Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 46


__ADS_3

"Tapi Ziva minum Pil kb Ma. Jadi apa mungkin Ziva hamil" tanya Ziva.


"Sayang Pil kb itu minum nya harus tepat waktu dan tidak boleh berhenti walau satu kali saja. Coba kamu ingat-ingat apa pernah kamu sebelum tidur tidak minum Pil itu?" tanya Sinta.


Ziva diam ia mulai mengingat memang beberapa malam ia langsung tertidur karena kelelahan dan dia lupa minum pil itu.


"Memang nya benar anak yang kamu kandung itu anak Vano?" tanya Keyla.


"Keyla sekali lagi kau mengatakan itu aku tidak akan pernah memaaf kan mu!!" kata Vano.


"Vano kau harus nya sadar. Dia ini wanita bayaran dan mungkin saja itu anak Bilmar. Kau kan tau dia sangat dekat dengan Bilmar" kata Keylan.


Vano bangun dari ranjang. Dan ia mulai mendekati Keyla. Amarah nya sudah tidak dapat lagi ia tahan. Bagai mana tidak marah Keyla mengatakan anak itu bukan anak nya.


Plak!.


Vano menampar wajah Keyla yang mulus itu.


"Auw" ringis Keyla.


"Berani sekali kau mengatakan itu bukan anak ku" kata Vano sambil berteriak di wajah Keyla.


"Sudah" Sinta bejalan dan berdiri di tengah-tengah kedua nya. Karena ia takut Vano menyakiti Keyla karena ia tau seperti apa bila anak nya itu marah. Dan Sinta tidak ingin menyakiti siapa pun.


"Jangan bertengkar Mama pusing" kata Sinta.


"Mama apa Mama percaya anak yang di kandung Ziva adalah anak Vano?" tanya Keyla.


"Keyla kau sudah keterlaluan. Mama tidak suka dengan sikap mu yang seperti ini" kata Sinta.


"Mama juga ikut tertipu dengan wanita murahan ini" kata Keyla tersenyum sinis pada Ziva.


"Keyla tutup mulut mu. Aku yakin itu anak ku!" kata Vano.


Ziva bangun dari duduk nya dan ia berjalan mendekati Keyla. Bagai mana pun Keyla sudah menghina anak yang masih di kandungan nya dan ia tidak rela sedikit pun ada orang yang berani menghina anak nya.

__ADS_1


"Keyla. Aku memang pernah menjadi wanita bayaran. Tapi suami mu yang membeli ku. Dan kalau kau meragukan anak di kandungan ku ini. Maaf aku tidak butuh kepercayaan dari mu. Aku hanya tau suami ku Vano yakin ini anak nya itu saja. Dan kau sama sekali tidak berarti bagiku mau kau percaya atau tidak. Itu sama sekali tidak ada urusan dengan mu" kata Ziva yang berdiri sejajar dengan Keyla.


Setelah mengatakan itu Ziva keluar dari kamar itu. Dia tidak perduli Vano mengejar nya atau tidak. Yang jelas ia ingin pulang karena ia merasa lelah dan ia butuh istirahat. Dan di rumah masih ada adik nya yang menunggu dari pada ia pusing memikir kan masalah nya itu hanya akan memperburuk keadaan diri nya. Ia lebih memikirkan diri nya sebab bila terjadi sesuatu pada nya bagai mana dengan nasip kedua adik kembar nya.


"Ziva" Sinta mengejar Ziva yang sudah berada di pintu utama.


"Ya Ma" Ziva menghentikan langkah nya. Karena ia mendengar Sinta memanggil nya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Sinta.


"Ziva mau pulang Ma" kata Ziva.


"Kenapa pulang. Kamu juga istri Vano. Itu berarti kamu juga menatu Mama dan kamu berhak tinggal di sini" kata Sinta. Sinta memegang tangan Ziva.


"Maaf Ma. Tapi Ziva harus pulang. Karena Ziva masih punya dua adik di rumah Ma. Dan mereka masih kecil dan Ziva tidak bisa meninggal kan mereka" kata Ziva.


"Ya sudah. Tapi kamu jaga cucu Mama baik-baik ya Nak. Dan kamu kapan saja boleh pulang kemari. Kamu menantu di rumah ini jadi jangan pernah segan kemari" kata Sinta.


"Ma Vano juga pulang sama Ziva" kata Vano uang sudah berdiri di samping Ziva.


"Iya Ma" jawab Vano.


Kedua nya melangkah keluar namun tiba-tiba Keyla berlari dan mengejar Vano.


"Vano. Kau mau ke mana?" tanya Keyla.


Huufp.


Ziva menari napas nya karena Keyla menghentikan langkah mereka.


"Mas aku mau kau di sini dan selesai kan masalah mu. Aku pusing dan aku tidak mau ikut dalam masalah ini. Kalau kau memang ingin dengan ku. Selesai kan masalah mu dengan Keyla. Tapi kalau kau mau dengan Keyla aku tunggu surat cerai mu Mas" kata Ziva.


"Ma Ziva pulang" kata Ziva berpamitan pada Sinta.


"Arman kamu antar Ziva" Sinta memerintah kan Arman.

__ADS_1


"Tapi Ma biar Vano saja yang mengantar Ziva" kata Vano.


"Mas selesaikan masalah ini. Aku tidak mau mati karena memikirkan masalah yang rumit ini. Jadi tolong hargai keinginan ku ini" kata Ziva.


"Tapi sayang. Mas saja yang mengantar kamu" kata Vano.


"Sudah Mas aku lelah tolong biarkan aku pulang dan beristirahat tubuh ku sangat lelah. Aku tunggu keputusan mu. Apa pun nanti nya aku terima" kata Ziva.


Ziva menutup pintu mobil. Dan Arman mulai menyalakan mesin mobil. Dan kedua nya menghilang jauh. Ziva diam saja di dalam mobil pikiran nya hanya bagai mana nasip anak nya. Usianya baru akan memasuki dua puluh tahun dan kini ia sudah mengandung lalu ia masih memiliki tanggujawab dengan kedua adik nya.


Ziva tersenyum dan memegang perut nya. Ia sadar bagaimana pun anak yang di kandung nya adalah anugrah dan tidak bisa di tolok. Ziva yakin setelah ini akan ada kebahagian untuk nya. Air mata nya mulai menetes karena rasa haru yang ia rasakan.


Setelah beberapa menit perjalanan kini Ziva sampai di rumah. Ia langsung turun dan berjalan masuk. Sedangkan Arman kembali setelah Ziva turun. Ziva berjalan sambil memegang dinding tubuh nya terasa begitu lemas apa lagi dari siang tadi ia belum makan sedikit pun.


"Neng" kata Mbok Yem.


"Mbok saya lapar sekali tolong siapakan makanan" kata Ziva.


"Baik Neng" pembantu itu membatu Ziva berjalan dan duduk di kursi meja makan setelah itu mbok Yem baru mulai memanas kan makanan dan menata nya di meja makan.


"Ayo Neng mau makan apa biar mbok yang ambilkan" kata mbok Yem.


"Entah mbok aku dari kemarin tidak selera makan. Tapi perut ku lapar sekali" kata Ziva.


"Apa Neng hamil?" tanya mbok Yen.


"Seperti nya begitu mbok" jawab Ziva.


"Makan sedikit saja ya Neng. Kasihan yang di dalam" kata mbok Yem.


"Ya" Ziva mulai makan dengan rasa mual yang ia rasakan.


Setelah beberapa sendokkan Ziva memakan makanan itu ia kembali memuntah kan nya. Tubuh nya yang lemas semakin bertambah lemas.


"Neng mbok telpon tuan sebentar" kata mbok Yem.

__ADS_1


__ADS_2