
Sudah dua hari berlalu dari kejadian Ziva yang meminta jambu pada Vano dan selama dua hari itu pula Ziva tidak pernah meminta apa pun pada Vano. Vano merasa aneh karena tingkah Ziva kembali dingin pada nya, tidak ada lagi Ziva yang manja. Semuanya Ziva kejakan sendiri apa yang ia inginkan ia cari sendiri bahkan bicarapun bila bukan Vano yang memulainya Ziva tidak akan bicara.
"Sayang mau ke mana?" tanya Vano karena ia melihat Ziva bangun dari ranjang padahal hari sudah sangat malam.
"Tadi aku minta mbok Yem beliin martabak Mas. Aku mau liat mungkin martabaknya sudah ada" kata Ziva yang sudah membuka pintu kamarnya.
"Ya sudah. Biar Mas temani" kata Vano yang langsung turun dari ranjang ingin menemani Ziva.
"Tidak usah Mas aku sendiri saja dan Mas istirahat saja" jawab Ziva santai dan ia mulai keluar dan menutup pintu. Meninggalkan Vano yang bingung karena Ziva sudah tidak melibatkannya lagi dalam apa pun yang Ziva lakukan. Dan entah mengapa Vano merasa takut dengan perubahan Ziva.
"Neng baru mau mbok pangilin" kata mbok Yem yang hendak memanggil Ziva tapi Ziva ternyata sudah berdiri di dekat meja makan.
"Martabaknya sudah ada mbok?" tanya Ziva.
"Ini Neng dan ini juga susunya. Tadi Neng Anggi yang menyiapkan dan sekarang dia sudah pulang di antar tuan Bilmar" jawab mbok Yem.
"Ya sudah aku makan dulu ya Mbok" kata Ziva.
Ziva menarik kursi dan mendudukan dirinya. Matanya menatap martabak yang sudah di siapkan mbok Yen di hadapannya. Tapi entah mengapa raut wajahnya yang bahagia berubah sedih. Entah mengapa ia ingin Vano yang menyuapinya. Tapi ia mulai mengambil satu potongan martabak itu dan ia menutup matanya ia membayangkan Vano yang menyuapinya. Baru satu gigitan yang ia makan ia kembali meletakan martabak itu ia merasa martabak itu sudah tidak enak. Tanpa Ziva ketahui tarnyata dari kejauhan Vano memperhatikan nya dari awal ia berbicara dengan mbok Yem sampai saat ini. Vano mulai berjalan mendekati Ziva dan ia berdiri di samping Ziva.
"Kamu kenapa?" tanya Vano.
"Aku nggak papa Mas" jawab Ziva sambil mengusap air matanya dengan kasar. Ia bangun dari kursinya tanpa melanjutkan makan martabak itu bahkan susu hamil yang di buatkan Anggia pun masih belum ya deguk satu tetes pun.
"Aku tidak boleh hidup bergantung lagi padanya. Aku harus bisa kembali menjadi diri ku. Aku bukan wanita cengeng"
Ziva terus berjalan menaiki tangga sampai akhirnya ia masuk ke kamar. Ia tidak perduli pada Vano yang masih bingung berdiri di dekat meja makan. Vano kini sudah membaringkan tubuhnya di samping tubuh Ziva yang terlelap ia menarik Ziva kedalam pelukannya dan ia mendengar perut Ziva yang berbunyi sepertinya minta di isi. Tapi Ziva begitu lelap dalam tidurnya dan rasa lapar itu ia bawa tidur.
Pagi harinya Vano terbangun dan ia mulai mencari Ziva tapi ia tidak melihat Ziva di sampingnya. Ini sudah hari ketiga ia tidak bercanda dengan Ziva biasanya bila Ziva yang duluan bangun maka ia akan merasakan kejailan Ziva yang mengganggunya selama ia belum bangun begitu pun sebaliknya. Vano bangun dengan malas dan mulai memasuki kamar mandi ia mulai melakukan ritual padi nya.
***
"Sayang kau dari mana?" tanya Vano saat ia melihat Ziva menenteng kantung pelastik.
"Dari rumah Nisa Mas tetangga sebelah. Tadi aku ke sana mau manjat jambu. Tapi untung ada Kak Danu kakak nya Nisa yang panjatin" jawab Ziva.
__ADS_1
Deeg!.
Hati Vano mendadak sakit mendengar ucapan Ziva. Bahkan yang memanjat jambu itu orang lain, tangan mulai terkepal karena ia sama sekali sudah tidak di harapkan oleh Ziva.
"Aku ke belakang dulu Mas" kata Ziva berlalu dari hadapan Vano sambil membawa jambu di tangannya.
"Anggi" teriak Ziva.
"Iya Nyonya muda" jawab Anggia.
"Bawa garam sama pisau ya terus ember yang di isi air buat cuci jambu ini. Aku tunggu di gazebo" kata Ziva.
"Iya Nyonya" jawab Anggi yang langsung mengerjakan perintah Ziva.
Kini kedua nya sudah duduk di gazebo. Vano hanya berdiri di kejauhan memperhatikan tingkah Ziva yang sudah sangat mandiri. Anggia mulai mencuci buah jambu dengan sangat bersih.
"Nyonya biar saya saja yang potong" kata Anggia.
"Tidak apa aku saja" jawab Ziva.
"Baik lah hati-hati" kata Anggia.
"Nyonya tangan anda berdarah saya ambil kotak obat sebentar" kata Anggia yang merasa panik.
"Sayang tangan mu kenapa?" tanya Vano.
"Aku tidak apa" jawab Ziva cuek.
"Sini nyonya saya obati" kata Anggia yang sudah membawa kotak obat.
"Biar saya saja" kata Vano.
"Aku sendiri saja" jawab Ziva ia mulai mengobati dan memasang perban di jarinya di bantu Anggia.
"Ayo Ngi. Kita lanjutkan lagi kau kupas dan potong jambunya" kata Ziva memerintah Anggia tanpa menghiraukan Vano di hadapannya.
__ADS_1
"Ia Nyonya" jawab Anggia sambil kembali melanjutkan apa yang di perintahkan Ziva.
Ziva mulai mengambil potongan jambu yang sudah di siapkan Anggia. Tidak lupa dengan garamnya dan ia langsung memakannya.
"Kenapa tidak seenak yang aku bayangkan" guman Ziva.
"Aku ingin Mas Vano yang mengambilnya bukan orang lain"
Burrrr!.
Ziva melepar semua jambu yang ia bawa dan piring yang berisi garam di hadapannya. Entah mengapa ia tidak bisa menahan emosi.
"Ini tidak enak!!" teriak Ziva.
"Sayang kau kenapa?" tanya Vano panik.
"Aku tidak apa!!" teriak Ziva.
Anggia mulai mengerti dengan situasi yang terjadi pada majikannya ia pergi meninggalkan dua orang itu. Tanpa berbicara sepatah kata pun. Begitu juga dengan Ziva ia pergi berlari sekencang nya menaiki rangga dan meninggalkan Vano yang memanggilnya.
"Ziva berhenti jangan berlari" teriak Vano dengan rasa takutnya.
"Ziva!" teriak Vano tanpa berhenti karena ia sangat takut.
Brak!.
Ziva menutup pintu dengan membatingnya. Setelah ia masuk kedalam kamar.
"Aku bukan wanita lemah dan aku bukan wanita yang bergantung pada orang lain. Tidak ada tempat aku bersandar dan bermanja. Kenapa aku melupakan itu" gumam Ziva dengan tubuh nya yang di penuhi keringat dingin.
Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Pandangannya berkunang-kunang dan perlahan semua menjadi gelap. Ia terus berusaha menyadarkan dirinya namun rasanya kepalanya bertambah berat dan ia tergeletak di lantai tidak sadarkan diri.
Clek!.
Vano membuka pintu dan ia melihat Ziva yang sudah tergeletak di lantai tidak sadarkan diri. Dengan cepat Vano mengangkat tubuh Ziva ke ranjang dan ia berteriak memanggil Anggia agar segera memeriksa Ziva.
__ADS_1
......................
Bagi para readers yang ingin tau cerita antara Bilmar dan Anggia sudah bisa klik profil author ya "Dokter Canti Milik Ceo" tapi author ingatkan sebaiknya siapkan tisu✌sebelum mulai membaca.