprasi melakukan pengankatan tumor di rumah sakit itu namun kenapa semua dulunya. Tidak seremah sekarang, ada perawat yang ramah tapi ada juga beberapa perawat yang terlihat acuh padanya saat dulu.


"Udah yang nggak usah di pikiring" Vano tidak mau membuat kekasih halalnya itu terus merasa bingung.


"Dok. Jenis kelaminya di rahasiakan saja ya. Biar nanti pas udah lahir aja jadi kejutan" pinta Ziva pada sang dokter yang kini berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Ya Nonya muda. Dan semuanya baik-baik saja tidak ada yang harus di khawatirkan" ujar Dokter Naila dengan senyum ramah.


***


"Mas laper" Ziva memeluk lengan Vano. Vano yang sedang menyetir melirik istrinya yang kini bersandar di lenganya.


Cup.


Vano mencium sekilas pucuk kepala sang kekasih halal. Dan sedikit mengajak rambut permaisuri tercinta.


"Mau makan apa?" tanya Vano dengan suara tertaha dan terdengar berat.


Ziva menatap wajah Vano. Vano mulai menepikan mobil, lalu kedua tangannya menangkup wajah Ziva.


Cup!.


"Istri Mas yang cantik. Mau maka apa?" Vano menyatukan dahinya dan dahi Ziva, terlihat senyum tulus yang terukir di bibir pria yang sebentar lagi akan menyandang gelar seorang ayah itu.


Ziva tersenyum dan mengecup bibir Vano. "Mas kita makan jajanan pinggir jalan aja ya" kata Ziva menyampaikan keinginannya.


Vano tersenyum lembut, tangannya menarik gemas pipi Ziva yang terlihat cabi. Dan yang membuat Vano tergila-gila perut buncit Ziva yang sudah memasuki bulan kesembilan itu terlihat begitu sexy. Rambut Ziva yang kini sampai sebahu dan itu karena permintaan Vano, Vano sangat senang karena Ziva menuruti setiap kemauannya.


"Ya sayang" ujar Vano mulai mengelus perus kekasih halanya " Sabar ya anak ayah" kata Vano seolah ia berbicara pada bayinya.


"Ya ayah" jawab Ziva menirukan suara anak kecil.


Vano kembali menyalakan mesin mobilnya dan mencari tempat sesuai dengan keinginan Ziva. Tiba-tiba mata Ziva melebar saat melihat ada penjual rujak yang sedang mendorong gerobaknya.

__ADS_1


"Mas" Ziva menepuk lengan bagian atas Vano. Vano menoleh pada Ziva. Ziva menunjuk gerobak rujak yang sedang di dorong sang penjual. Vano meminggirkan mobilnya, ia mengerti istrinya sedang ingin makan rujak itu.


"Ayo turun sayang" Vano membuka pintu untuk Ziva, Ziva turun dengan menunjukan rentetan dua baris gigi rapinya itu.


"Mas rujaknya satu" pinta Vano pada sang penjual rujak. Vano memang tidak menyukai rujak ia hanya menemani Ziva saja.


"Mas nggak" tanya Ziva.


"Mas nanti makan kamu aja di rumah yang" bisik Vano di telinga Ziva yang membuat Ziva merasa malu.


"Mas ih mesum" balas Ziva berbisik di telinga Vano agar tidak ada yang mendengar.


Vano kembali berbisik di telinga Ziva "Persiapan yang. Buat nanti kamu abis ngelahin anak Mas. Kan Mas puasa cukup lama abis itu yang" ujar Vano.


Sambil memasukan rujak kedalam mulutnya. Ziva menggelengkan kepala, ia tidak habis pikir dengan suaminya yang otaknya, hanya di bawah selangkan itu.


"Mas habis ini kita maka pecel ya"


"Sayang ku, cinta ku. Apa aja buat kamu. Satu-satu ya abisin rujaknya dulu" Vano memang sudah terbiasa dengan kebiasaan Ziva yang selalu meminta makanan yang lain padahal makanan di hadapannya masih belum ia habiskan.


"Hehehe" Ziva terkekeh dengan mulutnya yang masih di penuhi rujak. Hingga ada sedikit buah yang menempel di sudut bibir Ziva. Vano mengambil dan memakannya, tanpa merasa jijik sedikitpun.


"Mas jorok" kata Ziva sambil melebarkan matanya melihat apa yang barusan Vano lakukan.


Vano menatap Ziva dengan menaik turunkan kedua alisnya. "Yang lebih jorok dari ini juga Mas minum yang" ucap Vano tanpa peduli orang di sekitarnya.


"Isss apasih" Ziva menyenggol lengan Vano. Karena jawaban konyol Vano yang mampu membuatnya merasa malu. Padahal orang belum tentu juga mendengar.

__ADS_1


__ADS_2