Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 68


__ADS_3

Vano yang sudah terbangun dari tidur siangnya terlebih dahulu mulai menyamping dan melihat istri kecil nya sedang tertidur dengan lelap memeluk pinggangnya. Vano memainkan jari-jemarinya di wajah Ziva. Ia mulai mengamati mata indah Ziva saat terlelap terlihat begitu tenang. Lau tangan nya memegang hidung Ziva dan sesekali mengecupnya dengan sangat hati-hati.


Kemudian tangan Vano turun pada bibir Ziva yang selalu berhasil menggodanya. Ia kembali mengingat saat percintaan mereka tiga jam yang lalu. Ia sungguh tidak menyangka istri mungil nya itu bisa sesexy itu. Di tambah saat Ziva sedang berada di atasnya sambil menggit bibir bawahnya. Tanpa sadar milik nya mulai mengeras mengingat bertapa indahnya goyangan erotis Ziva tadi.


"Sayang bangun yuk" Vano mulai membangunkan Ziva.


"Mass" kata Ziva dengan manja dan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Vano. Karena ia belum ingin bangun.


"Sayang bangun hari dah sore. Kita pulang aja ya kasihan si kembar" kata Vano.


Karena mereka adalah orang tua pengganti bagi Daffa dan Daffi yang masih membutuhkan perhatian mereka. Vano tidak mau larut dengan kebahagian nya dengan Ziva. Sementara dua anak yatim itu juga masih sangat membutuhkan kasih sayang mereka. Dan Vano merasa setelah ia menikahi Ziva tanggung jawab kedua adik kembar itu juga menjadi tanggung jawabnya.


"Uaammm" Ziva duduk dan merentangkan tangannya untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Sayang yang tadi Mas suka" kata Vano tersenyum menggoda Ziva.


"Mas" Ziva setengah berteriak.


Ia menundukan kepala dan menutupi wajah nya dengan selimut. Ia mulai mengingat bertapa ganas nya tadi ia saat bermain dengan Vano jujur saja beberapa hari tidak melakukan hubungan suami istri itu Ziva juga merasa sedikit ada yang kurang karena Ziva sudah mulai terbiasa dengan itu setelah ia menikah dengan Vano


"Sayang kenapa harus malu. Mas suka sama goyangan kamu" kata Vano yang mulai memeluk tubuh polos nya dari belakang.


"Ulang lagi juga Mas mau" kata Vano sambil menarik selimut yang menutupi wajah Ziva.


"Mas!!" teriak Ziva dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Apa sayang" kata Vano sambil menarik tubuh mungil Ziva ke dalam pelukannya.


"Malu" kata Ziva dengan manja.


Ziva juga memeluk tubuh Vano dari samping. Kedua nya masih tidak menggunakan sehelai benang pun pada tubuh keduannya. Ziva menenggelamkan wajahnya di dada bidang Vano tangan nya melingkar di leher Vano. Sementara Vano tidur sambil menyamping dan sebelah tanganya yang ia jadikan penopang kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa harus malu Yang. Mas beneran suka sama goyangan hot kamu tadi. Mas baru tau ternyata istri Mas se hot itu" kata Vano sambil tangannya memegang tengkuk Ziva dan bibirnya mencium dahi Ziva.


"Mas lupain. Malu" kata Ziva lagi.


"Yang mandi yuk. Kita ulangi yang tadi di kamar mandi" kata Vano ia tidak mendengar persetujuan Ziva. Ia langsung mengangkat tubuh Ziva ke dalam kamar mandi keduanya mulai melakukan ritual mandinya.


Setelah selama tiga puluh menit mereka mandi kini keduanya sudah berpakaian dengan rapi dan wangi. Keduanya hanya mandi saja tidak melakukan apa-apa karena Vano tidak mau terlalu membuat Ziva lelah ia takut terjadi sesuatu pada istri dan anak nya. Padahal menurut anjuran dokter mereka belum boleh melakukan itu.


Tapi tadi Vano sudah tidak bisa lagi menahannya. Di tambah dengan gaya baru yang Ziva berikan tadi sungguh itu pertama kalinya. Vano ingin terus mengulangi lagi namun kini ia sudah sedikit meninggalkan sipat egoisnya. Ia takut kalau terjadi sesuatu pada Ziva. Sinta pasti akan memarahinya habis-habisan lagi, di tambah lagi ia tidak akan di izinkan Sinta bertemu Ziva. Itu adalah hal yang sangat menakutkan untuk Vano.


"Sayang turun yuk" kata Vano.


"Ayok" Ziva mendekat pada Vano dan keduanya berjalan beriringan.


"Kamu wangi sekali Yang" kata Vano yang sesekali mencium pucuk kepala Ziva.


Kedua nya mulai menuruni tangga dan Vano memegang Ziva dengan sangat erat. Ia takut kalau Ziva terpeleset. Sebenarnya di rumah besar itu juga menggunakan lift tapi Vano lebih suka menuruni tangga menurutnya itu bisa sambil berolah raga. Dan kini keduanya sudah sampai di lantai dasar yang langsung berada di ruang keluarga terlihat Anggia dan Sinta juga berada di sana. Keduanya duduk di sofa sambil menyeruput teh buatan Anggia.


"Sayang" kata Sinta langsung merentangkan tangannya untuk memeluk Ziva. Ziva mengerti dengan kemauan Sinta ia memeluk tubuh Sinta sambil duduk di samping Sinta.


"Kamu mau kemana? sudah rapi begini" tanya Sinta sambil mengelus kepala Ziva yang masih di pelukannya.


"Ziva mau pulang Ma" kata Ziva mulai melepas pelukannya.


"Pulang?" tanya Sinta karena ia tidak ingin Ziva pulang.


"Ya Ma kami kan punya tanggung jawab sikembar. Jadi kami tidak boleh meninggalkannya terlalu lama di rumah bersama Art Ma. Kasian mereka" kata Vano yang sudah duduk berhadapan dengan ketiga wanita itu.


"O" kata Sinta ia juga membenarkan ucapan Vano.


"Apa mereka sudah pulang Ma?" tanya Ziva karena sejak tadi pagi Daffa dan Daffi pergi dengan Ratih.

__ADS_1


"Belum Nak. Kata Mami sore Mami yang antar. Soalnya mereka sedang ada acara di sana dan di sana itu banyak keponakan Mami Ratih seumuran Daffi dan Daffa pasti mereka betah" kata Sinta tersenyum pada Ziva.


"O" jawab Ziva mengangguk mengerti.


"Ya sudah kami pulang ya Ma" kata Vano berpamitan pada Sinta.


"Ziva juga pamit ya Ma" kata Ziva sambil mencium punggung tangan Sinta.


"Ya sayang" kata Sinta ia mencium dahi Ziva.


"Dokter Anggia mau pulang sama kita atau sama sopir?" tanya Ziva. Karena Dokter Anggia kemana Ziva pergi ia juga harus ikut.


"Ehem. Biar aku saja yang mengantar" kata Bilmar yang entah dari mana tiba-tiba sudah muncul di antara ke empat orang itu.


Vano berjalan mendekati Bilmar dan ia merangkul leher Bilmar dan berbicara pelan.


"Pepet terus bro" kata Vano.


"Siap" jawab Bilmar mengacukan jempolnya pada Vano.


"Sayang yuk" Vano meraih tangan Ziva dan keduanya keluar lalu memasuki mobil milik Vano dan Vano mengemudi dengan kecepatan sedang karena ia harus hati-hati.


"Ma Bilmar antar Anggi dulu ya" kata Bilmar berpamitan pada Sinta.


"Ya hati-hati" kata Sinta.


"Em. Tidak usah tuan saya tidak mau merepotkan anda. Saya naik taxi saja" kata Anggia menolak halus Bilmar.


"Tidak ada penolakan" kata Sinta sambil menarik Anggia masuk ke dalam mobil mewah milik Bilmar.


"Tapi nyonya" kata Anggia.

__ADS_1


"Masuk" kata Sinta dan Sinta mulai menutup pintu setelah Anggia masuk.


__ADS_2