Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 132


__ADS_3

"Sayang ku, udah jangan marah-marah," Arman menarik Seli untuk duduk di sofa.


"Kakak seneng kan Yuli dateng kesini," Seli masih saja kesal dengan kedatangan Yuli yang membuatnya benar-benar tebakar emosi.


"Sayang ku cinta ku, Kakak cinta kamu jangan marah-marah terus, nanti cepat tua," Arman mengangkat tubuh Seli duduk di pangkuannya.


"Maksud Kakak Seli sekarang marah-marah terus udah tua," Seli semakin kesal dan turun dari pangkuan Arman.


Mentor nggak pernah salah.


"Sayang sini deh, kamu tadi kesini bawa makanan nggak?" tanya Arman yang ingin mengalihkan pembicaraan.


"Ada, di luar," ketus Seli.


"Kamu ambil Kakak udah laper banget," kata Arman.


"Tunggu," Seli keluar dan mengambil di mana tadi ia meletakan bekal yang ia bawa untuk Arman, "Ini dia" Seli meletakan bekal di atas meja.


"Makasih sayang," Arman tersenyum bahagia, Seli yang dulu ia kejar mati-matian dan selalu mengajaknya berkelahi kini menjelma menjadi istri yang sangat memperhatikannya.


"Seli suapin sini," Seli mulai menyuapi Arman makan sampai tandas.


"Makanannya enak banget deh, tapi masih haus yang," kata Arman.


"Minum," Seli memberikan botol minuman pada Arman tapi Arman menolak, "Katanya haus?" Seli bingung.


"Ya tapi yang ini yang," tangan jail Arman menyentuh dua gunung kembar.


PLAK.


Seli memukul tangan Arman yang tak pernah bisa di kondisikan.


"Au, sakit yang," Arman berpura-pura kesakitan hanya karena tangan munggil Seli menepuk tangannya.


"Makannya jangan aneh-aneh Kak, otak Kakak parah banget deh itu mulu," kesal Seli.


"Ya kan sama istri yang dari pada sama orang," kata Arman berharap Seli menurut padanya.


"Oh, jadi Kakak ada niat sama orang, atau Kakak pernah begituan sama Yuli," Seli kembali kesal.


"Sayang kita jadi beli tasnya nggak?" tanya Arman tersenyum pada sang istri yang masih marah-marah.

__ADS_1


"Hehehe," Seli tersenyum, "Jadi dong, kapan Kak?" tanya Seli dengan semangat.


"Kiss dulu kalau jadi," Arman yang merasa Seli sudah bisa di ajak kerja sama mulai memberanikan diri menarik Seli dan mengangkat Seli agar duduk di pangkuannya kembali.


"Kakak apa semua yang Seli minta dari Kakak harus ada bayarannya," tanya Seli dengan kesal.


"Obat capek yang, biar Kakak semangat buat cari uang kan sekarang ada kamu yang ngabisin uang," seloroh Arman.


"Kakak nggak iklas ya?"


"Iklas cuman ya...biar semangat gitu, Kakak cari uangnya," kata Arman menunjuk bibirnya.


CUP.


Seli mengecup bibir Arman sekilas, bukannya Arman senang tapi malah kesal.


"Sayang kissnya yang lama gitu," kata Arman dengan kecewa.


"Ish, siang malam itu mulu tapi nggak bosan-bosan juga," gerutu Seli.


"Sayang, nggak ada kata bosan kalau untuk itu sama kamu," Arman mencolek dagu Seli.


"Kak Arman udah dong Seli nggak kuat," Seli merasa tidak beres dengan jantungnya setiap mendengar gombalan dari Arman.


"Kak Arman kok Seli di bawa kesini?" Seli bingung dan kesal.


"Kan kamu bilang nggak kuat yang," Kata Arman sambil membaringkan tubuh Seli.


"Apa hubungannya? Nggak kuat sama Seli yang di bawa ke ranjang begini?" tanya Seli bingung.


Polos bener bini gue, gue polosin beneran aja sekalian.


"Ada lah," Arman membuka jas dan kemejanya.


Seli melongo dan mulai mengerti arah pembicaraan Arman sedari tadi, Seli berniat turun tapi dengan cepat Arman menindih tubuh mungil sang istri.


"Mau kemana?" tanya Arman.


"Turun!" kesal Seli.


"Yang nanti ya, kita tuntasin dulu yang tertahan dari tadi," tutur Arman.

__ADS_1


"Kak."


Pengantin baru tiada hari tampa bercumbu, si jantan seolah selalu ingin dekat dengan betinanya tanpa jadwal maupun waktu, begitu juga dengan Arman. Arman sebenarnya ingin mengajak Seli honeymoon tapi tidak bisa sebab Ziva yang sedang hamil, jadi Vano tidak bisa terlalu fokus bekerja sebab Ziva kadang sering kali kontraksi, di tambah ia hamil anak kembar yang berjumlah empat membuatnya seringkali cepat lelah usia kandungannya masih muda namun ukuran kandungannya sudah besar.


Kembali pada Seli dan Arman, Seli rasanya sudah tidak sanggup untuk bangun, semalam ia juga tidak tidur dan siang ini juga badannya remuk karena ulah sang suami.


"Sayang," Arman merapikan rambut Seli yang berantakan karena ulahnya.


"Em," kata Seli tubuh mungilnya masih di dalam dekapan Arman.


"Tadi kamu bilang cinta sama Kakak, itu serius?" Arman tau Seli tak pernah mengatakan cinta namun ia penasaran saat tadi Seli berkata cinta di hadapan Yuli.


"Kak, nggak usah bahas itu," Seli menjadi malu sendiri, setelah ia sadar dengan apa yang tadi ia ucapkan.


"Sayang," Arman mengangkat dagu Seli karena wajah cantik sang istri bersembunyi di dada bidangnya, "Kakak mau dengar," Arman memandang manik mata sang istri penuh harap.


"Kak ngeliatnya jangan gitu, malu," Seli menutup mata agar manik matanya tak bertemu dengan manik mata Arman.


CUP.


Arman malah mengecup bibir sang istri, membuat Seli reflek membuka mata karena terkejut.


"Kok Kakak cium Seli?"


"Kan kamu tutup mata, bukannya orang tutup mata minta di itu," seloroh Arman.


"Sssst?" Tubuh Seli serasa meremang saat tangan Arman kembali menjalar di seluruh tubuhnya.


"Lagi?" tanya Arman.


"Nggak!" ketus Seli.


"Kakak cari siapa yang mau aja kalau gitu," Arman berpura-pura bangun.


"Jangan," Seli menarik tubuh Arman, dengan cepat namun anehnya seharusnya Arman jatuh kesamping tapi ini kenapa jatuhnya tepat di atas istrinya.


Arman tidak lagi menunda-nunda waktu, ia ingin mengejar target untuk memiliki bayi. Sebab ia sudah tertinggal jauh dari Vano yang akan memiliki lima bayi.


"Ah....Kak," Seli tidak mampu lagi menolak hasrat yang di tawarkan Arman, Semua seakan tercurahkan rasa cinta yang menggebu seakan menjadi satu melepas hasrat yang lama terpendam.


Satu tahun lamanya Arman mengejar cinta Seli dengan banyak rintangan yang menghadang, bahkan Arman sampai membayar mata-mata mencari tahu siapa orang yang di sukai Seli sampai akhirnya ia tau Seli menyukai seorang pria bernama Fahri, apa setelah Arman tau ia diam? Tentu saja tidak, Arman tak pernah jatuh cinta dan saat ada seorang gadis yang mampu membuatnya jatuh cinta maka apa pun akan ia lakukan demi cinta itu.

__ADS_1


Mungkin Arman pernah menyukai seorang wanita sewaktu memakai baju abu-abu, namun cinta yang Arman rasakan sama seperti seragam abu-abu yang ia pakai, cinta monyet yang hanya sekedar suka, tertarik pada seorang wanita, tapi masih abu-abu tak berwarna jelas dan kejelasan hingga akhirnya Arman yakin Seli adalah cinta pertama dan terakhir baginya.


__ADS_2