Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 171


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


"Sayang....."


Vano mengacak rambut dengan kesal karena Ziva kini benar-benar sibuk mengurus baby A,B,C dan D. Di tambah lagi Zie kini sangat cemburu bahkan kini Zie sudah tidak mau lagi pergi berlama-lama dengan Ratih.


"Mas kenapa?" tanya Ziva yang sedang memberi asi pada baby A, namun Zie rebahan juga di sana menjadikan kaki sang Bunda bantal. Dengan memainkan boneka baru yang di belikan oleh Sinta.


"Yang giliran Mas kapan?" tanya Vano lagi dengan wajah seperti anak kecil yang tak mendapat mainan.


"Mas apa sih.....ada Zie juga...." Ziva mengelus kepala Zie dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelah lagi memelik baby A.


"Kamu nggak kasihan sama Mas yang, Mas udah dua bulan puasa yang," kata Vano menarik hidung Zie yang sedang asik bermain, namun dengan cepat Zie bangun karena kesal pada sang Ayah. Sudah berani mengusik ketenangannya.


"Ayah.....takit," teriak Zie di tambah dengan air liur yang keluar mengenai wajah sang Ayah.


"Sakit Zie, bukan takit," jawab Vano tak mau kalah, Vano juga mengelap wajahnya menggunakan baju sang putri.


"Tangan Ayah," Zie berusaha menjauh, sebab tidak suka sang Ayah menjadikan baju kesayangannya sebagai lap wajah.


"Kenapa?" kesal Vano.


"Zie awu patalan," jawab Zie sambil berkacak pinggang.


Vano dan Ziva saling pandang mendengar jawaban sang putri sang terdengar konyol, kedua orang tuanya hanya bisa menggeleng mendengar jawaban Zie.


"Bicara aja nggak jelas sok mau pacaran," seloroh Vano sambil menjitak Zie dengan pelan.


"Mas apa sih, Zie kan masih anak-anak," Ziva tak habis pikir dengan kedua orang yang di cintainya itu, keduanya terus saja berdebat tidak jelas bahkan Ziva kadang merasa pusing tak pernah ada kata akur antara anak dan Ayah itu. Namun kini Zie tak bisa tidur bila tak di peluk Vano, sungguh sangat aneh sekali.


"Iya yang, Zie memang masih anak-anak, tapi pikirannya ini udah dewasa banget," kata Vano lagi-lagi menarik hidung Zie, dengan cepat Zie mencubit tangan Vano dan mengelus hidungnya.


"Mas....." Ziva lagi-lagi tak tau harus berkata apa.


"Sama saja, kamu juga dulu begitu," kata Sinta yang tiba-tiba masuk dan mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Mama apasih," kesal Vano.


"Kamu juga dari kecil udah tau cewek, wajarlah anak kamu juga begitu kan ketularan kamu," kata Sinta mulai menggendong cucu ke sayangannya Zie.

__ADS_1


"Udah ah Ma, apaan bawa-bawa Vano," Vano tak pernah terima bila bercerita tentang masa lalunya yang sangat konyol.


"Memangnya Zie udah punya pacar?" tanya Sinta dengan konyol berniat ingin menggoda Vano.


"Udah Omaaaaaa....." jawab Zie dengan menunjukan gigi ompongnya.


"Siapa?" tanya Sinta lagi.


"Om Filman," jawab Zie dengan polos.


"Zie....!" Vano sangat kesal, karena ulah Bilmar kini Zie terus saja menyebut nama Firman. Padahal bocah kecil itu belum tau sedikit pun mengenai pacaran, namun karena otak cerdas sang Ayah tampanya ia warisi dan kini Zie sangat mudah mengingat apa saja yang di ajarkan padanya.


"Vano.....berani kamu bentak cucu Mama!" Sinta sangat tidak suka Zie di bentak oleh siapa pun, kalau ada yang berani maka akan berhadapan dengan Sinta.


"Woooooeeee," Zie menjulurkan lidah mengejek sang Ayah, karena ia di bela oleh sang Oma. Setelah itu Sinta membawa Zie keluar dari kamar baby A,B,C dan D.


"Mas apasih Zie aja di jadiin lawan," Ziva tak tau lagi bagaimana caranya membuat Vano dan Zie sehari saja untuk akur.


"Yang abis kasih asi baby Al, giliran Mas ya," kata Vano.


"Mas nggak liat, itu tiga lagi ngantri," Ziva menunjukan tiga box bayi berisi bayi-bayi kembar mereka.


"Giliran Mas kapan yang?" kesal Vano.


"Iya sih."


"Terus apa lagi?"


"Terus Mas kapan," Vano mengacak rambutnya dengan kesal, puasa dua bulan sungguh sangat menyiksa.


"Sabar........" Ziva mengacak rambut suaminya dan tersenyum, "Kalau Mas sabar, semua cepat terselesaikan," Ziva menaik turunkan dua alis matanya.


"Beneran ya yang," tanya Vano penuh harap.


"Iya...."


"Halo....." Seli datang bersama Arman tanpa permisi langsung saja Seli mengambil babyi B dari boxnya.


"Sel kamu lagi hamil loh....jangan terlalu sering gendong gitu, kasian itu tertindih kan perutnya," kata Ziva mengingatkan.

__ADS_1


"Ya lagian, bikin dong paan anak gw mulu," seloroh Vano.


"Heh.....ngomong hati-hati, kita juga udah buat lagi di perut itu, entar lahir itu gw buat lagi," jawab Arman asal.


"Kak......" Seli menatap kesal pada suaminya.


"Apa lu liat-liat gw," kesal Vano karena Arman menatap tak suka padanya.


"Berbuka woy.....biar ada kesabaran, haus minum!" jawab Arman tak kalah kesal, lalu ia keluar bersama Seli dan tidak lupa membawa bayi B, yang masih di gendong Seli.


"Woy, anak gw balikin," kata Vano.


"Pinjem woy," jawab Arman sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamar itu.


"Mas, apa sih......kenapa coba, uring-uringan nggak jelas, tadi Mas ngajak ribut Zie, abis itu Mama, sekarang Arman?" tanya Ziva.


"Kamu bodoh banget sih yang," kesal Vano, jelas-jelas Ziva tau kalau kini ia menginginkan istrinya tapi masih saja Ziva bertanya.


"Mas bilang Ziva bodoh?" tanya Ziva dengan serius.


"Nggak yang, maaf," jawab Vano dengan perasaan takut. Takut jika Ziva marah dan malah tak memberinya apa yang kini ia sangat inginkan.


"Terus?" tanya Ziva sambil, meletakan baby A dan kemudian mengambil baby C.


"Yang, masih lama nggak," Vano hanya bisa mendeguk saliva melihat baby C yang sedang minum asi dengan lahap.


"Mas, minum kopi dulu deh, biar seger terus pikiran Mas jadi tenang," kata Ziva memberikan ide.


"Emang kamu pikir Mas gila, nggak tenang gitu?" tanya Vano yang tak pernah merasa senang dengan semua pertanyaan yang di lontarkan padanya.


Ziva tak lagi menjawab, ia kini hanya fokus memberi asi pada bayi-bayinya, Vano saat ini tak butuh nasehat tapi obat. Dan obat itu sangat langka sekali hanya Ziva yang bisa memberikannya. Ziva meletakan babyi D, dan turun dari ranjang.


"Yuk," Ziva menarik lengan Vano menuju kamar, "Biar nggak uring-uringan," kata Ziva sambil menarik tangan Vano.


"Serius yang?" tanya Vano dengan rasa bahagia.


"Mau nggak?" tanya Ziva.


"Hehehehe.....mau dong," Vano mendekatkat wajahnya pada sang istri, tapi Ziva menolak.

__ADS_1


"Mas. Ini bukan di kamar kita, ini di kamar kembar," Kata Ziva yang kini mereka masih di depan kamar.


"Oh iya," dengan cepat Vano mengangkat Ziva dan membawanya ke kamar, "Akhirnya buka puasa, jangan lupa baca niat yang," kata Vano dengan semangat.


__ADS_2