
Arman kini sudah selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk di pinggangnya. Bisa di bayangkan bertapa gagahnya Arman saat ini kan, rambut gondrongnya tak di ikat di tambah lagi ada air yang menetes dari rambut mengalir turun pada perut kotak-kotaknya. Arman sangat bangga menunjukan pada Seli lengan keras dan berototnya, Seli menutup mata dan tak bisa melihat bertapa wawnya sang suami tercintanya itu.
"Kakak keren ya," Arman berjalan mendekati sang istri dengan perasaan bangga.
"Wahahahah," tawa yang sedari tadi di tahan Seli kini pecah karena penampilan Arman yang sudah cool namun handuk yang di gunakan Arman handuk hello kity berwarna ungu milik Seli.
"Kok ketawa yang?" Arman malah di buat bingung.
"Handuk Seli, hello kity Seli, itu," Seli masih tertawa lepas karena wajah hello kity tepat berada di sesuatu yang mengeras di dalam sana, "Kasihan hello kity nya ternodai," tutur Seli di selingi tawa tanpa henti.
Arman menunduk dan menyilangkan kedua tangannya tepat di wajah hello kity yang di tunjuk Seli, Arman tadinya berpikir Seli akan langsung memeluknya setelah melihat bertapa cool dirinya tapi Arman ternyata salah mengambil handuk, yang seharusnya handuk miliknya berwarna putih polos tapi malah mengambil handuk sang istri tercintanya. Alhasil semua gagal, Seli bukan kagum tapi menjadikannya bahan tertawaan.
"Yang udah dong ketawanya," Arman berubah murung dan Seli menyadari itu hingga dengan terpaksa ia menahan tawa, agar sang suami tidak semakin murung.
"Ya udah...." Seli mendekati Arman, "Seli tetap sayang sama Kakak, mau gimana pun keadaan Kakak," kata Seli tersenyum pada suaminya, bahkan tangan Seli memainkan dada Arman yang seakan memberi lampu hijau pada sang suami.
"Yuk," Arman langsung mengangkat Seli tanpa aba-aba.
Tak ada lagi cerita atau pun kata untuk mengawali semuanya, yang ada hanya bahasa tubuh yang mengatakan bertapa keduanya sudah sangat rindu akan hal itu. Hal yang sudah sering mereka lakukan namun setelah terhenti beberapa lama seolah semua seperti mengulang lagi saat-saat dulu pertama kalinya.
"Sssstttt," Seli merintih tak kata tangan suaminya mulai menyusup kedalam dress miliknya, tubuh mungil itu seakan mengisyaratkan bahwa ia pun sangat merindu sentuhan hangat sang suami tercintanya.
Setelah puas dengan itu semua Arman ingin segera memasukan lolipop miliknya, namun terganggu karena ponsel Arman terus saja berbunyi sedari tadi. Awalnya Arman tak perduli tapi panggilan itu terus masuk tanpa henti.
"Kak jawab dulu mana tau penting," Seli yang tanpa sehelai benang pun di bawah Arman juga merasa kesal, tapi mau bagaimana lagi takut ada hal yang serius.
"Tapi Kakak udah di ujung banget yang," Arman masih belum bisa beralih, namun lagi-lagi ponselnya berdering dan ternyata Vano yang menghubunginya.
"Jawab dulu Kak, soalnya dari tadi nggak berhenti berdering terus," ucap Seli yang di angguki Arman, dengan cepat Arman menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Apa!" ketus Arman setelah panggilannya tersambung.
"Heh, ketus banget," Vano yang di seberang sana sangat kesal mendengar jawaban Arman padanya.
"Apa cepat, sebelum gw matiin," Arman sangat kesal karena seharusnya ia sedang merasa di atas awan saat ini tapi terganggu karena Vano.
"Lu di mana, ini lu ada meeiting dari tadi orang-orang nunggu lu, lu ada janjikan hari ini sama rekan busnis kita yang datang dari luar negeri?" kata Vano memberitahu Arman dari seberang sana.
Arman mengingat hari ini ia ada rapat yang sangat penting yang seharusnya di mulai pukul sepuluh pagi tadi, tapi ini sudah pukul satu siang.
"Ya ampun...." Arman sangat shock mengingat hari ini jadwalnya sangat padat ternyata.
"Lu lagi apa sih," Vano di sebrang sana menyadari tingkah Arman yang aneh namun ia pun bingung apa yang membuat Arman demikian.
"Gw lagi sama bini, tuan Vano yang terhormat baik hati, lu bantuin gw hari ini ya, lu gantiin gw ya. Gw hari ini mau honeymoon hari ini doang," Arman sangat berharap Vano mau membantunya.
"Bini gw, udah nggak lama lagi brojol. Jadi gw lagi sibuk juga ni," tutur Vano tersenyum dari debrang sana, ia tau pasti Arman ingin buka puasa.
"Gw juga lagi mau meeiting, buruan ke kantor lu kalau gini caranya Daffa dan Daffi juga nanti pinter buat curang karena lu ngqsih contoh nggak bener," Vano membuat Arman kesal menggunakan adik kembarnya itu, padahal ia pun kini sedang mengerjakan pekerjaannya yang terlantar karena sibuk bermesraan dengang sang istri.
"Ck," Arman mematikan sambungan teleponnya sepihak, "Apes banget sih," Arman menjambak rambutnya, sedetik kemudian ponselnya kembali berdering, tertulis nama Sandi di sana Arman tau Sandi pasti ingin ia segera kekantor.
"Apa...mau saya cekik," kesal Arman jaat ia menjawab panggilan itu, Sandi yang ada di seberang sana menjauhkan ponselnya dari telinga. Terkejut dengan Arman yang tiba-tiba memarahinya.
"Bos," belum selesai lagi Sandi memberi info, Arman sudah kembali memotong ucapannya.
"Iya saya ke kantor!" lagi-lagi Arman mematikan sambungan telponnya sepihak karena kesal dengan Sandi.
"Kak," Seli malah merinding melihat suaminya.
__ADS_1
"Kakak harus ke kantor," Arman memukul udara di hadapannya dengan cepat ia memakai setelan jas kerjanya, dalam hati Arman menangis karena hasrat yang masih bergelora.
"Kakak mau pergi?" tanya Seli yang masih berbaring di ranjang, menatap Arman yang menggunakan dasi asal-asalan.
"Ya sayang, kamu nggak usah ikut ya istirahat aja siapin diri buat Kakak, kalau perlu panggil orang salon kemari ya," tutur Arma sambil mengecup kening Seli.
"He'um, bye Kakak," Seli melambaikan tangan pada Arman.
"Bye cinta," Arman tersenyum dari kejauhan.
Arman kini menaiki mobilnya, ia mengemudi dengan kecepatan tinggi karena masih terlalu kesal pada apa yang terjadi hari ini.
"Mana masih keras begini," Arman hanya bisa memukul kemudi dengan kesal hingga kini ia sudah sampai di kantor.
"Boss," Tomi yang melihat Arman baru datang dan berjalan buru-buru ingin tau ada apa dengan bosnya.
"Apa!" jawab Arman masih dengan raut kekesalan.
Tomi bingung apa salahnya sampai Arman malah begitu padanya.
"Meeiting di tunda kan bos?" tutur Tomi.
"Tunda?" tanya Arman.
"Iya, itu Sandi bos," Tomi menunjuk Sandi yang akan melewati mereka, namun Sandi berhenti melangkah karena ada Arman di sana.
"Apa meeiting di cancel?" tanya Arman dengan mengepalkan tangannya.
"Iya bos," jawab Sandi mengangguk dengan rasa takut.
__ADS_1
"Kenapa tak bilang saat tadi di telpon!" Arman memukul dinding dengan perasaan kesal.
"Tadi saya telpon tapi bos keburu matiin," kata Sandi sambil kakinya yang melangka mundur perlahan kabur dari hadapan Arman.