Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 78


__ADS_3

"Sayang Mas sudah memakan empat buah jambu ini. Dan Mas sudah tidak sanggup" kata Vano.


"Kenapa Mas makan jambu nya sampai empat?" tanya Ziva.


"Karena kamu yang suruh sayang" jawab Vano dengan wajah sedihnya.


"Iya Mas. Tapi Ziva nggak nyuruh Mas makan nya banyak. Ziva nyuruh Mas makan dua gigitan saja sudah cukup. Lalu kenapa Mas makan sampai makan empat buah" jawab Ziva dengan santai.


Vano kaget mendengar ucapan Ziva. Ia membulatkan matanya. Padahal ia sengaja terus memakan jambu itu sampai Ziva menyuruhnya berhenti. Ia tidak bertanya karena ia takut Ziva sedih atau pun marah, namun ternyata yang terjadi malah sebaliknya.


"Kenapa kamu tidak bilang sayang?" tanya Vano yang mulai bingung dengan keadaan yang ia hadapi saat ini.


"Kan Mas nggak nanyak. Lagian Ziva pikir Mas yang doyan jambu" jawab Ziva lagi.


"Tuhan aku lebih memilih engkau berikan aku lawan di arena tinju dari pada harus berhadapan dengan istri tercinta ku ini. Dan kalau aku di harus kan memilih antara berhadapan dengan istri atau di pukuli satu warga di suatu Desa. Maka aku lebih memilih di pukuli penduduk di Desa saja"


"Sayang Mas mandi dulu ya" kata Vano.


"Ya Mas" jawab Ziva dengan senyum manis nya.


"Mandi sana Kamu bau sekali" kata Sinta yang masih berada di kamar itu dengan setia ia duduk di samping Ziva.


Vano menuntukan kepalanya dengan tanyannya memijat mijat dahinya yang terasa sangat sakit. Sambil ia berjalan ke kamar mandi. Vano yang sudah melepas pakaiannya mulai menguyur tubuh nya dengan air. Ia mandi dengan air dingin karena ia merasa air dingin bisa membuat tubuhnya lebih segar.


Hari ini Vano bukan hanya lelah badan tapi ia juga lelah perasaan karena sipat Ziva yang berubah ubah dan sangat sulit di tebak. Vano benar benar bingung dengan keadaan istrinya yang sekarang. Di satu sisi ia ingin Ziva kembali mandiri seperti dulu namun di sisi yang lain ia juga ingin Ziva bergantung pada nya.


Namun di saat ia masih di bawah guyuran air shower itu ada senyuman di bibirnya. Ia merasa hidupnya jauh lebih berwarna saat ini. Kehadiran Ziva dalam hidupnya mengubahnya menjadi manusia lebih baik dan bersama Ziva ia merasa di hargai dan juga di hormati oleh Ziva. Perhatian Ziva juga tidak pernah luntur pada nya dan itu membuat Vano bahagia, juga membuatnya lupa dengan apa yang tadi ia alami.


Sementara Sinta yang sedang duduk bersama Ziva mulai berbicara serius. Ia ingin membawa Ziva tinggal bersama nya dan itu bisa membuatnya lebih bebas menjaga Ziva. Karena kapan saja Sinta ingin melihat keadaan Ziva ia bisa langsung menemui Ziva.


"Ziva"


"Ya Ma?"


"Kamu mulai sekarang tinggal sama Mama dan Papa ya?" tanya Sinta.

__ADS_1


"Tinggal sama Mama?"


"Iya dan Mama mau kamu jauh jauh dulu dari Vano" kata Sinta dengan wajah seriusnya.


"Kenapa Ma?" tanya Ziva.


"Mama mau kasih dia pelajaran. Dan membuat dia benar benar jera. Biar jangan kebiasaan berbuat seenaknya" kata Sinta ia kesal bila mengingat perdebatanya dengan Vano beberapa jam lalu di tambah lagi dengan apa yang Vano lakukan pada Ziva.


"Maaf Ma. Ziva nggak bisa"


"Kenapa?" tanya Sinta bingung mendengar jawaban Ziva.


"Ziva punya dua adik yang harus Ziva rawat Ma. Kalau Ziva tinggal di rumah Mama bagaimana dengan mereka?" tanya Ziva mengatakan kecemasannya.


"Oh. Tapi mereka juga boleh di bawa. Dan nanti setiap pagi mereka bisa di antar supir" jawab Sinta yang masih memiliki akal untuk Ziva mau ikut dengannya.


"Maaf Ma. Tapi Ziva kasian sama mereka berdua. Biar kami di sini saja. Dan Ziva yang pengen Mama tinggal di sini sama Ziva" jawab Ziva dengan wajah memohon pada Sinta.


"Baiklah kalau begitu Mama menginap di sini. Dan Mama tidur dengan kamu di kamar ini" kata Sinta dengan senyum bahagia.


Ziva dan Sinta saling tersenyum dan keduanya mulai berpelukan. Sinta sangat bahagia karena Ziva sudah seperti anak kandungnya sendiri dan yang lebih membahagiakan lagi. Ia akan memiliki cucu. Sinta sudah tidak sabar lagi melihat wajah cucunya apa lagi membayangkan ia akan di panggil Oma. Itu sangat membuatnya bertambah tidak sabar.


"Nak kamu harus makan ya" kata Sinta karena Ziva belum makan.


"Iya Ma. Mama Ziva pengen makan nya sama sup Ma. Nasi dan kuah yang bayak. Sama minum nya jus jeruk" kata Ziva mengatakan keinginannya.


"Iya. Apa kau mau makan buatan Mama khusu?" tanya Sinta.


"Siapa saja boleh Ma. Yang penting sesuai keinginannya Ziva"


"Baik lah Mama kedapur dulu. Dan ingat nanti kalau Vano keluar dari kamar mandi kamu jangan terlalu banyak bicara padanya" kata Sinta.


"Kenapa Ma?" tanya Ziva.


"Mama ingin memberinya epek jera karena perbutannya yang semena mena" kata Sinta dengan emosi seolah lawannya ada di hadapannya.

__ADS_1


"Efek jera Ma?" Ziva ingin tertawa mendengar penuturan Sinta. Karena Sinta bukan sedang menghukum Vano karena tidak mengabulkan keinginan nya. Namun lebih pada seolah perbuatan Vano sudah sanggat melanggar hukm.


"Ya kalau anak itu tidak di hukum dia akan terus begitu. Kamu paham?"


"I-iya Ma" jawab Ziva dengan ragu namun ia juga merasa ngeri dengan wajah mertuanya yang terlihat mengerikan.


"Okey. Mama keluar dan kamu duduk manis tunggu di sini" kata Sinta yang terus memperingatkan Ziva.


Sinta mulai melangkah keluar dan ia mulai menutup pintu, tapi masih setengah pintu itu tertutup, Sinta kembali membukannya dan ia kembali memperingatkan Ziva.


"Ziva"


"Ya Ma?"


"Ingat kalau dia minta jatah nanti sewaktu keluar dari kamar mandi jangan kamu kasih" kata Sinta dengan tegas dan tidak ingin di bantah.


"I-iya Ma" jawab Ziva.


Sinta menutup pintu dan ia pergi berjalan menuju dapur. Sementara Ziva merasa sangat malu dengan apa yang barusan di ucapkan Sinta. Ziva mengusap wajah nya dengan kasar. Ia bingung mengapa mertuanya bisa dengan mudah nya berbicara seperti itu pada menantu nya.


Clek!.


Pintu kamar mandi terbuka. Vano keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggannya. Tubuh kekar Vano begitu terpampang nyata di tambah roti sobek yang begitu keras dan terasa menggoda. Ziva dengan susah payah menormalkan dirinya. Karena pesona Vano sungguh sangat membiusnya.


Vano mulai berjalan mendekati Ziva. Masih dengan keadaan yang hanya memgunakan handuk saja. Air yang jatuh dari rambutnya dan menetes di tubuhnya. Seolah memancing gelora panas pada tubuh Ziva.


"Sayang" kata Vano yang sudah duduk di sisi ranjang. Dan Ziva juga sudah duduk bersandar di ranjang.


"Iya Mas" jawab Ziva.


Vano tersenyum. Ia melihat tidak ada Sinta di kamar itu. Vano merapikan rambut Ziva yang berantakan.


Clek!.


Pintu terbuka dan yang membuka Sinta. Dengan cepat Sinta mendekati keduanya.

__ADS_1


"Vano sana jauh jauh" kata Sinta mengusir Vano. Padahal Vano tau kalau tadi ia melakukan serangan Ziva juga menerima.


__ADS_2